April 27, 2015

Hasil Rasa-rasa Goa

Terkadang aku malu tiap ditanya, 
"Anak pecinta alam? Divisi apa? Sudah kemana saja?" 
"Divisi caving (goa), sudah ke goa X, goa  Y.." 
"Woow anak caving. Keren." 
Dan kemudian aku tersenyum, lalu mengalirlah cerita-cerita tentang keindahan goa..

*


Padahal, bagiku goa tidak semenyenangkan yang orang pikirkan, dan yang aku buat orang untuk berpikir seperti itu.

Boro-boro menyenangkan, justru rasanya menyeramkan.
Tapi dibalik segala keseraman dan kemisteriusan sebuah goa, selalu ada pelajaran. Pelajaran yang mungkin kudapat justru akibat akumulasi dari seluruh ketakutanku dalam goa.


1. Diantara semua kegiatan dalam caving, sesungguhnya hal paling mengkhawatirkan adalah melakukan rigging.


Rigging dalam goa macan. Rigging dalam gelap. Yeaha. Terima kasih Thomas Alfa Edison yang sudah membuat lampu!!!

Rigging jelas merupakan salah satu hal utama dan pertama dalam perjalanan goa vertikal. Dimulai dari orientasi medan, mencari tambatan yang tepat dan kuat, sampai ke pemasangan webbing dan segala macamnya. Menentukan sudut dan lalala supaya lebih akurat..Semakin akurat semakin yakin kita untuk masuk ke dalam goa. Kemungkinan selamat semakin besar. Dan di sini timbullah berbagai macam kekhawatiran untuk menjadi sempurna.
Dari proses ini aku sadar betapa pentingnya sebuah persiapan, dan seluruhnya berefek domino dengan bagaimana kita melakukan perjalanan. "The first step", just like what people said, is definitely the most important.


2. Menurutku belum ada perumpamaan sederhana yang lebih cocok untuk mendeskripsikan harmonisasi dari kepasrahan dan usaha seseorang selain ketika dia menggantung pada tali di goa vertikal.


Descending. Saat kaki menyentuh tanah, itulah dasar. Rasanya ketika kaki menapak itu loh.. Alhamdulillah.
Rindu menapak.

Latihan di sekret dengan tali menggantung mungkin tidak semenakutkan itu. Dengan cahaya yang berkecukupan, dengan banyak pasang mata dapat melihat kita dari bawah, sehingga tidak ada rasa kesendirian yang menghantui dan gelap yang menyelubungi, menggantung pada tali memang sekadar "menggantung pada tali".

Tapi ketika aku disodorkan dengan realita dalam goa, ternyata semua itu tidak menjadi "sekadar menggantung pada tali". 


Rasanya, "Hidupku ada pada bagaimana persiapanku kemarin lusa untuk hari ini, bagaimana kekuatanku saat ini, seberapa baik aku mempergunakan alat di tanganku ini, dan seberapa besar keyakinan aku kepada Allah yang menciptakan jiwa raga(aku)  dan orang-orang pintar yang membuat alat-alat ini."

Pengalaman pertama, ketika jarak dari atas ke bawah mungkin memang hanya 15m, dengan tengah tali adalah 7,5m mungkin bukan apa-apa. Lampu senter teman-temanku dari atas daratan maupun dasar goa masih bisa mencapai aku yang menggantung pada tengah tali. Segala kalimat yang mereka lontarkan masih bisa terdengar sayup-sayup di telinga.
Tapi ketika jarak dari atas ke bawah 60 m, bentukan goa vertikal merupakan chamber dengan anchor di dalam goa, dan pertengahan tali dari bagian atas dan bawah adalah 30m? Sungguh aku gak pernah merasa betapa aku sendirian selain saat itu, padahal jarak terjauhku dan teman-teman hanya 30m, (kecuali kalau dalam perjalanan ke goa berikutnya aku lebih jauh masuk ke dalam bumi..). 30meter yang rasanya seperti memisahkan aku dan dunia nyata. 

"Hanya ada aku, seluruh peralatan ini, dan kepercayaanku kepada Tuhan yang Maha Esa." Boleh bilang aku lebay, tapi saat itu memang hanya itu yang kupikirkan.


Tidak ada yang bisa mendengar suaraku, dan tidak ada suara lain yang bisa kudengar. Tidak ada ujung yang bisa kulihat karena bentukan goa chamber dan gelapnya goa sungguh hitam. Sampai-sampai aku tidak berani mematikan lampu senterku, khawatir aku tidak tahu dimana letak senterku yang jelas terpasang di helmku. Tidak kulihat daratan, tidak pula kulihat langit-langit di atas. yang kulihat hanya tubuhku, tali yang menggantungku, dan seluruh peralatan yang menyelamatkanku agar tetap bersandar pada tali ini. Semua bergantung pada usahaku, dan seberapa percaya aku pada Tuhanku.

Dan saat senior divisiku berkata, "Yang paling lama mencapai atas goa vertikal ini adalah Durra, dengan total waktu kurang-lebih 50 menit." padahal seluruh teman-temanku hanya sekitar 30menit, maka saat itu aku cuma bisa berkata,


"....Kak, mental saya turun di tengah-tengah tali. Stamina saya berkurang drastis." Like..DRASTIS

Dan saat itu aku percaya betul bahwa keyakinan memang diperlukan seseorang. To gain some strength, people needs to believe.



3. Kita ini memang benar-benar makhluk sosial. Dan keberadaan orang lain memang bagaikan tetesan hujan di batasnya kemarau (terus nyanyi lagu Hebat-Tangga).



Keberadaan kawan itu sesuatu banget. Anyway, si Digor ini memang agak fotogenik ya.

Hal paling mengharukan yang diberikan Tuhan kepadaku adalah fakta bahwa setelah perjuangan seorang diri itu, kutemukan kembali orang-orang di sisiku *ea.
Saat itu aku yang pertama naik kembali ke atas goa vertikal sedalam 60m, setelah berlama-lama menggantung di tali dan mengeluarkan segala suara yang bisa dikeluarkan kaki, tangan, dan ayat-ayat yang bisa menyelamatkanku dari ketakutan ini, berharap kawan-kawan diatas mendengar rusuhnya gerakanku, suara temanku yang memanggil namaku dari atas goa terasa sangat indah (di situasi biasa, sebenarnya biasa aja) dan menenangkan.

"Durra?"

Rasanya ingin sujud syukur mendengar namaku yang sebenarnya biasa saja dipanggil setelah bermenit-menit tidak mendengar siapapun memanggilku. Tapi gak bisa sujud syukur saat itu, karena aku masih menggantung di atas tali.

"YA! YA! YA! INI DURRAAAA YEAAAY HUHU:'"

Kala itu adalah saat-saat paling menenangkan, paling menyenangkan, dan undescribable. As simple as that, tapi sangat bermakna. Memang. Together we're stronger.(Ya, aku sangat ingat bagaimana kemudian aku jadi semangat kembali mengangkat diriku untuk semakin naik ke permukaan)


4. Hanya dalam goa dengan semua cahaya padam aku tidak tahu apakah aku masih hidup atau sudah mati--jika tidak ada suara dari nafasku dan teman-temanku.
Gelap. Bau tanah. Tekstur tanah. Kelembaban tanah. Semua serba tanah. Bagaimana bisa aku tidak merasa seolah-seolah kita di dalam tanah--terkurung.
Mungkin suatu hari teman-teman harus mencoba untuk duduk diam, lalu matikan senter dalam goa. Maka saat itu, mau mata kita melek ataupun terpejam--gak ada bedanya. Gak ada rasanya. Mau melotot sebesar apapun, tidak ada cahaya masuk. Satu-satunya yang membuatku sadar aku masih di dunia nyata, masih hidup, adalah karena aku dan teman-temanku masih berbicara.
Karena jika tidak ada suara, hanya tetesan air dalam goa, dengan segala bau tanah itu, mungkin lagi-lagi aku merasa sendiri. Dan tiap kali itu terjadi aku bertanya, "Apa aku masih hidup? Apa aku sedang berjalan-jalan di dalam goa, atau sebenarnya, kemarin-kemarin (saat cahaya masih ada), hanya ingatanku akan dunia?"
So scary.



5. Jika teman-temanku cenderung untuk berlama-lama dalam goa, maka aku adalah tipe yang ingin segera keluar dalam goa.

Semenarik apapun ornamen dalam goa, aku tetap ingin keluar.
Di dalam goa membuat aku rindu akan cahaya. 

6. Bagiku goa itu seperti analogi yang orang berikan mengenai dunia. Tempat singgah. Kita masuk ke dalamnya dengan berbagai persiapan, dan membawa pulang sebuah bekal. Dan suatu saat kita akan kembali ke atas. Atas. Kembali ke ATAS.

Like, literally..analogi yang sama (sebenarnya ketika kembali, kita ke tanah sih... tapi kan itu raga kita. Ruh kita?..atas..)
Selalu ada degupan kencang dan semangat yang kuat tiap kali aku akan keluar goa dan melihat cahaya muncul dari balik mulut goa. "Perjalanan ini berakhir, dan aku survive!" 
The best thing in life is knowing that you have passed the storm behind.

*
Jadi, bagi orang yang merasa masuk ke dalam goa itu menyenangkan, tidak masalah. Tidak ada yang salah..memang menyenangkan, kok.
Tapi memang terkadang ada anomali. Buatku. Menyenangkan sih, tapi di sisi lain menakutkan. Goa itu menyeramkan.
Yet I'm still doing it. Why?


Caving touches me. Spiritually.
"Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (Al Kahfi (18):10)
Semoga bisa seperti pemuda-pemuda itu ya :')


P.S: 
-Believe it or not, aku menulis ini dengan tangan gemetar. Dan jantung berdegup kencang (mungkin ini efek dari kopi yang kuminum? atau memang segala pengalaman tentang caving ini memang menyentuh rasa takutku?).
-Foto kuambil dari akun facebook milik KAPA FTUI. Jadi semua foto adalah milik KAPA.
-Terima kasih untuk teman-teman yang sudah tanpa sadar mengarahkanku untuk mencicipi kegelapan dan kedalaman goa. Mungkin kapan-kapan kita bisa sholat berjamaah dalam goa.
-Dengan aku menulis ini bukan berarti aku tidak mau diajak masuk ke dalam goa ataupun jalan-jalan lainnya ya..

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'