January 29, 2013

[3] Berawal dari Kesalahan

Yak, cerpen lainnya dari saya. Tema: Kesalahan.
Hmmm.. maaf ya kalau membosankan, soalnya masih dalam tahap pembelajaran.

Selamat membaca!
 --


Berawal dari Kesalahan
Durra Zaahira

Siapa, sih, yang tidak pernah melakukan kesalahan?
                Tapi seumur-umur, baru dia yang entah kenapa selalu terlihat apes dengan segala hal yang diperbuatnya.
                Namanya Lucas. Awal aku bertemu dia adalah saat masuk ke ekskul untuk pertama kalinya. Tidak punya teman dari SMP yang sama, aku pun duduk di sebelah dia  saat hari pertama ekskulku. Ekskul kami, biola.
                “Gue pilih ekskul biola, karena biola itu..elegan banget. Cowok main gitar udah biasa. Pengen belajar sesuatu yang sedikit beda,” terang Lukas.
                “Setuju, Cas! Gue juga alasannya itu. Gue bisa tiba-tiba terlihat menjadi cewek terelegan sedunia ketika memainkan biola. Tapi lo gak takut dikira kecewek-cewekan..?”
                “Kadang ada yang mencibir, sih. ‘Ih, mainannya biola, kayak cewek aja.’ Tapi, ya, terus kenapa? Kalau emang pengen mendalami emangnya salah?”
                Berawal dari menyukai hal yang sama dan sependapat dengan hal yang sama, aku dan Lucas menjadi teman akrab. Aku dan dia berbeda kelas, tapi kami bisa menjadi sahabat baik hanya karena biola ini.
                Lucas mempunyai tubuh yang tidak terlalu gemuk, dan tidak terlalu kurus. Tingginya kira-kira setinggi aku, biasa saja untuk ukuran laki-laki. Ganteng? Biasa. Yang paling ganteng di angkatanku itu sepertinya adalah Dira, teman sekelasku. Kulit Lucas berwarna putih, khas anak keturunan Asia Timur, dengan matanya yang hanya segaris di balik kaca mata bingkai hitamnya, dan rambut yang lurus. Karena putihnya ini, beberapa mungkin kepincut ketika pertama melihat.
                Satu hal yang harus kuakui lucu dari dia adalah lesung pipit di pipinya. Sayangnya, dengan segala keapesan yang sering dia temui, dia jarang tersenyum.
                Baiklah, biar kuceritakan bagaimana apesnya dia hari-hari yang lalu.
                Ekskul biola. Dengan anggota ekskul yang hanya berjumlah 15 (7 dari kelas IX, 6 dari kelas VIII, dan 2 dari angkatanku, yang tidak lain adalah aku dan Lukas), adalah ekskul paling keren (menurutku) yang pernah kuikuti. Kami ekskul tiap hari Selasa, eksklusif sekali. Padahal ekskul lainnya memakai hari Jumat atau Sabtu.
                Ruangannya bertempat di ruang teater musik. Di ruang teater ini, ada panggung, sehingga kami bisa merasakan bagaimana rasanya berada di atas panggung. Di atas panggung, di sudut sebelah kiri dilihat dari arah penonton, ada grand piano berwarna putih. Di langit-langit panggung, ada berbagai macam lampu yang aku tak mengerti kenapa harus sebanyak itu. Di sudut kanan, ada drum, gitar listrik, gitar akustik, dan bass. Di panggung bagian depan, terdapat speaker.
                Itu baru di panggung. Di belakang panggung, terdapat berbagai macam microphonestand microphone, lalu ada mimbar, dan masih banyak lagi. Sayangnya, biola harus kami miliki sendiri. Tentu saja, tidak mungkin, kan, kami ekskul tapi tidak punya peralatannya.
                Memang peralatan di ruang teater ini sangat memadai. Dengan ruangan yang luas dan peralatan yang serba ada, sekolahku dianugerahi sebagai sekolah yang paling memuaskan, hehe.
                Lucas dan aku, sebagai anak baru dan dari angkatan paling bontot, merasa agak janggal diantara kakak-kakak kelas ini. Tapi untungnya, mereka sangat ramah kepada kami. Dengan kakak-kakak kelas yang mayoritas perempuan ini (yang laki-laki hanya 4, sudah termasuk Lucas), ekskul terasa lebih bersahabat.
                Hari pertama, aku dan Lucas berkenalan, meneliti setiap sudut ruang teater, bincang-bincang dengan kakak kelas, dan berkenalan dengan dua pelatih (satu perempuan dan satu laki-laki), belum ada hal-hal yang bikin kesal hati.
                Namun di minggu berikut dan berikutnya, ada saja masalah.
                Semua berawal dari pembagian kelompok. Setelah kami mendapat dasar-dasar bermain biola dan pelatih (kami menyebut mereka Kak Winda dan Kak Puji) berkata bahwa kami sudah cukup baik dalam bermain, pelatih kami, memutuskan untuk membagi kami berlima belas menjadi 3 kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 orang. Pembagian ini bertujuan agar tiap kelompok mau berkompetisi, tapi di sisi lain bisa saling mengajarkan lagu yang kita pelajari, karena setiap kelompok mendapat lagu yang berbeda.
                Aku sekelompok dengan Lucas, Rio (kelas VIII), Tania (kelas VIII), dan Oliv (kelas IX). Untuk kali ini, kami mendapat bagian lagu Over The Rainbow. Mudah, kan? Ya, memang.
                Tapi syukurlah, karena aku sekelompok dengan Lucas, aku tidak jadi menyepelekan lagu ini. Lucas sukses membuat lagu ini terasa sulit. Seolah hanya seorang handal yang bisa menyelesaikan lagunya sampai selesai.
                Ini dia apesnya, pelatih kami yang mulai terlihat asli galaknya, selalu memburu kami. Bahkan Kak Puji yang awalnya terlihat sangat baik itu bisa marah dengan seramnya.
                Berkali-kali kelompok kami didatangi oleh Kak Winda dan Kak Puji karena kesalahan kami yang mayoritas karena Lucas.
                “Cas, lo terbuat dari apa, sih? Ada aja salah, dah,” tanya Tania yang mulai merasa kesal.
                “Iya.. maafin, ya, Kak. SMP soalnya kali pertama dia main biola..” kataku membela.
                “Ya, tapi tetap saja, ya! Ditegur berapa kali, tetap saja ada yang salah. Malah tambah banyak. Aneh banget, sih. Lo tuh jadi orang fokus!” kata Tania.
                “Maaf, kak. Saya emang kalau dimarahin jadi gugup gitu.. Saya jadi panik. Maaf, Kak, maaf,” pinta Lucas.
                “Ya sudah! Benerin aja tuh mainan lo! Ngapain lo minta maaf sama gue!” kata Tania lagi, kembali kepada biola dan partiturnya.
                Bisa kudengar Lucas bergumam, “Ya, kan, lo marah gara-gara ikutan dimarahin sama pelatih.”
                Aku hanya menepuk bahu Lucas, dan aku kembali menatap partitur di depanku dan menggesek biolaku.

                Yak, buat teman-temanku yang belum tahu, lagu pertama kelompokku ini, akan kami tampilkan saat perayaan ulang tahun sekolah. Kelompok lain memainkan I will Always Love You dan My Heart will Go On. Kelompokku dengan Over The Rainbow kami, hanya bisa berharap yang terbaik. Karena bahkan sampai H-1, alias kemarin, Lucas tetap saja melakukan kesalahan. Membuat geger Kak Winda dan Kak Puji, dan Tania yang jadi ikut-ikutan bete (untung ada Oliv yang dengan bijak mau menenangkan Tania). Bahkan kelompok lain menghentikan kegiatan permainan biolanya karena suara Kak Winda dan Kak Puji yang berduet memarahi Lucas. Aku kasihan pada Lucas yang saat itu hanya bisa tertunduk. Aku tidak yakin dia menangis, tapi aku bisa melihat bahunya bergetar.
                Bahkan di hari H ini, tatapan mata Kak Winda tajam sekali ke arah Lucas. Bisa kulihat Kak Puji kini mungkin lelah memarahi Lucas, sehingga Kak Puji memilih untuk menenangkan Kak Winda.
                Kelompok 1 dan 2 sudah memainkan lagu-lagu mereka dengan indah. Tepuk tangan meriah dari penonton terdengar meriah. Kak Puji juga memberikan tepukan tangan, tapi Kak Winda masih menatap ke arah kelompok kami yang kini berada di samping panggung, menunggu giliran tampil.
                “Cas, yang bener, ya, lo,” kata Tania.
                Lucas hanya tersenyum tipis.
                “Santai aja, Bro. Rileks. Yang penting dihayati,” kata Rio.
                “Cas, kamu pasti bisa, kok,” kata Oliv.
                Lucas hanya memegang biola di tangan kiri dan bow di tangan kanannya. Mukanya pucat pasi.
                Aku menepuk bahunya. “Jangan gugup, lah, Cas,” kataku sambil tersenyum, berusaha tidak terlihat panik.
                Sejujurnya, aku juga takut. Kira-kira, Lucas akan melakukan apalagi kali ini? Tapi, ya sudahlah.

                “Sudah berapa kali kubilang untuk fokus!!?!” seru Kak Winda.
                Lagi-lagi Lucas hanya bisa menunduk. Aku hanya berdiri di samping kiri Lucas. Di samping kanan Lucas, Rio merangkul Lucas. Teman-teman seekskul lainnya berdiri di sekeliling aku, Lucas, dan Rio.
                Ini bukan penampilan pertama yang agak gagal karena Lucas. Semenjak zaman lagu pertama, yaitu saat kelompokku memainkan Over The Rainbow, ini sudah penampilan ke-4 kami, dan ketika ada kesalahan, banyaknya berasal dari Lucas.
                “Kamu tuh kalau gak punya mental juara ya dibentuk! Kamu gak bakal sukses, tahu, tidak, kalau terus-terusan kayak gini! Panikan, gugup, gak percaya diri!”
                Lucas perlahan melirik Kak Winda.
                “Keluar saja, kamu! Ini penampilan ke-4 dan bahkan kamu masih belum bisa benar! Kalau kamu memang tidak mau usaha, ya tidak usah!!”

                Lucas duduk di bibir panggung, menatap jari-jari tangannya yang panjang. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
                “Apaan, sih, salah gue? Kalau gue emang panikan, terus kenapa?” tanya Lucas tiba-tiba.
                Aku hanya diam menatap kakiku yang kuayun-ayunkan. Aku tahu kalimatnya belum selesai.
                “Yaudah kalau dia capek nasihatin gue, gue juga capek dinasihatin dia,” ungkap Lucas.
                Aku hanya terdiam dan menatap Lucas yang melihat ke depan dengan tatapan kosong. Sedih sekali melihat Lucas yang biasanya banyak bicara ini kini terlihat sangat kecewa.
                “Dia nasihatin lo supaya lo jadi lebih baik,” kataku, berusaha menghibur.
                “Ya, kenapa harus sambil marah-marah, sih? Ada cara yang lebih baik, kok, gue yakin,” kata Lucas lagi.
                Kalau disuruh jujur, kesalahan Lucas terlampau banyak, sih... Duh, kayaknya emang dia yang terlampau apes.
                “Intinya adalah, gue kayaknya mau keluar. Ini bukan bakat gue,” ujar Lucas tiba-tiba.
                “Apa?!? Gak boleh!! Masa gue sendirian! Nggak mau!” seruku.
                “Ya gak apa. Toh lo gak ada masalah, kan, di sini,” kata Lucas lagi.
                “Casss, masalah itu dihadapn, jangan kabur! Panik itu kalau dosisnya berlebihan itu memang gak baik,” kataku jujur.
                “Memangnya panik gue dosisnya berlebihan?”
                “Sangat!”
                “Hhh...” Lucas menghela napas.
                Ruang teater hening. Kalau dipikir-pikir, menyeramkan sekali berada di ruang teater sebesar ini, padahal hanya berdua. Aku bisa membayangkan jika ada hantu berjalan menuju kami.
                Tiba-tiba Lucas bernyanyi, “Should I give up, or should I just keep chasing pavement?”
                Aku yang kaget mendengar Lucas tiba-tiba saja bernyanyi, tertawa terbahak-bahak. “Sebagai seorang cowok, lo terlalu kelihatan seperti gak punya arah hidup. Hati-hati gak dapet jodoh!”
                Lucas menatapku kesal, “Gue merasa pengen keluar, tapi kayak ada yang mengganjal.”
                Aku lalu berdiri di atas panggung. Menuju microphone yang ada di atas panggung. “Ehem. Cek cek 1, 2, 3..” kataku mengecek suara.
                Setelah merasa mic siap untuk dipakai, aku berkata kepada Lucas, “Yak, lagu ini kupersembahkan kepada Lucas si Manusia Panik yang sedang galau!”
                Aku menutup mataku. Berdoa dalam hati agar suaraku tidak merusak lagu ini. “The rest of my life is starting tonight, feels like I’m finally on my way. I’m looking ahead, can’t tell where it ends, but I’m gonna take a leap of faith. And I’m gonna hold on tight, and ride this ride, the rest of my life!”
                “Haha! Suara lo jelek.”
                Apa? Aku sudah memberanikan menyanyi dengan mic dan responnya seperti itu? Cukup tahu, Bung.
                “Tapi, terima kasih,” lanjut Lucas.
                Aku tersenyum. “Tetap di ekskul, kan?”
                “Ya,” jawabnya singkat.
                “Asyik! Kenapa??”
                “Gue kasihan sama lo, kelas VII sendiri.”
                “Kurang ajar!” jawabku sambil memukul punggungnya.
                Lucas merintih. Biar saja. Biar tahu rasa.
                “Nasihatnya dimasukin ke otak aja, Cas. Jangan masukin ke hati. Supaya lo lebih baik mainnya. Lo juga harus belajar supaya gak panik di atas panggung.”
                “Sip, bos! Apapun yang terjadi, hadapi, ya.”
                “Hadapi!”
                Lalu aku tos dengan Lucas.
                “Tapi, Cas. Dihadapi bukan berarti belagu sama kakaknya, loh.”
                “Iya, ngerti, kok. Kita harus tetap hormat dan sopan, kan?” tanya Lucas.
                “Iya! Soalnya dengan merendah, kita bisa lebih dapat apa maksud dari gurunya. Jadi, apa pun yang dikatakan gurunya, masukin ke otak, olah, lalu laksanakan. Walaupun dia udah marahin kita sampai segitunya, kita harus tetap sopan sama pelatih kita. Bagaimana pun, pelatih kita kan sudah memberikan ilmu mereka,” kataku panjang lebar.
                “Iya, iya. Dasar anak terlalu beretika.”

                Kesalahan masih tetap Lucas perbuat. Nasihat dan kegalakan dari Kak Winda dan Kak Puji masih sering dia dapatkan. Satu hal yang pasti, kini mata Lucas mengeluarkan binar yang berbeda. Dia terlihat hidup, dan menikmati apa yang dia lakukan. Apa pun yang dikatakan Kak Winda dan Kak Puji, selalu diterimanya dengan baik. Sehingga meski beberapa kesalahan kerap dilakukannya, dia selalu berkembang.
                Sampai akhirnya, tibalah perayaan natal di sekolah. Aku tidak ikut, tentu saja. Tapi kudengar, di perayaan itu, Lucas bermain biola, memainkan lagu Justin Bieber, Mistletoe. Sendiri. Di atas panggung. Kak Winda dan Kak Puji datang untuk melihat. Dan di sana, untuk pertama kalinya, Lucas bermain tanpa melakukan kesalahan.

                Perpisahan kelas IX, yang berarti perpisahan dengan Kak Oliv yang adalah salah satu anggota kelompokku di ekskul biola, dan teman-teman kelas IX lainnya yang sesama ekskul biola. Kami sedih. Beberapa dari mereka sempat bercanda dengan Lucas.
                “Woy, Cas, jangan bikin kerusuhan lagi lo! Haha.”
                Lucas hanya bisa tertawa.

                 Kini kami sudah kelas IX. Bahkan sudah saatnya perpisahan. Pada acara perpisahan ini, aku dan Lucas bermain biola bersama, memainkan lagu Good Time yang dinyanyikan oleh Owl City dan Carly Rae Jepsen.
                Permainan kami diberi tepuk tangan yang meriah. Biasa kudengar ada suara yang menanyakan, “Itu Lucas? Kok beda?” Ada juga yang berteriak memanggil, “Lucas!!! Lucas!!” Yah, sebenarnya ada juga yang berteriak memanggil namaku, tapi, kali ini kan kita bercerita soal Lucas.
*

                Yang kutahu, itu Lucas yang dulu. Bermula dari masuknya dia ke ekskul biola bersamaku. Bagaimana dia menjadi murid paling “terlambat” karena berbagai macam kesalahannya. Dengan segala keapesan dan kesialan Lucas saat bermain biola, Lucas bahkan sempat mogok ekskul karena takut memandang wajah Kak Winda dan Kak Puji, sampai akhinrya aku menyeretnya kembali.
                Tapi di akhir-akhir, Lucas dengan mudahnya membuat orang terpana. Dan dia tetap membumi. Tidak ada satu pun kesombongan dari dirinya. Ketika kutanya, “Cas, kok lo gak sombong, sih? Sekarang lo mainnya jago banget. Kak Winda sama Kak Puji yang dulu selalu mencak-mencak, sekarang selalu ngaish lo standing applause.”
                Dengan bijaknya dia menjawab, “Apa yang harus dibanggain? Gue bukan jenius, Dara. Gue jatuh bangun supaya bisa kayak gini. Dimarahin kayak apa tahu. Setiap pertemuan ada aja masalah di gue.”
                Itu jawaban dia waktu kelas IX. Aku gak tahu jawaban dia untuk saat ini. Berhubung sekarang dia sudah meng-cover banyak lagu dengan biola kesayangannya yang berwarna perak (itu pemberian dari aku, loh!). Dia sudah menciptakan banyak lagu yang dia buat sendiri dengan biola itu. Bahkan dia dijuluki, ”The Silver Violinist.” Bukan lagi, “Lucas si Manusia Panik.”
                Dia sudah berkeliling dunia dan memertunjukkan keahliannya bermain biola. Penggemarnya ada di seluruh dunia. Bahkan setiap kali dia konser di Indonesia, penonton membludak. Siapa yang tidak suka dimainkan biola dengan melodi seindah miliknya? Nilai tambahnya adalah, aku selalu boleh masuk ke backstage setiap dia konser, hehe.
                Intinya, dia tenar sekali. Hidupnya tentram. Setidaknya aku akan selalu mendoakannya agar hidup tentram.
                Ada kalimat yang paling kuingat dari dia, “Kita hidup selalu belajar. Mau dengan cara apa pun pemberi ilmu mengajar, kita harus selalu menangkap hal positif di dalamnya. Benar kata lo, Dar. Kita harus merendah saat meminta diajar. Sayangnya kebanyakan orang memilih mengambil negatif dan menyepelekan ilmu yang diberikan si pemberi ilmu, kayak gue zaman dulu. Padahal ilmu tetaplah ilmu, meskipun itu datangnya dari orang yang lebih muda, sama, atau lebih tua sedikit dari kita, dan dengan cara apa pun.”


                Begitulah cerita tentang Lucas. Hebat, ya. Padahal awalnya dia manusia panikan, gampang nyerah, dan serba apes. Tapi sekarang, dengan tekad dan kepositifan yang dia punya, dia bisa jadi dapatin apa yang dulu kata dia bakal kerasa janggal kalau dilepas. Oh, gak kebayang kalau dulu Lucas benar-benar keluar dari ekskul biola. Dia jadi apa, ya? Ah sudahlah, yang sudah terjadi, begini adanya.
Ha? Kamu penasaran aku jadi apa? Yah, itu.. tunggu saat aku berkeinginan untuk menceritakannya ke kalian, yah! Haha. 

No comments:

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'