January 1, 2013

[2] Terserah Khas Dira

Haiiiiii... It's time foooorrrrr. CERPEN!!! By me of course :D
Request cerpen kali ini berasal dari Kakakku, Zahra Fadhila. Hope you find the value! Happy reading!

****


               Terserah Khas Dira
Durra Zaahira
Hai, namaku Dara. Aku anak SMA, umurku masih 15 tahun. Awalnya, kehidupan di SMA kujalani seperti biasa, tidak ada yang benar-benar ‘wow’, padahal kata orang, SMA itu masa-masa paling indah dalam sejarah hidup manusia. Tapi sekarang, aku berpikir bahwa benar saja, SMA itu indah, kok!
            SMA penuh dengan cowok-cowok ganteng nan kece, termasuk salah satu teman dekatku ini. Namanya Dira. Dira itu tinggi, badannya tegap, kulitnya tidak putih, dan tidak hitam, warna yang pas untuk seorang cowok. Keren, jago olahraga, dan semua orang yang lihat dia pasti tanpa sadar mengikuti dia jalan kemana dengan tatapannya.
            Jadi, beruntunglah aku, mendapat kesempatan untuk sekelas dan menjadi teman akrab dengan dia di SMA ini! Haha!
            “Dar, lo mau pake sambal apa ngga?” tanya Dira sambil menyodorkan satu botol saus sambal untuk ditambahkan ke dalam baksoku.
            “Nggak, deh.”
            “Oh, yaudah,” kata Dira. “Makasih, Bang,” katanya lagi sambil mengembalikan botol saus sambal kepada tukang bakso di kantin.
            “Cari tempat duduk, yuk, sekarang,” saranku sambil berjalan menuju tempat duduk kosong terdekat.
            Dira hanya bergumam, “Terserah.” Lalu dia berjalan di sebelahku. Badannya yang tinggi sangat cocok dengan tubuhku yang juga terbilang cukup tinggi ini. Melihat Dira berjalan dengan gagahnya, bisa kulihat tampang mupeng kakak-kakak kelas yang juga ingin berada di posisiku. Haha! Ehh, Dira bukan pacarku, ya. Hanya teman dekat. Tapi berjalan di samping dia membuatku cukup bangga, karena dia ganteng, jadi orang ngiri sama aku. Hehe.
            Aku dan Dira kemudian duduk dan mulai berbincang-bincang.
            “Eh, Dir, habis ini satu jam pelajaran lagi terus pulang, kan?” tanyaku.
            “Iya,” jawab Dira tanpa memandangku. Tatapannya fokus ke satu mangkuk bakso yang dibayangan dia sepertinya terasa sangat lezat. “Ngomong-ngomong soal pulang cepet...” lanjutnya menggantung kalimat. “Nonton, yuk, hari ini.”
            Aku menghentikan makanku. “Hah?” Kok, tiba-tiba diajak pergi gini.
            “Iya. Kan besok udah Sabtu, terus minggu depan mulai libur. Gak apa, kali. Emang kenapa?” Dira balik bertanya kepadaku. Sambil tetap makan baksonya tentunya.
            “Yaaa. Tumben aja. Lo kan jarang banget ngajak gue kemana-mana. Kenapa, nih? Lo flirting, ya?” tanyaku sambil tertawa. Kuminum teh botol di samping mangkuk baksoku.
            Dira menghentikan makannya, dan menatapku seolah aku alien teraneh yang pernah dia lihat. Walaupun dia memang tidak pernah melihat alien, sih. “Apaan, sih, lo? Ngapain juga flirting sama lo? Kayaknya gue deserve someone better, deh,” katanya, lalu melanjutkan satu suapan bakso terakhirnya.
            “Yeee. Berasa paling ganteng aja!” dumelku. Walaupun aku merasa memang dia yang paling ganteng di sekolah ini, sih. Aku lalu mencomot baksoku lagi. “Emang mau nonton apaan?”
            “Nah, itu dia.” Dia mencomot bakso terakhirku.
            “EEEEH, ITU BAKSO TERAKHIR GUE!!!” seruku. Mendengar teriakanku, semua orang memandang ke meja kami.
            “Ck, daritadi tu adek kelas bikin gue ngiri aja. Malah sekarang manja-manjaan gitu lagi,” ujar salah seorang kakak kelas kepada tiga orang temannya. Hu..salah sendiri kagak temanan sama cowok ganteng! Keseringan dandan, sih!
            Tanpa memedulikan omongan orang-orang di sekitar, Dira memakan bakso terakhirku.
            “Gara-gara lo, gue rugi 750 perak! Bete!” kataku bercanda. Tapi kesel benaran, sih! Niatku kan mau makan bakso terakhirku perlahan-lahan.
            Semakin aku memakinya, semakin dia makan seolah-olah itu bakso terenak yang pernah dia makan. Tak suka dengan tampangnya, aku menusukkan garpuku ke tangannya.
            “Adaaw!!” teriaknya keras. Dira mengibas-kibaskan tangannya.
            Aku tertawa, “Ha ha ha!! Salah lo, ya! Makan bakso terakhir gue plus membuat gue rugi!”
            “Ya elah pelit banget sih,” katanya, sambil melihat ke arah tangannya yang kini dihiasi empat lubang. Dira tampak sangat mengasihani tangannya yang sebelumnya mulus.
            Aku memegang tangannya, melihatnya sekilas, dan melepasnya. “Duile, lebay banget, Mas. Kagak berdarah, juga,” cibirku.
            Tidak memedulikan cibiranku, Dira melanjutkan topik yang sempat terpotong, “Nah, itu dia, Dar. Gue bingung mau nonton apa.”
            “Lah, gimana sih? Lo maunya apa?”
            Dira hanya mengedikkan bahu. Lalu menjawab, “Terserah.”
            Bel berbunyi. “Dar, yuk ke kelas,” katanya kepadaku yang menatapnya dengan satu alis terangkat.
            Mau ngajak pergi nonton, kok, gak tahu mau nonton apa?


==
            “Dir, mau nonton apaan, sih?” tanyaku ketika aku dan dia sedang sama-sama merapikan peralatan di atas meja kami. Oh iya, kami juga hari ini duduk bersebalahan, loh. Haha. Peace.
            Tiba-tiba dia menghentikan gerakannya, mengambil satu buku tebal dari dalam tasnya, dan berjalan ke depan kelas, “Bentar, Dar, gue mau ngomong dulu sama kelas.”
            Oh, iya, aku lupa bilang kalau Dira juga ketua kelas di kelas ini.
            Dira berdiri di balik meja guru, di depan anak-anak satu kelas. “Perhatian!” serunya kepada satu kelas.
            Seluruh anak di kelas langsung memerhatikan Dira. Memang si Dira itu ada kharismanya. Bahkan anak paling bawel, cerewet, dan hiperaktif di kelas langsung berhenti dari cerita jayusnya ketika Dira berseru.
            “Kita dikasih buku tambahan nih, dari guru Biologi kita. Mau difotokopi aja atau ngga?” tanya Dira kepada satu kelas.
            “Buku apaan, sih?” tanya Hannah penasaran.
            “Buku soal gitu. Pelajaran kelas X,” jawab Dira.
            Pandu mengangkat tangan, dan setelah dipersilakan Dira, Pandu bertanya, “Buat apaan? Memang kita perlu?”
            “Ya, tergantung. Terserah kalian mau buat apaan,” jawab Dira. Aku heran mendengar jawabannya yang aneh itu. Memang ni orang asal nyablak aja, tapi tetap dapat kharismanya. Sehingga Pandu hanya mengangguk mendengar jawaban Dira.
            “Emang lo megang berapa buku, Dir?” tanya Hannah lagi.
            “Satu.”
            “Whaaaaaaaaat??? Terus kita harus fotokopi, gitu?” tanya Hannah keras. “Lo kira duit kita banyak?!” Hannah sang bendahara mulai kritis terhadap uang kelas.
            “Ya, terserah. Mau difoto juga boleh. Kan pada punya iPad, tuh,” jawab Dira seadanya.
            “Dir, Dir, itu kita wajib punya?” tanya Bonang, sambil melihat buku tebal di tangan Dira. Aku bisa membayangkan Bonang berpikir apa di dalam kepalanya saat ini. Itu yakin buku soal satu tahun aja? Gila banget kalau sampe iya. Kayak buku UN! Buku UN aja lebih tipis, kali. Mau difotokopi pasti mahal banget! Mungkin begitu pikirnya.
            “Terserah,” jawab Dira singkat.
            Aku melipat tanganku di depan dada. “Dir, jangan terserah-terserah mulu, dong! Jadi galau, nih, kita mendingnya gimana!” kataku lantang.
            Semua langsung setuju. Satu kelas gaduh, “Gak usah! Gak usah! Gak usah!” seru teman-temanku.
            “Perhatian!” seru Dira lagi. Semua orang langsung diam. “Ya kan gue bilang terserah. Yang rajin belajar ya silakan difotokopi atau disimpan dalam bentuk apapun, yang males ya ga usah disentuh! Terserah, lah!”
            “Yaaaahh, gak menjawab pertanyaan, itu mah, Dir!” celetuk Bonang lagi.
            “Nih, ya, pendapat gue, fotokopi aja! Soalnya ni soal buatan guru kita, gak dijual di toko-toko buku kesukaan lo. Dan dua tahun lagi kan kita UN, gak ada salahnya nyiapin dari sekarang, kan,” jawab Dira panjang lebar.
            “Nah, gitu, kek. Jadi kan jelassss,” kataku puas. “Tuh, Han. Berarti lo besok narik-narikin uang sekelas buat fotokopi buku bio-nya!” kataku kepada Hannah.
            Dira menatapku, “Apaan, sih, lo. Lo kan bukan ketua kelas. Mau jadi wakil ketua, lo? Yaudah, teman-teman, mulai hari ini Dara jadi wakil ketua kelas, ya!”
            “WHAAATT?! Apa-apaan, sih!” seruku. Tidak, aku sangat tak mau menjadi pejabat kelas.
            “Ce ileeee, gak apa, tuh, pasangan Dira-Dara jadi ketua kelas dan wakil ketua kelas bagus juga,” ujar Laila si biang gosip kelas.
            “Gue bukan pasangannya Dira!!!” seruku kesal.
            “Jadi lo mau jadi wakil gak sih? Siapa yang butuh deklarasi kalau lo bukan pacar gue, sih?” tanya Dira kesal. Nadanya mulai terdengar otoriter.
            Hannah menatapku. “Dar, kita kan emang lagi butuh wakil ketua kelas, terus lo kayaknya orang yang paling sering diskusi sama Dira, jadi dia pasti bisa klop banget kalau pasangan duetnya elo, Dar,” jelas Hannah. Pasangan Duet? Udah kayak Anang-Ashanty aja, deh.. “Dan yang paling penting, gue merasa aman banget kalau lo jadi wakil ketua kelas, Dar,” lanjut Hannah sambil nyengir ke arahku. Tak bisa dipungkiri kalau Dira kadang suka malak Hannah buat fotokopi soal-soal pemberian guru, padahal sebenarnya...gak ada satu pun anak yang mau itu soal!
            Aku hanya menunduk, “Iya, deh.”
            Dan semenjak saat itu, aku secara resmi (dan sedikit dipaksa), menjadi wakil ketua kelas X-5. ‘Pasangan duet’ Dira.
==
            Aku dan Dira pergi ke mal yang paling dekat dengan sekolah dengan harga bioskop sesuai kocek pelajar. Mal sepi saat itu. Heran juga, padahal sudah mulai libur.
            Aku dan Dira berjalan masuk ke dalam bioskop. Seperti biasa, semua orang memerhatikan Dira semenjak dia masuk. Bahkan sampai saat ini, ketika aku dan Dira sedang melihat film apa saja yang ada saat ini.
            Bisa kudengar bisikan dua orang perempuan yang berada sekitar 3 meter dariku, “Lihat, deh.. anak SMA zaman sekarang ganteng-ganteng banget, ya. Sayang banget gue lahir kecepatan..” Hus! Parah banget, sih, nih orang. “Tapi kenapa orang ganteng selalu udah punya pacar, ya? Dan yang dipilih pasti biasa aja orangnya.”
            “Yaa, mungkin buat mengimbangi cowoknya kali. Kalau ceweknya juga cantik, nanti bisa ngebuat pesimis semua cewek di muka bumi ini. Nanti banyak cewek bunuh diri gara-gara merasa dunia tidak adil, ya kan?” celetuk temannya.
            Bisa kulihat si cewek yang melontarkan pertanyaan mengangguk-angguk saja dari sudut mataku. Please banget! Sejelek itukah aku? Lagian aku juga bukan pacar Dira kali!
            “Woy, mau nonton apaan?” tanya Dira lagi.
            “Yaaa, lo yang ngajak, lo yang milih, lah.”
            “Terserah lo, deh,” kata Dira.
            “Yaaa, yang ada terserah lo lah! Lo yang ngajak, lo yang bayar, masa gue yang milih?” kataku heran.
            “Terserah lo, deh, Dar. Seriusan gue.”
            “Mana ada orang serius ngomong ‘terserah’! Orang serius tuh punya rencana yang matang,” kataku (sok) bijak.
            “Mana ada orang mau nonton pake serius segala.”
            Pada akhirnya, aku yang memilih film apa untuk ditonton, karena Dira tidak henti-hentinya bilang terserah ketika aku mengatakan bahwa lebih baik dia yang memilih.
            Pilihanku jatuh kepada Habibie & Ainun. Karena teman-teman berkata filmnya keren dan mengharukan sekali.
            Bisa kudengar suara decakan Dira ketika pilihanku jatuh kepada film itu. “Jangan salahin gue karena gue pilih ini. Lo yang tadi bilang terserah,” sindirku tegas.
==
            “Mengharukan, ya, filmnya,” kataku sambil mengusap air mata haru di pipiku.
            Yes! Gak nyesel, deh, pilih film ini. Bagus, romantis, bikin semangat, mengharukan, dan yang paling penting, gratis!
            “Ya.. lumayan keren juga ada subtitlenya. Walaupun agak bikin pusing,” komentar Dira.
            Aku menatapnya heran. Kok, ini orang malah ngomentarin subtitle?
            “Aktingnya juga bagus, kok.. Bunga Citra Lestari cantik banget,” lanjut Dira.
            “Yee... dasar cowok! Reza Rahadian juga ganteng banget! Langsung naksir gue. Jangan-jangan habis ini dia jadi presiden beneran..habis pas banget!” kataku membalas Dira.
            “Mana ada gara-gara aktingnya jadi presiden bagus, terus dia juga jadi presiden. Please, deh.”
            “Yaa ada, lah! Kalau ternyata emang cerdas, dermawan, bijak, dan pandai memimpin, terus beriman? Kenapa nggak?”
            “Lagipula, gantengan gue,” katanya tidak menghiraukan kalimatku.
            “HAHAHA! Kelihatan dari sudut mana, ya, gantengan lo? Aduh, Dira, Dira. Lo tuh kudu cepet-cepet bangun dari alam mimpi!” sindirku.
            “Terserah, lo, deh.” Yah, ni orang jawab terserah lagi. Apa memang semua cowok suka jawab terserah, ya? “Tapi emang gue akuin filmnya bagus.”
            “Iya. Ainun istri yang baik sekali..” komentarku.
            “Noh, lo kalo jadi istri yang baik dan berbakti sama suami ya kayak tuh. Jangan slenge-an begini,” katanya sambil melihatku dari atas sampai bawah.
            Aku yang merasa direndahkan segera membalas perkataannya, “Lah, kayak lo bakal jadi bapak yang baik, aja! Lagian gue juga gak bakal jadi istri lo, kok! Ew.” Aku kemudian diam dan memperhatikan lantai yang dilapisi karpet. “Eh, lo nanti mau jadi suami yang kayak gimana?” Pertanyaan yang aneh, sih, tapi, ya, penasaran aja!
            “Kenapa emang? Mau ngelamar gue, lo? Gak gue terima. Maaf, ya.”
            “Kepedean banget, sih, lo! Nanya doang, kali. Siapa tahu lo mau jadi ayah yang baik hati, tidak sombong, atau otoriter sama keluarga, atau kejam, atau apa..”
            “Yaaa.. terserahlah.”
            Aduh.. kenapa lagi ni orang jawab terserah lagi. “Kok terserah, sih?”
            “Ya, terserah istri gue,” jawabnya cuek.
            ...Mana ada begitu!
            Tanpa kusadari, ternyata Dira sudah menuntunku berjalan ke arah McD. Segera, aku masuk ke dalam dan mengantre, diikuti oleh Dira.
            “Bayarin gue, ya, Dir. Hehehe. Lo tau gue kan ke sini gara-gara lo pinta.. terus gue gak ada uang,” kataku, ngeles.
            “Iya. Tapi nanti ganti ya. Hehe,” kata Dira. Melihat tampang polosku yang kuyakin super lucu ini (oke, ini memang aku yang ge-er), Dira melanjutkan, “cuma bercanda.”
            Dengan sigap aku makan makanan gratisan (lagi), sesaat setelah kami duduk. Herannya, Dira tetap orang yang pertama selesai makan. Dasar cowok.
            “Eh, lo rencananya mau masuk mana, Dir?” tanyaku, membuka pembicaraan.
            “Masuk mana apaan maksudnya?” tanya Dira bingung
            “Kuliah.”
            “Oh, Gak tahu. Masih lama itu mah,” jawabnya santai.
            “2 tahun itu cepat, loh.”
            “Emang lo mau masuk mana?” tanyanya balik, sambil memain-mainkan sedotan di gelas minumannya.
            “Psikologi UI.”
            “Oh, lo ngambil IPS?”
            “Iya. Lo mau ngambil IPA atau IPS?” tanyaku lagi.
            “Gak tahu. Tergantung nanti.”
            Duh, heran, deh, sama cowok ini. “Tadi ‘Terserah’, sekarang ‘Gak tahu’. Gimana, sih? Kayak kagak punya pendirian, deh.”
            “Yaaa, terserah gue. Hidup hidup gue.”
            Duuh. Ya ya ya. Gak bakal pernah berlanjut pembicaraan kayak gini mah. Terus aja jawab “Terserah” atau “Gak tahu”! pikirku dalam hati.
            Ya sudahlah, yang penting dia udah jajanin aku hari ini. Oh, iya! Harus bilang makasih. “Makasih, ya, Dir,” kataku tulus.
            “Apaan?”
            “Traktirannya.”
            “Oh, iya sama-sama.”
            “Sebenarnya, traktiran ini tuh, dalam rangka apa, sih?” tanyaku penasaran.
            “Hmm.. Apa, ya? Terserah lo, deh, mau bilang dalam rangka apaan juga.”
            Ugh...... terserah...

==
            Semester dua di kelas X. Aku gak pernah nyangka kalau liburan akan terasa sangat cepat. Baru sebulan kami menginjak semester 2, ada guru yang marah, “Kalian ini sudah cukup lama di SMA, tapi kelakuan masih kayak anak SD! Saya di sini untuk mengajar anak SMA, bukan anak SD!”
            Oh, tidak...apa yang kami lakukan. Biar kuingat-ingat... Tadi berawal dari cerita Pak Said tentang Indonesia..terus pasal-pasal ya? Ohh! Tadi banyak yang mengeluh soal “pasal-pasal Indonesia terlalu banyak” atau “buat apa sih bikin peraturan sebanyak itu” atau “kebebasan itu nggak ada! Kalau ada, gak bakal tuh ada undang-undang setebal kayu jati” atau “gue mau jadi rakyat biasa aja kenapa mesti hapal pasal-pasal!”. Rupanya Pak Said sangat tidak suka candaan seperti ini.
Seketika kelas hening. Yang terdengar hanya suara amukan guru PKN di depan kelas. Semakin lama kelas semakin hening, apalagi ditambah dengan dibawanya pasal-pasal dan undang-undang ke dalam omelan guru tersebut.
            Tik. Tik. Tik.
            Hanya terdengar suara jam, sampai akhirnya, “Sudahlah! Bapak berhenti mengajar hari ini. Sekian!” seru beliau, kemudian keluar dari kelas dan membanting pintu tertutup. Padahal masih ada satu setengah jam pelajaran lagi.
            Sedetik lamanya kami hening, sebelum semua gaduh.
            “Ini semua gara-gara lo, sih, Nang!” seru Hannah kepada Bonang.
            “Kok, gue?! Semuanya kan Pandu yang mulai!” tuduh Bonang kepada Pandu.
            “Gue mulai apaan coba! Gue jawab serius tentang pasal-pasal itu. Sampai tiba-tiba lo sama Fenny nyeletuk gak penting!” seru Pandu.
            “Kok bawa-bawa gue! Gue gak ngapa-ngapain!” tukas Fenny.
            Semua semakin larut...larut..dan larut... dalam teriakan masing-masing. Uh... gak tahan... HH!!!
            “Bisa diam, gak, sih!!!” teriak Dira yang tiba-tiba ada di depan kelas. Wuih, baru saja aku mau berteriak.
            “Ya, terus, gimana?! Bisa-bisa kelas kita dicap jelek sama guru-guru! Kalau Pak Said ngegosip di dalam ruang guru gimana!” teriak Bonang.
            “Ya kalau sampai kayak gitu, itu semua salah lo!” tuding Hannah. Jarinya menunjuk ke arah Bonang.
            Mata Bonang terpusat pada jari telunjuk kanan Hannah. “Tolong, ya! Kayak lo lo gak pada mulai aja, sih!”
            Lalu semua mulai gaduh. Aku kemudian berjalan menuju samping Dira, di depan kelas. “Lakukan sesuatu, Dir!”
            “Lakukan apa?!”
            “Apa, kek! Daripada kelas kita jadi gak kompak!” kataku.
            Dira kemudian mengetuk papan tulis dengan spidol di tangan. “Stop! Kayak gak ada cara yang lebih bagus daripada saling nyalahin! Kalian berisik banget, tahu, gak! Kayak anak bebek!”
            Aku terbelalak mendengar perkataan Dira. Apa-apaan, sih, Dir... ini lagi ngejayus apa serius?
            “Ya terus kita harus gimana?!” teriak Bonang. Sepertinya dia yang merasa paling terganggu dengan keadaan ini.
            “Gak tahu! Cobalah cari sendiri!” seru Dira.
            “Ya gimana mau nyari kalau pada gak mau ngalah!” teriak Hannah sambil melotot ke arah Bonang.
            Bonang membalas pelototan Hannah.
            “Ya, terserah!” teriak Dira.
            Kemudian kelas hening. Duh...penyakit “terserah”-nya Dira mulai lagi, deh. Bahkan di saat seperti ini? Dengan masalah ini? Di depan kelas? Dir? Are you freaking kidding me?
            Bonang yang kesal langsung menyembur, “Dir, kata “TERSERAH” lo itu bikin gue muak, tahu, gak! Gak ngasih jalan keluar!”
            “Tahu! Kita kan gak tahu, makanya kita nanya lo! Dan lo malah jawab terserah! Tahu gitu gue gak usah nanya ke lo kali. Repot!” teriak Fenny. Kemudian sekelas mulai mengeluarkan pendapat mereka tentang “terserah”-nya Dira.
            Dira terdiam. Aku tertunduk, kupegang dahiku sendiri. Aduhai, Dira... udah gue bilang jangan bilang “terserah”, pikirku.
            Karena kulihat Dira mematung, diam seribu bahasa, akhirnya aku mengambil alih tugasnya.
            “Yah, kita lihat sendiri kan Pak Said keluar tadi. Dan gak bisa dipungkiri, itu salah KITA. KITA, ya. Bukan lo, bukan gue. Bukan dia, bukan Bonang juga,” gantungku. Bisa kulihat Bonang yang dari tadi tersudut menyengir pertanda berterima kasih. “karena itu, lebih baik kita bersama-sama meminta maaf. Yah?”
            “Caranya?” tanya Hannah yang hampir menangis. Di kacamatanya mulai terlihat bercak-bercak air mata. Rupanya dia merasa sangat bersalah karena membuat seorang guru kesal.
            “Yaa, perwakilan dari kita datang ke Pak Said, meminta dia untuk kembali ke kelas, dan bersama-sama kita minta maaf. Klise memang, tapi kalau kita minta maafnya tulus, Pak Said pasti mengerti,” kataku, dan semua mulai mengangguk-angguk. “Lagipula, tadi tuh masalah kecil yang seharusnya gak usah diungkit. Kita mengomentari hal yang seharusnya tidak dikomentari secara berlebihan. Termasuk soal kata “terserah”.”
            “Hmm, terus, siapa yang harus mewakili?” tanya Pandu.
            “Gue, si ketua kelas yang lagi diam saja ini, dan satu orang yang paling banyak nyeleneh tadi. Satu aja.” Ketika kulihat tidak ada yang mengajukan diri, aku menambahkan, “Jujur, dong. Pada mau diajarin lagi, gak, sih?”
            Kemudian Bonang mengacungkan tangan.
            Hannah yang melihat hal itu mencibir, “Tadi aja gak mau ngaku.”
            Bonang menyengir. “Biasa, yang tersudut pasti membela.”
            Lalu aku, Bonang, dan Dira ke ruang guru untuk berbicara dengan Pak Said. Pak Said lalu mengikuti kami ke kelas, dan setelah semua mengucapkan maaf, Pak Said kembali mengajar kami....dengan nada sedikit ketus. Tapi, daripada tidak sama sekali?
==
            “Thanks,” kata Dira tiba-tiba.
            “Kenapa?” tanyaku.
            “Lo tadi udah mau gantiin gue.”
            “Ooh, kan emang tugas gue.”
            “Ya, bagus juga lo jadi wakil, hehehe,” kata Dira sambil cengar-cengir ke arahku.
            “Ya, tapi lo beneran harus menghilangkan kebiasaan lo ngomong “terserah”,” semprotku.
            “Kata lo, itu termasuk hal yang gak perlu dikomentarin?”
            “Ya, gak perlu dikomentarin secara berlebihan. Tapi emang sesungguhnya kudu cepet-cepet dihilangkan. Bikin orang kesel, tahu nggak?” tanyaku.
            “Kenapa?” tanya Dira balik. Kayaknya nih orang gak ngerti banget.
            “Kayak gak punya pendirian, tahu, nggak!” kataku. Kesal juga lama-lama.
            “Lah, gue kan ngomong terserah untuk menghormati orang yang ngobrol sama gue,” kata Dira membela diri. “Siapa tahu dia punya pilihannya sendiri,” tambahnya.
            “”Menghormati” kentutmu! Ya, masa, lagi keadaan terdesak lo malah jawab terserah! Gak sopan justru! Kalau orang yang nanya ke lo bener-bener lagi butuh jawaban gimana? Coba buat ngilangin kebiasaan ngomong terserah, deh,” ceramahku.
            “Kalau ngomong terserah gak boleh, terus kenapa harus ada kata “terserah”?” tanya Dira tiba-tiba.
            “Yaa, buat nolongin orang-orang yang gak punya pendirian macam lo!” tudingku.
            Bisa kulihat Dira akan mulai melancarkan pembelaan lagi. Buru-buru aku menjawab, “Nih, ya, Dir. Jawab terserah itu sebenarnya gak apa, dengan dua syarat: 1. Lo bener-bener gak tahu mau apa. 2. Tidak sedang dalam keadaan terdesak.”
            Dira mulai mengangguk-angguk tanda mengerti. Syukur, deh. Masa, ganteng-ganteng malah gak punya pendirian. Kan gak guna itu gantengnya.
            Kemudian aku dan Dira berjalan bersama ke parkiran motor. Tanpa kusadari, ternyata aku mulai terbiasa diantar pulang oleh anak yang seharusnya belum boleh mengendarai motor ini.
            Dira sudah duduk di atas motor dan memakai helmnya ketika dia melihatku memandangnya dengan tatapan “mana helm buat gue?”
            Dira memandangku heran dari balik helm. “Gue baru sadar satu hal... Kenapa lo jadi pulang bareng gue terus?”
            Aku hanya mengedip-kedipkan mata. Aku sendiri pun tak tahu alasannya.
            Kemudian Dira mengeluarkan senyum licik, “Terus, lo mau gak gue anter pulang?”
            Basa-basi, aku menjawab, “Terserah.”
            Dira lalu berseru, “TUH! LO BARUSAN NGOMONG TERSERAH!”
            “Yaaa, kalau gue, kan memenuhi dua syarat yang gue sebutkan!” tukasku.
            “Lo kan tahu jawaban yang lo pengen!”
            “Apaan, emang?” tanyaku menantang.
            “Lo pengen gue bonceng, kan? Lumayan..gratis. Pasti itu pikir lo!” Shoot. Tepat sasaran.
            Aku hanya menyengir. “Kan gue lagi melatih keikhlasan lo, Dir.”
            “Alah, alasan,” kata Dira sambil menghidupkan mesin motornya.
            “Serius, deh. Ya sudah, paling tidak gue memenuhi syarat nomor dua, kan?”
            “Ya ya ya. Udah buruan naik! Malah berdiri aja.”
            Tanpa babibu, aku langsung naik dan memakai helm yang disodorkan Dira. Lagian dia sendiri tanpa sadar jadi selalu bawa helm dua. Haha.
            Sepanjang perjalanan Dira terus-terusan menyuruhku untuk bertanya dan memastikan agar dia tidak lagi berkata “terserah”.
            Ketika aku sudah sampai depan rumah, aku bertanya kepada Dira yang sudah siap-siap untuk pulang, “Dir, jadi apa alasan lo untuk belajar ga bilang ”terserah”?”
            Dira dengan mantap menjawab, “Habis, lo gak suka cowok yang ga punya pendirian.”
            “Hah?” tanyaku heran. Baiklah, sesungguhnya gue kira jawabannya akan sesuatu seperti “karena itu gak sopan” atau “karena itu bikin kesal”.
            Belum menjawab keherananku, Dira langsung ngeloyor pergi.
            “WOOY DIR! MANA ADA ALASAN KAYAK GITU, HEEEY!!”
            Tapi dia tidak menghiraukan aku yang sudah berteriak-teriak memanggilnya. “Huh! Semoga ketilang polisi, deh, tu anak! Nyebelin banget sih!” gumamku. Tapi kemudian aku berpikir... “Eh, jangan sampai, deh. Nanti pasti polisinya keki, soalnya pas ditanya, dia bakal jawab “terserah” melulu, sih!”


2 comments:

Alandra Dianti Putri said...

durraaaaaa lucu banget cerpennya sumpah! lagi doong

D said...

Arigatou :) Akan mencooobaa. Setia menunggu yap :)

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'