July 9, 2012

Durra, The Agent of Change! :D

Hai.

Masih inget School of Volunteers?
Tidak disangka-sangka, aku masuk final. Semua berkat vote kalian! Terima kasih, ya :)
Tapi sayang sekali, Durra belum bisa menjadi juaranya. Tapi tidak masalah, juara atau tidak juara kan hanya masalah dana, ya, nggak? Aku yakin kalau mau diwujudkan sebenarnya bisa saja, tinggal cari sponsor dan sukarelawan (which is not that easy, but...okelah. no problemo~).

Final dari SoV 2012 dilaksanakan di Bandung, tanggal 5 s.d 7 Juli 2012, nama acaranya adalah Volunteering Camp.

Awalnya aku ngerasa gimanaa, gitu. Tanggal 4 Juli kemarin aku berpikir, "Ah, padahal aku mau liburan.... tapi jadi harus menguras pikiran di kala liburan."

Tapi pikiran tersebut SALAH BESAR.

Seneng banget rasanya VolCamp! Ketemu teman-teman super seru nan asyik. Ketemu kakak-kakak senior yang rasanya kayak sebaya, super gaul nan menarik. Yah, pokoknya segalanya super! Super amazing!




Tanggal 5 Juli 2012.



Aku, Sasa, dan Luthfi kumpul di Masjid Al Hidayah, Pondok Bambu. Kurang lebih jam 7 kurang 15 menit, kami sampai di sana. Hebat banget. Berangkat dari rumahku lebih lama dibanding rencana, sampai di lokasi lebih cepat dari rencana.

Di sana aku kenalan sama Maul-Aca-Mika dari Khalifah Crew yang datang beberapa menit setelah timku. Kemudian datang kakak panitia (Kak Caya dan Kak Ellen), dan tim dari Yogya, Zes Zorgen, Tania-Sely (minus David). Beberapa menit setelahnya lagi, datang Izmi-Uyuun-Widy dari SMAN 12 MKS.

Sekitar jam 9 atau 10-an, bis akhirnya datang. Kami naik dan mulai berangkat ke Bandung. Entah kenapa, di jalan, bis mampir ke rest area terus. Awalnya kupikir memang mau ishoma Zuhur. Tapi, kok...jam 13 atau 14-an istirahat lagi? Ternyata bis mogok! Oalah. Mimpi apa aku semalam, kok, hari itu apes..
Saking lamanya mogok dsb dst, aku sama teman-temanku malah ngeramal-ramal jam berapa kira-kira sampai Bandung.

Akhirnya, setelah menunggu berjam-jam, penantian itu berakhir. Bis datang dengan gagahnya. Yes!
Panitia merasa bersalah banget di sini... Aku tahu rasanya pasti gemes-nyebelin-kesel-huah-hiks-hiks di saat bersamaan. Yah, kesalahan teknis apa mau dikata.

Tebak apa? Kami sampai di lokasi: Patuha Resort, kira-kira jam 10 malam!! Woah! Ini ke Bandung apa ke Surabaya.... Yasudahlahya.




Tanggal 6 Juli 2012.
Hari ini fund raising. Hari ini fund Raising. Hari ini fund raising!!!
Deg-degan banget... bakal dapet uang, gak, yah? Moga-moga dapat deh.

Hari ini diawali dengan sarapan, dilanjutkan dengan materi dari Kak Nana. Selesai materi, kami langsung pergi ke panti asuhan dengan bis. Di panti ini, kami harus mengajar anak panti matematika-bahasa inggris-budaya.



Aku sekelompok dengan Tutut dari Sincero. Kami berdua kebagian jatah mengajari Wahyu. Anak panti yang lucu, imut, manis dengan wajah khas asia yang sedikit mirip Minwoo dari Boyfriend tapi sedikit lebih hitam dan tidak bisa dansa. Tapi aku tetap ngefans sama Wahyu. Dia cowok banget! Dia suka main bola dan berharap jadi pemain sepak bola kelak...dan bisa bertemu David Beckham! Kita doakan saja yang terbaik, yah :)

Di panti, aku dan Tutut membuat layang-layang untuk Wahyu. Di akhir acara, ada kuis oleh kakak panitia SoV. Dan bukannya ikutan kuis, Wahyu malah sibuk main layang-layang.-_- Haduh Wahyu....

Had a little shot with Wahyu-Anak ceria lainnya-Tutut :)

Selesai bermain-main dengan Wahyu anak-anak ceria di sana, peserta SoV diberi materi tentang Financial Management oleh Kak Eka. Super penting untuk anak yang suka tiba-tiba bingung kenapa uang di dompet habis, sepertiku!



Dari panti, kami pergi ke Masjid Salman ITB dan memulai Fund Raising di Jalan Dago. Aquavitae beruntung sekali mendapat LO Kak Nissa (maaf ya kak kalau ada salah pada penulisan nama._.), kami dijelaskan ini itu sampai akhirnya, kekhawatiranku selama seharian ini (gak bakal dapat uang pas fund raising) tidak terbukti!!

Selesai fund raising, kami kembali ke Patuha Resort. Eits, tapi tidak langsung tidur. Aquavitae masih terbangun sampai jam setengah 2 dini hari, ngerjain ppt buat presentasi hari esok...walaupun sudah hampir selesai, kami masih merasa belum sempurna. Kami mengerjakan ppt ditemani Sincero :)




Tanggal 7 Juli 2012.
Deg-degan banget! Hari penentuan! Hari terakhir!

Aku bangun superngaret, jam 05:30. Langsung mandi dan entahlah, pemanasan mata melek, mungkin?-_- Sekitar jam 8, peserta SoV makan, lalu jam 09:00 (agak ngaret gitu gara-gara peserta masih tersebar di seluruh penjuru resort), kami mulai presentasi.

Jurinya ganas-ganas, ada Kak Ghea, Kak Iman, sama Kak Putu. Sebenarnya mereka gak ganas, kok, kakak-kakaknya baik-baik! Tapi, ya, namanya juga tuntutan pekerjaan, ada yang tidak jelas, hajar teruuuss!



Selesai presentasi, kami diajak berjalan-jalan ke Kawah Putih, sementara panitia menentukan siapa pemenangnya dan men-setting tempat untuk awarding. Di sini, super seru!!!! Check it out yourself, ya! :)

Aquavitae tanpa 2 orang lagi..

With Bayuuuu~

Peserta SoV2012!

Setelah menikmati perjalanan dan dinginnya Kawah Putih, kami kembali ke Resort untuk Awarding Session. Di sini seru banget! Peserta SoV nampilin performance berupa dansa dadakan+nyanyi dadakan yaitu Laskar Pelangi tapi nggak full, terus panitia menampilkan video yang dibuat mereka, dan itu super kece: video Volcamp Day 1&Day 2, terus ditampilin video profil pertim! Kece banget kece!
Oh iya, Aquavitae dapat penghargaan "The Most Cheerful Yel-yel" dan "The Most Favorite Video", loh! Cieee congrats, yaa.




Sesuai yang kubilang di awal, timku gak menang. Gak apa, karena masih ada banyak kesempatan di luar sana, aku tahu. Pemenang juara 1 adalah Heroes of Humanity dari Bandung. Proyek mereka adalah Cinta Bernutrisi which is so beneficial especially for young man, karena anak-anak muda jaman sekarang paling demen sama yang namanya galau mikirin pacar.
Okay, Congratulation, Heroes of Humanity!

Yang tidak terduga-duga, aku senang bagnet VolCamp! Awalnya kupikir acara yang kayak gini, nih, bakal merampas waktu liburku, acara kayak gini, nih, bakal membuat aku bosan. Tapi ternyata, acara ini membuktikan padaku bahwa, "Pikiran negatif yang lo pikirkan gak bakal terjadi! Optimis, dong!" 
Dibalik musibah ada hikmah. Perjalanan nyaris 12 jam ke Bandung membuat aku makin dekat dengan teman-teman sesama finalis, dan aku mendapat teman baru yang super amazing, the other reason (the first reason is Lee Chong Wei) why the word amazing was made! Dan kakak-kakak panitianya yang super ramah, friendly, humble, membumi, merakyat, men-tanah atau apapun, yang super baik orang-orangnya, membuat aku nyaman banget disini.

Seriously, thanks for making my holiday awesome!

Btw, aku jadi ingat Kak Iman Usman pernah ngomong begini pas awarding session, "Untuk yang belum menjadi juara, kalian harus tetap wujudin proyek kalian, ya! Kalau bisa, buat panitia menyesal karena tidak memilih kalian menjadi juara!" What a..... c'est super!

Senang bertemu dengan kalian, Maul Mika Aca Tania Sely Izmi Uyuun Widy David Bayu Tutut Arif Shinta Azka Manda Marcia Vioni Mahat! And thanks for accompany me in my holiday, Sasa Luthfi! :)

Really wish for another hellos. Sampai bertemu lagi suatu saat, teman-teman!

P.S: Click here to see volunteering camp day1&2's video!
"Don't be dismayed by good-byes. A farewell is necessary before you can meet again. And meeting again, after moments or lifetimes, is certain for those who are friends." -Richard Bach 

source: SoV2012

July 1, 2012

[1] Nasihat Secangkir Teh

Hai. Gue buat cerpen, loh. Percaya, nggak? Tapi nggak seru. Gak mau dibaca gak apa-apa kok. Cuma mau share.
Ini kisah nyata yang ada di sekitaranku, tapi beberapa keadaan ada yang diubah. Apa namanya..based on true story. Just based on bukan kisahnya benar2 begini.
Selamat membaca!

xxx


Nasihat Secangkir Teh
                Durra Zaahira
Dara menikmati angin malam dengan senyuman di bibirnya. Walaupun beberapa keluarga Dara mengatakan angin malam tidak baik untuk tubuh, Dara selalu menyukainya. Malam hari adalah saat-saat dimana polusi tidak sebanyak siang hari, dan udara terasa sejuk saat menyentuh kulit.
                Dara masuk kembali ke dalam rumah. Pintu balkon ditutupnya perlahan-lahan. Dara tidak ingin membangunkan siapa pun hanya karena bantingan pintu.
                Dara turun ke lantai satu rumahnya. Dilihatnya Papanya yang berada di kursi depan televisi. Televisi yang menyala menayangkan sinetron. Tapi Papa tidak melihat ke arah televisi itu. Yang sedang Papa perhatikan adalah koran ditangannya.
“Papa belum tidur?” tanya Dara.
                “Ah, Belum.”
                “Papa tidak lelah?” tanya Dara lagi sambil mengambil cangkir, kantung teh, dan gula dari lemari di dapurnya.
                “Belum. Kamu ingin membuat apa?”
                “Teh, Pa.”
                “Papa minta juga, ya,” pinta Papa.
                “Oke.”
                Dara membuat dua cangkir teh. Satu untuk Papa, dan satu untuk dirinya. Teh hangat memang selalu berhasil membuat perut Dara terasa lebih hangat.
                “Pa, aku ke atas lagi, ya. Aku ngantuk,” pamit Dara.
                “Iya, iya.”
                Dara naik ke lantai dua, dan berjalan ke kamarnya. Kamarnya termasuk yang paling kecil di antara kamar-kamar lain di rumahnya. Kakak Dara, memilih kamar yang besar, sehingga mau tidak mau Dara harus puas dengan kamar yang berukuran 4mx4m.
                Sebelum tidur, Dara menulis sesuatu di dalam bukunya. Selesai menulis, barulah dia berbaring di atas kasur, memikirkan segala sesuatu yang terjadi hari itu, menarik selimut, dan mulai menjelajah alam mimpi.
                Hari esok tiba. Dara bangun dari tidurnya dan dengan segera melakukan rutinitas pagi harinya. Setelah mandi dan merapikan tempat tidurnya, Dara pergi ke ruang makan di lantai bawah. Ditemuinya Mama dan Papanya.
                “Selamat pagi, Ma, Pa,” sapa Dara.
                “Iya, makan dulu, Dar,” kata Mama.
                Tidak lama kemudian, adik Dara keluar dari kamarnya membawa banyak komik yang sedang dan akan dibacanya. Adik Dara kemudian duduk di kursi yang disiapkan Dara untuk didudukinya.
                “Jangan di sini, dong, Fatih!” seru Dara kepada adiknya.
                “Memang kenapa? Suka-suka aku, dong.” Fatih menjawab sambil tetap membaca komiknya.
                “Kursi ini kusiapkan untukku! Bukan untukmu! Jangan duduk di sini!”
                “Siapa cepat, dia yang dapat. Begitulah hukum alam, Mbak.”
                “Iya, tapi, kan, aku duluan!! Jangan ngambil apa yang sudah didapat orang, dong!” Dara tidak mau mengalah pada adik laki-lakinya.
                Mama yang pusing karena pagi yang indah harus dinodai dengan pertengkaran tidak penting, berusaha mengendalikan situasi. “Sudah! Kamu, kan, kakak! Mengalahlah kepada adik sendiri! Lalu, Fatih, jangan makan sambil membaca komik!”
                Dengan berat hati Dara mengalah. Tapi itu seharusnya memang tempat dudukku, pikir Dara kesal. Dara berjalan ke arah dapur dengan menghentakkan kakinya. Diambilnya kantung teh, cangkir, dan gula. Dibuatnya teh di atas meja makan.
                “Papa juga mau, dong, Dar,” pinta Papa.
                “...oke,” jawab Dara agak ketus. Dia masih kesal karena tempat duduk yang sudah dipilihnya diambil adiknya.
                “Dara! Tidak boleh menjawab dengan nada seperti itu!” tegur Mama.
                “Iya, Maaa,” kata Dara ogah-ogahan sambil mengaduk teh untuk Papanya.
                Papa segera menghabiskan teh yang dibuatkan Dara untuknya. “Papa harus ke kantor. Papa pergi dulu, ya, Ma.”
                “Iya, hati-hati, Pa,” kata Mama.
                Bahkan hari Sabtu, yang seharusnya libur, Papa tetap masuk. Posisi pentingnya di kantor memang membuat Papa menjadi orang sibuk yang harus siap sedia apabila dipanggil ke kantor.
                 Malam tiba. Dara tidak berkeinginan untuk menikmati angin malam di balkon kali ini. Dara kemudian memutuskan untuk berdiam di kamarnya dan menulis di bukunya.
                “Dara?” panggil Papa dari lantai bawah.
                “Ya?!” jawab Dara keras. Dia sedang malas sekali beranjak dari meja belajarnya.
                “Tolong, dong, pijit Papa.”
                “Iya, iya.” Dengan malas, Dara berlari-lari kecil ke kamar Papa di lantai bawah.
                Dara lalu memijit Papa. Ini memang hal sehari-hari Dara. Memijit Papa, atau membuatkan teh untuk Papa. Biasanya, Dara memijit Papa sampai Papa tertidur, lalu setelah Dara merasa Papa sudah tidur lelap, Dara akan kembali ke kamarnya di lantai atas.
                Tetapi kali ini ternyata tidak semudah itu. Papa mengajak Dara mengobrol. Akhirnya, Dara baru bisa kembali ke kamarnya satu jam lebih empat puluh lima menit kemudian.
                Padahal aku ingin tidur cepat, walaupun besok adalah hari Minggu, pikir Dara dalam hati. Lagi, dia merasa kesal sekali hari itu.
                Esok hari, Papa meminta Dara untuk membuatkan teh. “Papa mau teh, tolong buatkan, ya,” pinta Papa.
                Dengan ogah-ogahan Dara membuatkan teh untuk Papanya.
                Kali berikutnya, ketika Papa meminta Dara membuatkan teh untuk Papa, Dara mengelak halus.
                “Aku mau ke atas, Pa,” kata Dara. “Mau ngerjain PR.”
                Lagi, suatu hari Papa meminta Dara membuatkan dirinya teh.
                “Aku lagi mencuci piring, Pa,” elak Dara. Setelah selesai mencuci piring, Dara segera kabur ke kamarnya.
                Suatu pagi, Dara dibangunkan oleh suara Papa yang sedang mengaji. Dara melihat jamnya. Pukul 03.00 dini hari. Papa memang rajin sekali. Selalu bangun dini hari, sholat malam dan tilawah Qur’an. Dara selalu bangga punya Papa seperti ini. Tapi.... kadang rasanya malas juga kalau harus terus membuatkan teh dan memijit Papa sampai tertidur.
                Pukul 06.00, Dara ke dapur.
                “Papa boleh minta dibuatkan teh?”
                Dara mencari Papanya yang ternyata sedang membaca koran yang baru dikirim tukang koran pagi itu di ruang tamu. Dara berpikir, apakah dibuatkan saja atau tidak. Karena dia juga sedang tidak ingin minum teh, dan malas membuat teh.
                Pada akhirnya, Dara membuatkan teh untuk Papanya. Aku terlalu sering mengelak, mungkin, pikir Dara. Dara mulai merasa yang dilakukannya kemarin-kemarin itu tidak sopan.
                “Kenapa Papa selalu minta dibuatkan teh?” tanya Dara kepada Papa sambil membawa teh yang akan diberikannya untuk Papa.
                Papa mengambil teh yang diberikan Dara. “Menurut Papa, sesuatu yang dibuatkan orang lain rasanya lebih nikmat dibanding buatan sendiri.”
                Dara memikirkan kata Papa. Benar juga, ya. Tapi Papa juga harus tahu kalau terkadang orang yang dimintai tolong merasa malas sekali membuatnya....
                Dara izin kembali ke kamarnya di lantai atas. Sesampainya di kamar atas, Dara menulis kembali di bukunya, buku hariannya.

            Minggu, 7 Februari 2010
                        Kata Papa, makanan atau minuman yang dibuatkan orang lain terasa lebih enak dibanding buatan sendiri.

                Dara menutup buku hariannya. Buku itu memang terkadang digunakan untuk menulis kejadian-kejadian yang menurutnya patut diingat, tentang perasaan dia, atau tentang kutipan-kutipan yang tidak sengaja dilontarkan dirinya atau orang di sekitarnya.
                Hari Senin tiba. Saatnya masuk sekolah. Dara bangun pagi sekali hari itu, karena hari Senin selalu menjadi hari paling padat dibanding hari-hari lainnya dalam satu minggu. Selesai mempersiapkan buku, dan memakai pakaian dengan rapi, Dara turun ke lantai satu. Supir kantor Papa sudah menunggu di luar rumah, di dalam mobil. Karena searah dengan jalan ke kantor Papa, Dara pergi bersama Papa.
                Sudah pukul 05:45. Papa belum juga siap, padahal sekolah dimulai pukul 06:30. Memang perjalanan dari rumah Dara ke sekolah sekitar 30 menit, masih keburu, tapi kalau ternyata jalanan macet, apa yang dapat dilakukannya?
                “Aduh, aduh, ayo cepat. Sudah jam segini. Nanti telat,” kata Papa.
                Dara segera masuk ke dalam mobil, disusul Papa. Mobil mulai berjalan. Sesampainya di depan kompleks rumah, sesuai prediksi, jalanan sangat padat. “Yah, macet lagi,” keluh Papa
                Dara hanya bisa diam. Aku sudah siap dari pagi sekali, pikir Dara.
                Dara menjadi kesal seharian itu. Tadi pagi Dara telat masuk ke sekolah. Malu sekali rasanya berbaris di barisan anak telat, dan bukan di barisan kelasnya sendiri.
                “Papa mau minta dibuatkan teh, boleh?” tanya Papa malam itu.
                “Tapi aku mau mengerjakan PR, Pa. PR-ku banyak sekali, dan aku belum menyentuhnya..” Dara beralasan agar tidak perlu membuat teh. Bagaimana pun, Dara sudah dibuat telat ke sekolah hari itu.
                Tanpa pikir panjang dan tanpa menunggu kalimat dari mulut Papa, Dara segera naik ke lantai atas.
                Dara terus pergi dan tidak mengerjakan apa yang Papa minta. Padahal membuat teh adalah hal yang mudah. Mungkin tidak sampai lima belas menit untuk mengerjakannya.

                “Aku akan membuatkan Papa teh nanti saja.” Awalnya itu yang aku pikirkan.
***
                Kenapa menjadi seperti ini?
                Beberapa menit yang lalu, tetangga Dara datang dan menggedor-gedor pagar rumah Dara. Mama yang merasa risih, segera keluar dari rumah dan menghampiri mereka. Sesaat setelah mereka mengatakan sesuatu kepada Mama, Mama segera berlari ke arah yang ditunjukkan oleh mereka.
                Dara hanya bisa melihat dari jendela kamarnya. Dia sama sekali tidak punya ide akan apa yang terjadi. Dara melihat jam di ponselnya. 05:00. Masih ada waktu untuk tidur kembali. Dara berbaring kembali di atas kasur dan sedang menutup matanya ketika ada orang yang menggedor-gedor pagarnya lagi.
                Dara mengintip dari jendela kamarnya. “Orang yang tadi,” kata Dara pelan.
                Dara keluar dari kamar dan berjalan ke arah balkon. “Kenapa, Pak?” tanya Dara menunduk melihat bapak-bapak yang berada di depan rumahnya.
                “Disuruh ke masjid sama Ibu, Dik!” jawab bapak-bapak tersebut.
                Dara mengerutkan alisnya. “Memang ada apa, Pak?” tanyanya heran. Mengapa Mama tidak mengatakan apa yang ingin dikatakan nanti saja, setelah pulang dari masjid? pikir Dara.
                “Sudahlah, Dik, Ibumu itu sudah memintamu seperti itu! Lakukan sajalah!” kata Bapak-bapak tersebut dengan nada tinggi.
                Mengapa Bapak yang merasa jengkel? Bukankah harusnya saya? Siapakah Bapak sampai harus memaksa saya? pikir Dara lagi. Dara menaikkan sebelah alisnya. Setelah beberapa saat, Dara menuruti kata bapak itu. “Ya sudah. Saya akan ke masjid. Bapak duluan saja. Nanti saya susul.”
                “Dik, ajak orang rumah. Semuanya, Dik! Termasuk kakak-kakak, adik dan mbakmu di rumah!” seru salah satu bapak yang sepertinya tahu persis jumlah anggota keluarga Dara.
                “Iya, Pak! Nanti saya susul.”
                Dara masuk ke dalam rumah dan menutup pintu balkon. Bersandar ke pintu balkon, Dara berpikir. Hal apakah yang sebenarnya terjadi? Tidak pernah sebelum ini ada bapak-bapak yang menggedor pagar keras-keras hanya untuk menyuruh ke masjid. Pasti ada sesuatu.
                Dara segera memanggil kakak perempuannya yang berada di dalam kamar, “Kak Nita, disuruh ke masjid sama bapak-bapak. Itu, yang tadi menggedor-gedor pagar heboh sekali.”
                Tanpa banyak omong, Nita segera keluar dari kamarnya.
                “Ada apa sebenarnya? Siapa saja yang disuruh ke masjid?” tanya Nita.
                “Semua. Ayo, kita bangunkan Mbak Muri.”
                Kemudian Dara dan Nita membangunkan Mbak Muri dan mengajaknya untuk ikut ke masjid. Mbak Muri menolak. Ingin menjaga rumah, katanya. Padahal Dara yakin sekali Mbak Muri pasti masih merasa mengantuk.
                Nita sudah di depan pintu rumah ketika Dara menahannya, “Sebentar, Kak. Aku disuruh untuk memanggil semua. Fatih dan Kak Bimo tidak tahu apa yang terjadi. Aku akan menelepon mereka untuk segera ke masjid dekat rumah.”
                Dara dengan sigap menekan tombol telepon dan menelepon Fatih yang berada di rumah saudaranya, dan memberi tahu Kak Bimo untuk sejenak meninggalkan pekerjaan mereka dan datang ke masjid atau mungkin ke rumah, jika mereka tak bisa datang pagi.
                “Dar, ayo cepat. Kita pun sebenarnya tidak tahu, kan, apa yang sedang terjadi?” Ucapan Nita menyadarkan Dara. Oh iya. Aku pun tidak tahu apa yang terjadi, pikir Dara kemudian.
                Nita dan Dara segera keluar dari rumah dan berlari-lari kecil ke arah masjid.
                Pasti ada sesuatu. Kalimat itu terus menerus berputar dalam otak kakak-beradik ini.

***
                Minggu, 14 Februari 2012
                        Sungguh, dari awal pun aku tidak pernah menyangka. Aku tidak pernah merasa sesedih ini. Semua terasa hampa. Walau lisannya jarang berbicara. Walau setiap langkahnya pelan terdengar. Tapi segalanya terasa sangat hampa.
                        Senyum hangat yang akan selalu menghiasi meja makan rumah ini menghilang. Begitu pula dengan segala ucapan sayang tersirat dalam setiap perkataan yang jarang diucapkan.
                        Satu hal yang kusadari, aku tak bisa mengulang waktu. Segala yang sudah terjadi, terjadilah. Aku menyesal akan banyak hal, dan aku tak ingin mengulanginya lagi. Tapi rasa bersalah ini akan tetap ada. Aku tahu.
                        Seberapa pun rasa jengkelku padanya, tidak akan mungkin sebesar rasa kagumku padanya. Ketika orang berkoar-koar mengatakan dusta, hanya dia yang selalu terdiam dan melakukan kebaikan. Ketika orang berteriak-teriak menginginkan kesejahteraan, hanya dia yang dengan tenangnya menghasilkan kesejahteraan untuk orang sekitarnya.
                        Aku selalu mengingat bagaimana teh selalu menjadi hal paling hangat di antara aku dan dia saat kanak-kanak dulu. Aku ingat bagaimana dulu aku memberi dia teh dengan garam dan bukan gula.
                        Mungkin kalimat ini tak akan sampai padamu, tapi...
                Dara turun ke lantai satu. Bisa dilihatnya seluruh anggota keluarganya tertunduk dengan muka sembab. Dara hanya bisa tersenyum sedih. Matanya pun tidak menunjukkan hal yang lebih baik.
                Seperti biasa, Dara berjalan ke arah dapur. Mengambil kantung teh, cangkir, gula, dan menuangkan air panas. Berharap akan ada orang yang meminta tolong dibuatkannya teh. Tapi pertanyaan itu tak kunjung datang.
                Dara menghela nafas, “Siapa pun, ada yang ingin dibuatkan teh?”
                               
                        ...semoga engkau tenang di sana, Papa.

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'