October 23, 2016

Berilmu untuk Berbekal Pulang

"Kamu gak mau pulang ke rumah?"
"Nggak, ah. Aku di sini aja. Kalau di rumah, banyak godaannya. Di sini aku bisa terus dapat ilmu," jawab adikku.

Idul Adha 2016

Terkadang kita tidak sadar kita sudah cukup besar, kalau kita tidak melihat sekitar kita.

Adikku yang dulu selalu berantem denganku, sampai Bunda yang harus selalu turun melerai kami.
Adikku yang saat SD kerjaannya kejar-kejaran denganku di aula SD dan mencibir satu sama lain saat bertemu di lorong SD.
Adikku yang nilainya selalu jelek dan selalu berhasil dapat nilai bagus setelah itu karena dibantu kakak-kakaknya.
Adikku yang dulu masih berusaha lulus SMP, yang kuajar matematika saat H-1 Ujian Nasional dan dia tidak kunjung mengerti (sampai aku marah), kemudian lulus SMP, masuk SMA dan tiba-tiba sekarang sudah hampir setahun lulus SMA.

Adikku yang dulu dan yang sekarang, satu orang yang sama, dengan kondisi yang berbeda.

"Wah, adikku sudah besar."
Sekarang bukan hanya dia bisa berdiri sendiri, tapi dia tahu kepada siapa dia harus benar-benar menggantungkan dirinya.

Dan kemudian aku mempertanyakan diriku sendiri, kenapa sampai saat ini aku begini-begini saja?


Lulus SMA. Confusion Time: Kamu Punya Modal Apa?
Lulus SMA mungkin memang salah satu hal paling menyeramkan dan menegangkan. Karena kita harus menentukan sendiri kemana kita mau melangkah. Ke depan, itu adalah hidup kita. Tanpa batasan ruang lingkup dari sekolah dan standar-standar yang ditentukan oleh sebagian orang untuk dapat melewati suatu garis finish (meski sebenarnya tetap ada orang-orang yang berusaha membuat batasan-batasan tersebut, sih). Di saat inilah akan ada begitu banyak orang yang mengulurkan tangan dan menawarkan jawaban atas kebimbangan kita.

Begitu juga dengan adikku.

"Kamu mau jadi apa sih sebenarnya?" adalah pertanyaan yang, mungkin untuk adikku saat itu adalah hal paling menjengkelkan yang pernah ada di dunia ini.

Tapi setidaknya adikku ini punya modal yang menurutku, sebagai seorang muslim, sangat besar, meski nilai-nilai IPA--atau bahasaku, nilai-nilai ala anak SMA biasa--miliknya cenderung biasa saja. Dia hafal 30 juz. Bukan cuma juz 30, namun 30 juz! Dan dia suka belajar bahasa.

Setiap manusia pasti punya modal, setidak-tidaknya satu. Beberapa (re: modal) mungkin terlihat tidak signifikan, tapi yang penting, saat kita menentukan apa modal kita, sebaiknya itu adalah sesuatu yang kita akan merasa senang untuk terus menjalankannya dan mengembangkannya. It's your asset after all.

Yang menarik di sini adalah adanya sebuah kondisi dimana kita terjebak dengan keinginan-keinginan kita sendiri (dan kalau kita tidak cermat, terjebak dalam keinginan-keinginan orang juga). Kita tidak tahu yang manakah yang akan membawa kita kepada masa depan yang cerah. Dan kita tidak akan pernah bisa dengan tepat memproyeksikan, until the future becomes present.
Aku ingat saat itu adikku bilang dia ingin menjadi animator, kemudian ingin menjadi programmer, kemudian bingung, dan begitu terus.

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berpegang pada modalnya itu.


Wadi Mubarak, (Tempat di Antara) Bukit (yang) Penuh Berkah
"Bun, dia mau lanjut kemana akhirnya?" tanyaku

Aku ingat saat itu bunda menceritakan tentang Wadi Mubarak. Sebuah tempat di antara bukit, yang mana, tempat itu, penuh berkah", kata Bunda, artinya.
(Belakangan aku baru tahu bahwa 'Wadi' itu dalam bahasa arab atau istilah merupakan sungai kering yang ketika hujan mengandung air. Namun Bunda katakan sebagai sebuah (tempat di antara) bukit mungkin karena di Indonesia ini diletakkan hampir di puncak. Tapi inti makna yang ingin Bunda paparkan adalah di kata penuh berkah-nya itu. 'Penuh Berkah'nya lah yang membuat tempat itu terasa berbeda.)

Aku tidak mengantar adikku saat dia pindahan ke sana, aku cuma bisa berharap adikku betah. Karena aku dengar dari Bunda, tidak ada angkutan umum ke sana. Aku tahu adikku sangat petakilan. Dia pasti inginnya kemana-mana!
Aku saat itu masih tidak tahu dia sebenarnya ingin menjadi apa, ingin lanjut bagaimana, dan lain-lain. Dan karena adikku tidak memusingkan hal itu, ya sudahlah.

"Untuk sekarang yang jelas aku di Wadi Mubarak."
adalah jawaban yang singkat, jelas, dan padat. Sekarang aku di Wadi Mubarak. Dan aku belajar apapun yang ada di sana.

and then, boof.

Banyak hal berubah dari adikku. Tidak seperti aku yang seringkali excited tidak terkendali, kemudian murung (tidak terkendali), dan mungkin kemudian mengeluh (tidak terkendali juga..), dia terlihat seperti...seseorang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri.

Aku mendengar seberapa dia merasa sangat senang di sana. Seberapa dia senang bolak-balik asrama ke masjid atau kelasnya untuk belajar bahasa arab, dan lain-lain (yang aku lupa detailnya apa, maafkan aku), dan menghafal. Banyak santri-santri asing (dari negara lain), dan yang dari Indonesia pun datang dari seluruh penjuru negeri, sehingga bukan hanya dia belajar pelajaran yang dia pelajari sebagai seorang santri di sana, tapi juga sebagai seorang manusia yang bermasyarakat, dan tinggal di dunia, Instead of only in Indonesia.

Above all, I can feel that he is living. He is living. He is living in this world.
Some people somehow looks like they are in this Dunya, not knowing that "some people" I mentioned before is actually not living. They are only existed. The sad fact is that, probably I am included in "some people" I mentioned...

"Banyak hal yang kupelajari di sini!" katanya suatu hari dengan excited. Sebuah ekspresi senang yang tidak berlebihan, tapi aku bisa melihat bahwa mungkin benar-benar ada banyak hal yang dia pelajari di sana, melihat ekspresinya.

Orang-orang mungkin akan bertanya, "Terus nanti dia akan jadi apa?"
Orang-orang mungkin lupa bahwa ilmu agama juga sebuah ilmu. Bahwa yang disebut menimba ilmu itu bukan hanya yang tentang matematika, biologi, farmasi, arsitektur, programming, atau belajar membuat sesuatu yang baru..


Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu adalah tentang mempelajari apa-apa yang diciptakan Allah. Dan kita insya Allah menuntut ilmu yang baik jika mengetahui hal itu. Bahwa ilmu itu tentang belajar mengenai apa-apa yang diciptakan Allah. Sehingga menuntut ilmu tidak sesempit bangku kuliahan.

Sehingga, aku, yang dulu sanksi dengan fakta bahwa adikku tidak tahu ingin lanjut bagaimana, kemudian dia memutuskan untuk "Lanjut memperbaiki hafalan", spending his 2 years there, tanpa tahu setelahnya mau bagaimana, kini sadar betapa sempitnya pikiranku. Betapa mata kuda-nya hidupku.

"Doakan adikmu ya! Dia bilang, kalau dalam 5 bulan ini dia bisa hafal dengan lancar, Ramadhan depan dia ada kesempatan bisa ke Jepang (untuk menjadi imam di suatu  masjid). Karena katanya dia adalah salah satu yang cukup baik bahasa Inggrisnya juga," terang Bunda kemarin.

Lucu ya, aku. Manusia ini.
Padahal masa depan itu rahasia Allah.
Dan Allah bisa melakukan hal apapun.

*
Terkadang kita tidak sadar kita sudah cukup besar, kalau kita tidak melihat sekitar kita.
Sampai tiba-tiba kita disadarkan bahwa kita sudah cukup tua dan umur perlahan berkurang.

He is ready to face Allah anytime,
Dengan modal itu,
Dengan ilmu itu,
Dan mungkin dengan dirinya yang sekarang.

Aku tua, dan aku rasa aku belum siap dengan ilmuku ini.
Duh.

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'