June 27, 2011

June 26th, 2011: Indonesia Got No Title

Tanggal 26 Juni 2011, aku dan Inas pergi menonton final Indonesia Open.

Sebelumnya, aku dan Inas berencana untuk bergi berempat bersama Mitha dan Nadiya. Sayangnya, Nadiya yang baru pulang dari Thailand tidak bisa ikut karena kelelahan, sementara Mitha merasa pusing.

Aku dan Inas sampai di Istora jam 10 lebih sedikit. Kami mengantre panjang menghadap pintu VIP, menunggu pintu dibuka. Aku terus memikirkan kata 'untunglah'. Untunglah aku tidak memakai kerudung hitam (kalau aku memakai kerudung hitam bakal sepanas apa, coba?). Untunglah dulu waktu di Labschool sering panas-panasan (dimulai dari SAKSI, Rekrutmen OSIS, Invita, banyak deh. Hari biasa di Labschool aja panasnya nauzubillah).

Beberapa saat sebelum pintu pembelian tiket VIP dibuka, ada orang yang berteriak, "Untuk yang sudah membeli online di sebelah kanan! Di sebelah kanan!!" Padahal ada papan di sebelah kiri yang menunjukkan tulisan 'Penukaran tiket online'. Jadilah orang-orang di sebelah kiri segera beralih ke kanan. Itu masa-masa paling tidak enak. Serasa ada di tengah kereta penuh sesak. Sempit, dan dorong-dorongan.

Ketika barisan sudah (agak) rapi (yang sebelah kanan penukaran tiket online, dan yang sebelah kiri yang ingin membeli cash), aku sadar. Di depanku ada 3 orang, dan barulah Inas. Yang kupikirkan saat itu adalah, 'Aduh, Nas, lo jauh bener..'

Jam 11, pintu pembelian tiket VIP dibuka. Orang-orang berdesak-desakan masuk, tapi agak dibatasi. Aku dan Inas masih agak jauh dari pintu itu ketika tiba-tiba ada satu orang dari rajakarcis.com memberitahu, "Tiket VIP cash habis! Daripada gak jelas ngantre VIP yang cash di sini, mending beli yang kelas 1! Iya! Banyak yang beli online, jadinya yang cash habis!"

What the hell.

Aku dan Inas langsung menggerutu dan berjalan ke kelas 1 dengan muka siap bertempur. Pasti antrean panjang lagi. Dan terbuktilah. Antrean supa dupa panjang menanti kami.




Aku dan Inas mengobrol dengan orang-orang yang ikut mengantre di depan dan belakang kami. Di belakang kami, ada 2 orang Jawa. Logatnya khas sekali. Katanya mereka dari Blitar. Saat berbicara dengan mereka barulah aku sadar. Mereka orang yang tadi juga ngantre VIP.

Mereka cerita kalau di sepanjang tahun 2010 mereka menabung agar bisa menonton final Indonesia Open 2011 ini. Mereka jauh-jauh dari Jawa Timur ke Jakarta naik kereta ekonomi yang bau rokok demi menonton Indonesia Open! Bayangkan! Hebat sekali, kan, antusiasme rakyat Indonesia akan bulutangkis? Aku benar-benar berharap para atlet bulutangkis Indonesia bisa mendapatkan kejayaannya kembali. Jujur saja, aku terharu mendengar 2 orang itu (seorang bapak dan seorang anak perempuan) bercerita tentang seberapa inginnya mereka menonton Indonesia Open. Oh iya, muka anak perempuannya muka Jawa banget loh. Agak mirip.. hm... Adriyanti Firdasari. Gak bohong! Beneran!

Kami berempat sedang mengobrol sambil mengeluhkan asap rokok yang berseliweran di sekitar kami saat tiba-tiba ada orang berteriak, "Tiket Kelas 1 habis!! Sisanya tinggal yang kelas 2!! Sekarang semua antrean untuk kelas 2!"

Haduh ya Allah. Tadinya mau VIP malah jadi kelas 2. Takdir memang. Untung kami berempat masih dapet tiket kelas 2-nya. Tadinya, kalau aku dan Inas dapat tiket tapi si bapak dan anaknya tidak dapat tiket, aku dan Inas berencana memberikan tiket ke bapak dan anak itu. Aku dan Inas bisa dengan mudah menonton Indonesia Open atau pertandingan-pertandingan lain, tapi tidak untuk mereka, kan? Lagipula aku dan Inas masih bisa nobar dan berkeliling-keliling Istora.

Aku dan Inas baru mendapatkan tiketnya sekitar pukul 1 siang.

Setelah sholat, aku dan Inas masuk ke dalam stadion istora dan duduk di kelas 2. Kami terpisah dari si bapak dan anak.

Di dalam stadion, aku dan Inas duduk di kursi kelas 2 sambil melihat kursi VIP yang banyak kosong, dan kursi kelas 1 yang juga banyak kosong. Calo banyak membeli tiket. Mereka menjual VIP yang harga aslinya 200.000 menjadi 550.000-600.000 (sampe gondrong gue juga ga mau beli. Eh, gue kan cewek, emang gondrong), dan mereka menjual kelas 1 yang seharga 100.000 menjadi 200.000-300.000. Pengen sih menjalankan aksi lidah pedas seperti tahun lalu, tapi nanti calo-nya ngambek. Tahun lalu kan mereka ngambek sama gue. Ngomongin gue di belakang. Lagian siapa suruh jadi calo, ngerugiin orang aja, sih!



Pertandingan pertama adalah Men's Doubles.
Cai Yun/Fu Haifeng  vs  Chai Biao/Guo Zhendong .
Pasangan Cai Yun/Fu Haifeng menang 21-13 21-12. Dan aku mendukung Cai Yun/Fu Haifeng ketika itu. Alasan pertama, karena menurutku permainan mereka sangaat keren. Alasan kedua, karena mereka memakai baju ungu saat pertandingan (abaikan). 



Pertandingan kedua adalah Women's Single.
Wang Yihan  vs Saina Nehwal .
Di pertandingan ini, terjadi perbedaan antara aku dan supporter lain. Aku mendukung Wang Yihan, sementara yang lain mendukung Saina Nehwal.
Jelas saja kalau para supporter mendukung Saina Nehwal. Pertama, berkat si Briptu Norman yang membawa nama India kembali ke permukaan. Kedua, Saina Nehwal tahun lalu menang, sehingga orang-orang mulai mengenal kehebatannya. Ketiga, karena orang bosan kalau China menang terus.
Tapi bagaimanapun, menurutku Wang Yihan lebih hebat.
Dan kemudian Wang Yihan menang dengan 12-21 23-21 21-14. 



Pertandingan ketiga adalah Men's Single.
Lee Chong Wei  vs Peter Hoeg Gade .
Di pertandingan ini, kembali terjadi perbedaan pendapat antara aku, dan sebagian besar supporter Indonesia. Aku mendukung Lee Chong Wei, sementara orang-orang kebanyakan mendukung Peter Gade.
Sampai-sampai masyarakat Indonesia yang di dalam stadion membuat yel-yel untuk Denmark, yaitu, 'DENMARK *dududum* DENMARK *dududum*'
Ada beberapa alasan mengapa kebanyakan orang memilih untuk mendukung Peter Gade. Pertama, Karena Lee Chong Wei sudah menang berkali-kali beberapa tahun terakhir. Kedua, mungkin karena perseteruan antara Indonesia Malaysia akhir-akhir ini.
Tapi sekali lagi, TETAP SAJA LEE CHONG WEI HEBAT!!! YEAA! GO, LEE CHONG WEI!
Dan akhirnya Lee Chong Wei memenangkan pertandingan dengan 21-11 21-7 


Pertandingan keempat adalah Women's Doubles.
Wang Xiaoli/Yu Yang  vs Vita Marissa/Nadya Melati .
Pembukaan yang sangat heboh sebelum kedua ganda putri itu bermain. Penonton di stadion membuat gelombang atau Human Wave, lalu meneriakkan yel-yel seperti biasa 'IN DO NE SIA *dudum dudum dum* IN DO NE SIA *dudum dudum dum*'
Ketika ganda putri China masuk ke lapangan, penonton memberikan kata 'HOOOOOO!!!!' pada mereka and I think that's kinda impolite. Lalu ketika ganda putri berada di tirai lapangan, lampu tiba-tiba mati dan spotlight tertuju ke arah si duo Indonesia!! Tulisan nama Vita Marissa/Nadya Melati berwarna hijau berjalan di dinding menunjukkan bahwa pemain kesayangan Indonesia akan tampil in a second!
Sayangnya, Pemain Indonesia ini kalah. Error yang banyak dilakukan oleh pemain ganda putri Indonesia ini, membuat mereka kehilangan peluang mendapatkan medali emas di final Indonesia Open 2011 ini.
Aku agak kesal di sini. Penonton di belakangku terus-terusan berkata, "Tuh kan, yang kecil (Nadya Melati) lagi yang salah. China tau dia yang banyak menunjukkan kelemahan, jadi dia diserang terus." SO WHAT GITU LOH, PAK! NADYA MELATI, KAN SUDAH BERUSAHA! Di dalam pertandingan, ada yang menang dan ada saatnya ketika orang harus merasakan kekalahan. Tetap dukung Indonesia. Semangat!
China wins again. 21-12 21-10 for Wang Xiaoli and Yu Yang. 



Pertandingan kelima which is pertandingan terakhir adalah Mixed Doubles.
Zhang Nan/Zhao Yunlei  vs Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir .
And Zhang Nan is so damn handsome if you see his face directly!! (sebelum keluar keringet tentunya).
Pembukaan heboh yang sama, dilakukan untuk pemain ganda campuran Indonesia urutan ke-2 dunia ini. Pemain ganda campuran ini berada di atas angin saat set 1 berlangsung. Dengan mudahnya Owi/Butet menyerang tim China sampai China tertinggal 9-1. Indonesia memenangkan set pertama, tapi tidak untuk set 2, sehingga terjadi rubber set. Di set 3 ini, Indonesia banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang sepertinya dikarenakan kehilangan fokus. Penyakit yang biasanya terjadi pada pemain Indonesia adalah, kalah satu set lalu down di set berikutnya. Atau biasanya gara-gara hakim garis. Beda keputusan, then, down.
Dan pada pertandingan kali ini Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir terpaksa bertekuk lutut pada Zhang Nan/Zhao Yunlei dengan 20-22 21-14 21-9. Another gold for China. Menurutku permainan Butet/Owi sudah bagus, tapi memang mental itu juga penting. Kalau mental juara masih sering bergoyang, bisa runtuh.



Aku dan Inas pulang sekitar pukul 7, sayangnya kami tidak mendapatkan kesempatan berfoto bersama atlet-atlet bulutangkis (karena memang tidak diberi kesempatan!). Padahal aku pengen banget huhu :'

Winners:



Runner Ups:






photos from: google

June 23, 2011

June 21st, 2011

Tanggal 21 Juni 2011, aku, Mitha, Inas, Mas Budi (supir Inas), dan Idan (adik Inas) pergi nonton Indonesia Open Premiere Super Series.


Ketika masuk ke arena istora, kami seperti anak kampung masuk istana. celingak-celinguk, muter-muter memperhatikan keadaan sekeliling (kalau disuruh jujur, sepertinya yang seperti itu cuma aku), dan foto-foto (kalau foto-foto semuanya ya. Ho.).


Kami foto bersama dinding bergambar atlet-atlet yang telah banyak menuai prestasi. Itu semua karena pelarian. Kami semua sadar 100% bahwa adalah hal yang sulit untuk dapat berfoto bersama atlet-atlet Indonesia (makanya aku iri seratus dua puluh lima persen sama Kak Stephanie Zen yang bisa foto bareng atlet-atlet (baca: ATLET-ATLET! Bukan cuma 1 atlet!) bulu tangkis luar dan dalam Indonesia. Uuuh).

 

Kami beli tiket VIP. Kenapa belinya tiket VIP? 1. Murah. 2. Lapangannya dipakai semua. Jadi lebih enak menonton dari sudut pandang bangku VIP. 3. Banyak pemain yang sering duduk-duduk di kursi VIP. 4. Murah. 5. Murah.


Pemain-pemain Indonesia yang terkenal, yang tampil (sepanjang pertandingan yang kutonton) adalah Ana Rovita, Adrianti Firdasari, dan Sony Dwi Kuncoro. Sisanya pemain-pemain baru. Banyak loh pemain-pemain baru yang bagus. Apalagi yang ganda putri. Banyak banget yang lolos babak penyisihan.

Terus ya, pas aku duduk di VIP, ada Ririn Amelia juga. Dia pemain ganda putri baru yang menurutku hebat. Potongan rambutnya pendek. Kalau ganda putri dengan potongan rambut pendek, aku jadi ingat Vita Marissa.
Back to Ririn Amelia.
Aku waktu itu mau foto bareng dia, tapi gak jadi gara-gara..... maloe. Aaahahahaha :""""""D sekarang nyesel. Wkwk.


Fyi, Lin Dan has beaten today! OMG. When I heard that news, I'm like, 'Dear Lin Dan, What has happened to you?!?! I want to see you and Taufik Hidayat play the match together on the final!'

Harapanku, ada perwakilan Indonesia dari tiap-tiap kategori di final nanti. Terus, nanti semuanya menang! Amiin!! :))

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'