July 11, 2016

EVEREST: Pesan Penting Sebuah Perjalan

sumber: google.com

   Tanggal 8 Oktober 2015 yang lalu, bersama senior teknik lingkungan, Cindy namanya, dengan random-nya menonton sebuah film di layar bioskop Depok Town Square, judulnya Everest. Melenceng sekali dari tujuan awal: Maze Runner 2. Namun apalah arti sebuah film, kami pun menonton.

SINOPSIS
   Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata di tahun 1996.

   Everest, sebuah gunung paling penuh misteri di dunia. Dengan puncak tertinggi berlapis salju dan tebing curam, butuh keahlian dan mental kuat untuk bisa menyentuh puncak. Rob, adalah salah satu orang yang beruntung sekali bisa menyentuh puncaknya.

   Rob membuat semacam travel untuk trip ke gunung Everest. Bersama rombongannya yang cukup banyak dan teman-teman agen travelnya yang bernama “Adventure Consultant”, Rob pun mendaki puncak Everest.

   Berdasarkan rencana awal, seharusnya mereka sampai di puncak Everest tanggal 10 Mei. Perjalanan ke atas terasa sangat menyenangkan dan smeuanya terkontrol, sampai akhirnya beberapa orang pada tim mulai merasa kelelahan. Akhirnya memang mereka mencapai puncak Everest, namun berbagai macam rintangan semakin banyak menghampiri dalam perjalanan mereka menuruni puncak Everest. Badai tiba, karena kesalahan dalam pengontrolan waktu. Hanya beberapa menit saja mereka telat, namun kerugian besar harus diterima saat perjalanan pulang.

*
   Kemarin, aku dan Cindy berhasil keluar bioskop dengan rasa depresi luar biasa. Semua cerita tentang perjalanan tim itu terasa begitu dekat (mungkin karena kami pecinta alam) sampai-sampai aku merasa pusing.
   Layaknya film barat pada umumnya, plot menjadi hal utama yang patut dibanggakan. Despite segala kedepresian yang aku rasakan, aku bisa mengerti penuh ceritanya dan semuanya sangat sesuai (walaupun aku gak tau itu puncak Everest sungguhan atau bukan) and it feels so real. Everest ini adalah bagian dari kisah nyata yang berhasil diceritakan kembali dengan baik. It has a bad ending, but it was a good film.

Kalau kupaparkan, aku mendapat cukup banyak pesan, ya..
1.       Persiapkan Perjalanan dengan Baik. Jangan sampai kita tidak tahu badai kapan datang, Jangan sampai tidak pikirkan kejadian buruk yang mungkin terjadi. Coba lihat juga kemungkinan berapa banyak orang yang akan mendaki gunung itu selain timmu. Di film Everest, karena banyaknya massa yang mendaki, jadi semacam harus semakin lama mengantre, hal ini yang kemudian ikut mempengaruhi timeline perjalanan mereka dan malah membuat mereka harus bertemu badai. Pastikan juga peralatan kita sesuai dengan medan yang akan kita tempuh. Semisal kita pergi ke gunung ber-es seperti Everest atau misalnya saja ke puncak Jayawijaya, jangan lupa siapkan sarung tangan ekstra ataupun jaket yang lebih tebal, peralatan menghadapi dingin, licin, dan berbahayanya lintasan ber-es, dll. Jangan gunakan peralatan seperti kamu pergi ke gunung Kerinci.

2.       Latihan Fisik sebelum perjalanan, cek kesehatan, jangan memaksakan untuk pergi jika kamu tidak dalam keadaan sehat. Jangan sampai merepotkan orang-orang lain. Memang orang-orang yang suka melakukan perjalanan cenderung memiliki rasa menolong yang besar, tapi kan repot kalau kamu terus-terusan ditolong hanya karena kamu kurang latihan atau ternyata sedang sakit. Orang sakit cenderung butuh banyak bantuan eksternal, bukan cuma tenaga orang lain yang mereka butuhkan, tapi obat-obatan, makanan, minuman, dan lain-lain, dan bagaimana kalau persediaan habis sebelum kamu mencapai puncak? Latihan Fisik ini juga harus dipikirkan dengan baik, loh..sebisa mungkin simulasikan latihan fisik kita mengikuti kemana kita akan pergi. Olahraga berlari yang banyak pada jalanan menanjak, sambil membawa beban, dan mungkin dapat ditambah dengan latihan memanjat.

3.      Pastikan ada orang yang ahli betul dalam timmu. Dalam film Everest, bukannya tidak ada orang yang ahli, tapi rasanya masih kurang banyak. Bayangkan, dalam film itu kalau aku tidak salah ingat—hanya 2 orang yang sibuk bolak-balik membawakan oksigen ataupun menolong mereka yang terluka ataupun kedinginan di tengah perjalanan kembali ke basecamp yang letaknya sebelum puncak. Sangat melelahkan.

4.       Pilih leader, yaitu dia yang paling ahli dalam bidangnya, dan dengarkan komandonya! Pada akhirnya menurutku kesalahan terbesar yang menyebabkan film ini berakhir dengan bad ending karena tiap-tiap orang memperhatikan egonya masing-masing ingin mencapai puncak. Padahal leader-nya sudah memberikan instruksi untuk, "Kita harus turun", dan "Ayo turun sekarang". Lalu jelas-jelas dia (yang bukan leader dalam film itu) sudah merasa sakit, kedinginan, waktu mereka sudah melebihi timeline, dan jelas-jelas sudah datang informasi akan datangnya badai. Mendaki gunung (atau apapun deh yang melibatkan orang lain) bukan cuma tentangmu, tapi tentang orang-orang lain yang ikut mendaki bersamamu. Jangan sampai karena kondisi fisik dan egomu, orang lain tidak dapat kembali ke rumahnya.

   Over all, film Everest layaknya film outdoor activity lainnya—seru, kok. Sampai saat ini aku penasaran bagaimana caranya mendokumentasikan puncak gunung dari jarak jauh—maupun dekat seperti itu (kalau itu bukan green scene) dan sangat tertarik untuk belajar. Menurutku angle-angle kameranya baik, aku mengerti betul mereka sedang ada di puncak, di antara jurang, dll. Just, as expected from western movie. Well written, well served.

No comments:

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'