April 25, 2017

[4] Menutupi Aib Hati

"Rumput tetangga selalu lebih hijau".
Pasti sering dengar kalimat seperti itu, kan?

Ya, seperti itulah memang, manusia tidak pernah puas dengan apapun yang dimilikinya. Jadi, kita mesti pintar-pintar, menjaga rumput halaman kita. Meski tidak lebih hijau, setidaknya dia terawat.

Menutupi Aib Hati

Ingatkah saat kita bersama pergi ke resepsi pernikahan saudara kita? Saat itu entah sudah kali keberapa, lagi-lagi tercuri mata semua orang. Karena kehadiranmu.

Dara menatap cermin di depannya. Hm, kurasa sudah cukup rapi, pikirnya. Dirapikannya lagi lipatan-lipatan pada baju dan roknya.
            “Dara! Sudah siap belum?!” teriak Ibunya dari lantai satu.
            Kamar Dara yang letaknya di lantai dua memang membuat keluarganya harus berteriak agar terdengar oleh Dara.
            “Iya, Ibu! Sebentar! Aku belum selesai!”
            Dara kemudian lanjut mencari kerudung yang cocok untuk disandingkan dengan pakaiannya. Harus yang panjang, tebal, syar’i, deh, pokoknya! Hm.. warna biru muda? Ah kayaknya bukan itu. Hm…putih gading?
            “Dara!!!” panggil Ibu lagi.
            “Ya, Ibu???”
            “Sudah lima belas menit dari terakhir kamu katakan ‘sebentar’!”
            Dara melirik jam di dinding kamarnya. Waduh! Mana pula rasa jam berdenting! Dara segera membongkar isi lemarinya, mencari kerudung mana saja yang dirasa panjang. Ya sudahlah, biar saja agak nabrak, yang penting panjang!
            Dara memasang kerudungnya sesimpel mungkin, lalu turun ke lantai satu.
            “Ibu, manggilnya kenapa sering banget, sih… Memangnya kita telat, ya?” tanya Dara, sambil berjalan ke arah Ibunya.
            Ibu masih membetulkan kerudungnya sampai Dara berada di sisinya. “Iya.. kita harus cepat-cepat. Kalau bisa, kan, Ibu mau lihat akadnya..”
            Sesaat kemudian, Ibu selesai memasang kerudungnya, lalu duduk di ruang tamu, bersama Dara.
            “Ibu, kita menunggu apa lagi?”
            “Kakakmu itu.”
            “Kok Kakak gak diteriakin juga kayak aku?”
            “Coba, dong, kamu panggil Kakak supaya segera turun.”
            “KAKAK! Ayo buruan! Ibu mau lihat akad Nikah Mbak Deassy dan Mas Hafiz!” teriakku kepada Kakak yang juga di lantai dua. Seperti biasa, memang Kakak selalu lama dalam bersiap-siap. Apalagi kalau mau ke pernikahan orang lain.
            Lima belas menit lamanya kami menunggu Kakak bersiap-siap. Sebelum akhirnya Kakak menjawab, “Iyaaaa! Ini sebentar lagi, kok! Tunggu sebentaaaar saja, ya!”
            Dengan muka cemberut, kukatakan pada Ibu, “Bu, tahu masih akan nambah lima belas menit lagi, tadi aku mencari kerudung yang lebih oke! Aku boleh ganti kerudung, tidak..?”
            Ibu menggeleng. “Nggak usah.. Udah rapi, kok.. kalau Nita, kan, dandan dulu.. jadinya lebih lama, toh?”
            Terus kalau Dara gak dandan..gak bisa sama lama bersiap-siap?

            Beberapa saat kemudian, Kakak turun dari lantai dua. Dengan make up yang sedemikian rupa dibuat terlihat natural dan lipstick pink merona, rambut yang dibuat ikal, dan dress putih gading simpel yang elegan. Yah, intinya, berbeda lah denganku yang kerudung dan baju agak nabrak. Yaudah lah ya.
            “Ayoo kita berangkat!” ujar Nita sambil tersenyum ke arah Ibu dan aku. Dara hanya tersenyum kecut melihatnya.
            “Hu, harusnya kan, malah gak boleh berdandan,” kata Dara. Nita hanya menyengir. Dia tahu persis fakta itu.

Padahal bukanlah syarat wanita cantik untuk dapat mencuri tatapan semua orang.

            Resepsi pernikahan didatangi oleh banyak orang. Semua nampak bahagia dengan pasangan baru ini. Senyum merekah. Makanan semerbak. Namun Dara hanya diam saja.
            “Dara, kenapa diam saja? Biasanya ambil banyak makanan,” tanya Ibu, sambil memberikan sepiring dimsum kesukaan Dara.
            Tuh, kan, akad berakhir bermenit-menit yang lalu. Telat, kan. “Tidak apa, Bu. Kakak aja yang disuruh makan. Aku mah gampang.” jawabku.
            Sementara Dara hanya duduk diam sembari makan dimsum kesukaannya—yang pada akhirnya diterimanya—yang disodorkan Ibunya, Nita berjalan ke sana kemari, mencoba melihat menu-menu yang ada.
            Selesai makan, Dara pun menghampiri Nita bersama Ibu, mengajak Nita untuk berkeliling dan menyapa orang-orang yang juga hadir dalam resepsi pernikahan, sampai akhirnya mereka bertemu dengan sahabat lama Ibu.
            “Ya Allah, Ratih!!!” serunya, sambil berjalan ke arah kami.  “Apa kabar? Awet muda banget.. ke sini bareng siapa ini? Anakmu?” tanyanya sambil melirik ke arah Dara dan Nita. Utamanya Nita.
            “Oalah Nani… Alhamdulillah aku, mah baik. Iya ini anakku. Yang ini Nita,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Nita. “Yang ini Dara,” katanya sambil memegang pundak Dara. Aku memang selalu dikenalkan kedua. Biasanya karena aku adalah adiknya Kakak.
            “Cantik-cantik banget… Anak ke berapa ini? Sudah besar sekali..”
            “Nita anak kedua, Dara anak keempat, Nan.. Iya, Alhamdulillah.. cantik-cantik..” jawab Ibu.
            Dara hanya diam sambil berusaha untuk masuk ke dalam percakapan antara Ibunya dan Ibu Nani. Mau bagaimana lagi, Dara belum menemukan saudaranya yang lain di sini. Dara kemudian berusaha mencari-cari saudaranya yang lain, mana mungkin di pernikahan saudara, tapi tidak ada yang datang lagi. Kemudian dia melihat Nita sudah mengobrol saja dengan saudara-saudara lainnya. Loh, itu ada, pikir Dara.
            Dara kemudian berusaha menghampiri Nita, dan ikut bergabung dalam obrolan, “Apa kabar, semuanya? Kuliah gimana?”
            “Wah, Dara! Iya baik-baik Alhamdulillah lumayan, lah.. haha,” jawab salah satu saudara.
            Sesaat Dara bisa bergabung dengan obrolan, sebelum akhirnya semua arah percakapan berfokus kepada Nita.

Dengan paras cantik dengan mudahnya Kakak untuk bergaul dengan orang baru, lagi-lagi aku tersenyum kecut melihatnya.
“Memang selamanya dia akan terlihat cantik dan lebih terbuka. Dan aku, sampai saat ini, masih berkutat dengan kata yang tak pernah terucap.”

            Dara kemudian hanya berdiam sambil mendengarkan dalam lingkaran kecil tersebut. Pikirannya melayang kemana-mana.

Selalu saja Kakak. Selalu. Semua orang selalu bertanya soal Kakak. Tentang betapa langsingnya kakak, tentang betapa indahnya rambut Kakak, tentang betapa putihnya kulit Kakak.

            *
            Dara melihat Nita dan Ibu berjalan di depannya.
Kakak memang cantik, ya. Rambutnya bagus. Dan dia bisa memperlihatkannya begitu saja. Dandanannya rapi dan cantik. Semua orang suka dengannya. Semua orang suka dengan dirinya yang cantik.
Dara menunduk dan melihat sepatu dan roknya yang ala kadarnya. Kerudungnya yang menjulur sampai ke dadanya menutupnya dengan sangat rapi.

*
            Hari ini Dara kembali ke lingkungan kampusnya, setelah lama menghabiskan waktu liburannya di Jakarta. Perpisahan dengan keluarganya dirasa amat menyedihkan, utamanya karena kali ini adalah kali pertama Ramadhan dilaksanakannya tanpa keluarganya.
            Ramadhan ini datang, dan Dara berusaha untuk menyelesaikan sebuah misi. Akan penyakit hati yang tak pernah kunjung pergi, tiap kali Dara di Jakarta.

*
            Nita masuk ke dalam kamar setelah melepas kepergian Dara. 
            Besok Ramadhan pertama tanpa Dara yang akan setia menghabiskan sepiring nasi milik Nita saat buka puasa.


“Dara, habiskan makananku, dong.. Kalau aku makan kebanyakan, nanti aku gendut.”
Yheu.. Makan itu harus dihabiskan! Emangnya aku tong sampah..”
“Tapi Dara kan kuruusss, aku nggak.”
“Heh.. nyindir, ya? Aku menggendut, tahu!” kata Dara, namun pada akhirnya tetap saja dihabiskan makanan milik Nita itu. “Daripada dibuang!” katanya.


Memang lucu sekali Dara ini.
            Tawa Nita berhenti saat dilihatnya bungkusan di atas meja belajarnya. Dibukanya lembar di samping bungkusan tersebut.

*
Assalamu’alaykum, Saudara perempuanku.
Kalau seandainya aku boleh berkata jujur, maka mungkin ini pertama kalinya aku berusaha untuk berkata jujur.

Bahwa aku tidak suka dengan diriku karena tak pernah henti iri padamu.
Bahwa aku tidak tahan melawan pikiran negatifku akibat iriku padamu.
Bahwa aku tidak tahan dengan diriku yang tak henti mencari kesalahanmu, karena iriku padamu.

Maka dengan tulisan ini aku berusaha menceritakan padamu, tentang iriku padamu. Aku memang tak suka banyak bicara tentang apa yang kupikirkan, tapi, ya..kurasa menulis bisa jadi jawaban.

Ingatkah saat kita bersama pergi ke resepsi pernikahan saudara kita? Saat itu entah sudah kali keberapa, lagi-lagi tercuri mata semua orang. Karena kehadiranmu. Padahal bukanlah syarat wanita cantik untuk dapat mencuri tatapan semua orang.
Mungkin kamu lupa, tapi tiap saat itu tiba, aku selalu berkata, “Kak, esok hari mungkin bisa diturunin lagi roknya.”

Dan seandainya Kakak tahu, maka itu semua..aku tidak yakin hanya untuk kebaikanmu.

Dengan paras cantik dengan mudahnya Kakak untuk bergaul dengan orang baru, lagi-lagi aku tersenyum kecut melihatnya.
“Memang selamanya dia akan terlihat cantik dan lebih terbuka. Dan aku, sampai saat ini, masih berkutat dengan kata yang tak pernah terucap.”
Bukan, bukan karena aku tidak bisa ngomong. Tapi lebih karena aku menolak untuk bersuara. Kurasa tidak ada yang tertarik untuk mendengar.

Selalu saja Kakak. Selalu. Semua orang selalu bertanya soal Kakak. Tentang betapa langsingnya kakak, tentang betapa indahnya rambut Kakak, tentang betapa putihnya kulit Kakak.

Esok hari adalah Ramadhan, dan entah kenapa aku yakin Kakak pasti akan mengingatku sebagai orang yang selalu menghabiskan makananmu di tiap malam. Tapi kalau Kakak mau percaya, kadar cantik tidak ditentukan dengan seberapa sedikit makanan yang Kakak makan.

Selamanya aku tak kan lupa, awal mula saat kita pergi bersama. Semua tatapan tertuju padamu.
Bukannya kuingin semua mata mengarah padaku, tapi aku merasa semua itu mempengaruhiku.
Aku pikir lebih baik aku tak lagi pergi bersamamu. Jika hal itu membuatku merasa tidak percaya diri akan diriku sendiri. Dan bahkan melahirkan penyakit dalam hati.

Maka dari itu, mungkin besok bukan hari ulang tahunmu, tapi aku punya sedikit hadiah untukmu.
(Meski mungkin, dalam lubuk hati paling dalam, ini adalah hadiah Ramadhan yang kuberikan untuk diriku sendiri)


Maafkan aku Kak, karena aku akan menyembunyikan kecantikanmu.

P.S.: Dipakai, loh, ya!!!

*

Nita menutup surat tersebut, dan membuka bungkusan di sampingnya.
Sebuah kerudung.

Voice (Korean Drama): A Review on Crime Thriller

Voice (Korean Drama) adalah drama keluaran OCN tahun 2017 yang berjumlah 16 episode, menceritakan kisah seorang detektif dan seorang perempuan dari emergency call center yang bekerja sama untuk menangkap pembunuh berantai.

sumber: google


SINOPSIS
Moo Jin-Hyuk (Jang Hyuk) adalah seorang detektif yang sangat berdedikasi pada pekerjaan. Sudah entah berapa kasus diselesaikannya dengan baik. Suatu hari, Jin-Hyuk mendapatkan telepon dari rekan kerjanya, mengatakan bahwa istrinya tewas terbunuh. Mendengar itu, Jin-Hyuk bersumpah untuk menangkap pelaku yang membunuh istrinya.

Ketika persidangan pelaku kejadian terbunuhnya istri Jin-Hyuk digelar, seorang perempuan bernama Kang Kwon-Joo (Lee Ha-Na) dari emergency call center datang menjadi saksi. Kang Kwon-Joo adalah orang yang menerima telepon dari istri Jin-Hyuk ketika sang istri tersebut berusaha menelepon emergency call center. Namun setelah mendengar suara dari pelaku, Kang Kwon-Joo malah berusaha sekuat tenaga mengatakan bahwa orang yang sedang di sidang bukanlah pelaku yang sebenarnya. 

Jin-Hyuk kemudian murka, berkali-kali dia menyumpah pada Kang Kwon-Joo, yang berhasil membebaskan tersangka dari jeratan penjara hanya karena mengaku mendengar dengan jelas suara pelakunya di telepon.

Tiga tahun berlalu, Jin-Hyuk tetap menjadi detektif, sembari diam-diam berusaha mencari pelaku pembunuhan istrinya. Setelah tiga tahun itu, Jin-Hyuk dipertemukan lagi dengan Kang Kwon-Joo yang baru saja belajar tentang voice profiling di US. Kang Kwon-Joo datang kembali ke emergency call center, membawa gagasan tentang: Golden Time.

Kwon-Joo percaya bahwa 20 menit semenjak korban menelepon emergency call center adalah masa kritis, yang menentukan apakah korban akan selamat atau tidak. Untuk menjalankan Golden Time-nya, Kwon-Joo membuat tim yang didalamnya juga berisi Jin-Hyuk, tim ini nantinya akan berkoordinasi dengan emergency call center secara langsung, sehingga pencarian korban dapat dilakukan secara terintegrasi.

Awalnya Jin-Hyuk menolak bekerja sama dengan Kwon-Joo, yang menurut dia sudah menjadikan pelaku pembunuh istrinya terbebas. Namun Kwon-Joo meyakinkan Jin-Hyuk bahwa Kwon-Joo memiliki kemampuan lebih dalam auditorinya; dia dapat mendengar lebih detail dibanding orang-orang lainnya, sekecil apapun suaranya. Kwon-Joo kemudian berjanji dia akan menangkap pelaku pembunuh istri Jin-Hyuk, yang ternyata juga membunuh ayahnya, dengan kemampuan mendengarnya.

Kemudian Jin-Hyuk, Kwon-Joo, dan beberapa orang lainnya, menyelesaikan kasus-kasus dalam masa kritis, yang ternyata semakin lama semakin mendekatkan mereka dengan pelaku pembunuh istri Jin-Hyuk dan ayah Kwon-Joo, yang ternyata semakin hari semakin bertambah list pembunuhannya, menjadikannya pembunuh berantai.


KELEBIHAN
Saya sebenarnya jarang sekali menonton drama dengan genre detective, crime, thriller, namun since there is Jang-Hyuk, dan biasanya dia tidak mengecewakan, saya pun menontonnya.

Karena memang fokusnya kepada detective, crime, dan thriller, memang kita tidak akan banyak bertemu dengan kisah-kisah yang heart-wrecking dan menguras air mata. Namun kita bisa lihat bahwa di tiap kasus dalam Golden Time, drama ini dengan detail menjelaskan bagaimana pembunuhan di setiap kasus dapat ditangkap. Jadi di tiap kasus Golden Time, di situlah kualitas drama ini berada.

Penggunaan sound-effect, ide kasus, dan kualitas gambar juga menurut saya mendukung terbentuknya thriller dalam film ini. Adegannya menegangkan, terutama karena kita dibuat membayangkan bahwa korban harus diselamatkan dalam 20 menit. Penggunaan waktu secara tidak langsung mempersingkat bingkai kasus menjadikan kita waswas mengenai waktu.

Selain itu, saya suka bagaimana pembunuhan ini kemudian dihubungkan dengan relasi kekuasaan antara pengembang-pemerintah-institusi (kepolisian dan kesehatan), karena menurut saya memang dengan adanya ruang, uang, dan peluang (dalam hal ini kuasa), pembunuhan berantai pun dapat ditutupi. Argumennya cukup lengkap.

Oh ya! Dan saya suka bagaimana pelaku terlihat seperti seseorang yang, di satu sisi religius, di sisi lain terlalu kejam (paradoks pada personaliti). Karena dia menggunakan ayat-ayat alkitab dalam pembunuhannya.
Atau  mungkin ayat-ayat itu sebenarnya digunakan untuk menunjukkan seberapa dia meremehkan apapun, sampai-sampai menggunakan ayat-ayat dalam pembunuhannya.
Kalau memang ada paradoks ataupun untuk meremehkan, menurut saya keduanya mendukung argumen yang menunjukkan betapa gila-nya orang ini.


KEKURANGAN
Sayangnya, terlalu banyak lubang-lubang yang terjadi dalam plot. Menurut saya lubang-lubang ini seharusnya diisi/dijelaskan dalam kisah atau kejadian di antara kasus-kasus Golden Time. Tapi nyatanya banyak yang tidak terjelaskan. Itulah, terlalu fokus pada kasus di Golden Time, lalu interval antara kasus tidak ada cerita yang terlalu berarti, tidak ditutupi secara maksimal.

Ada beberapa pertanyaan yang terbentuk dalam benak saya yang tidak terjawab. Di antaranya saya coba jawab sendiri meski sedikit asumtif, namun salah satu di antara pertanyaan yang tidak terjawab adalah darimana pelaku tau Kang Kwon-Joo punya pendengaran baik. Kalau tidak salah berkali-kali pelaku sering sebutkan bahwa "Kang Kwon-Joo masih memiliki pendengaran yang baik seperti 12 tahun lalu", padahal mereka baru bertemu via suara 3 tahun lalu.

Lalu, saya rasa pertandingan antara Kang Kwon-Joo, Jin-Hyuk dan pelaku perlu diperpanjang, they deserves it, karena dari 3 tahun lalu mereka sudah bertemu dalam medan tempur. Semestinya pelaku tidak semudah itu untuk ditangkap. Meski kalau dipikir-pikir, melihat pelaku yang bersumbu pendek, sepertinya dia memang akan memilih mangsa yang lebih menarik, ya, jadi selama ada yang lebih menantang dia akan langsung hadapi. 

Selain itu, menurut saya argumen yang menunjukkan alasan dibalik kegilaan pelaku pembunuhan masih kurang. Melihat bahwa kegilaan ini sebenarnya dimulai dari ayahnya, semestinya ada penjelasan lebih kenapa pelaku bisa jadi separah itu kegilaannya, dibandingkan ayahnya. Dan, harus dijelaskan juga kenapa ayahnya bisa sejahat itu. Kalau memang karena uang, ruang, dan peluang, semestinya lebih di-emphasize, dong bagaimana kesukaan mereka terhadap uang. Semuanya berakhir dengan hanya di-state. "Bapaknya jahat karena alasan x, anaknya jahat karena lihat bapaknya. Sekian."
Yah, tapi memang harus diakui, kan, film ini crime, thriller bukan emotional atau melodrama. Kalau berdasarkan genre-nya, sudah sesuai, sih.

Tapi di antara semuanya, saya sangat kesal dengan ending-nya. Ending-nya membuktikan bahwa kasus pembunuhan akan terus ada, karena bahkan pembunuhan terjadi, dalam institusi kesehatan?? Really?? Rasanya terlalu terburu-buru ingin membuat pelaku mati. This film, I don't think I will consider it as a happy ending. This film is a solved case, with another case.


But overall, kisahnya cukup menegangkan. Ketegangan ini, boleh, lah, dihargai sebagai suatu capaian tersendiri yang overcoming every plotholes. Kasus yang ditayangkan tidak bertele-tele (dalam artian, masih masuk ke dalam rangkaian agenda besar dalam drama), namun selalu ditampilkan dengan menarik. 

Kim Jae-Wook sangat baik dalam memerankan pelaku pembunuhan, membuat facial expression yang priceless. Jin-Hyuk dan Kang Kwon-Joo juga menurut saya sudah diperankan dengan baik. Saya suka bagaimana Kang Kwon-Joo diperankan sebagai wanita kuat--secukupnya, tidak seperti super-woman, dan tidak juga terlalu kemayu.

April 24, 2017

Cheese in The Trap: A World Full of Misunderstanding

Cheese in The Trap merupakan sebuah drama keluaran TvN pada tahun 2016 berjumlah 16 episode, yang menceritakan kehidupan perkuliahan dan segala jatuh-bangun di dalamnya.

sumber: google.com

SINOPSIS
Hong Seol (Kim Go-Eun) adalah seorang mahasiswi jurusan bisnis manajemen yang baru saja menyelesaikan cuti semesternya. Kondisi keuangan dan perkuliahan yang tidak kondusif membuat membuat dia dahulu memutuskan untuk cuti dalam sementara waktu. Seol membutuhkan beasiswa, di sisi lain, Seol ingin menghindari seseorang. Seseorang yang dianggapnya membuat kehidupan perkuliahannya nelangsa.

Namun tiba-tiba, Seol mendapatkan beasiswa, membuat dia bisa menjalankan perkuliahan di tahun ini. Bukan hanya itu yang aneh, Seol juga terus-terusan didekati oleh Yoo Jung(Park Hae-Jin), seorang senior laki-laki yang menjadi penyebab Seol memilih untuk cuti kuliah tahun lalu.

Bagaimana mungkin seseorang yang awalnya terlihat membenci Seol tiba-tiba bisa berubah 180 derajat menjadi seseorang yang ingin berteman dengannya?

Beberapa kali Seol dibantu oleh Yoo Jung, akibat kesalah-pahaman yang terjadi di antara mereka, menyebabkan Seol merasa bersalah dan berhutang budi, dan akhirnya menjadi dekat dengan Yoo Jung. Kedekatan merea membuat Seol lebih paham mengenai Yoo Jung, dan lambat laun Yoo Jung menjadi orang yang lebih terbuka.


KELEBIHAN
TvN lagi-lagi tidak mengecewakan dengan menyiarkan drama Cheese in The Trap. Cheese in The Trap memiliki plot yang baik dan aktor yang baik (dan sangat baik dalam menggambarkan karakternya masing-masing. APPLAUSE!). Menurut saya pemilihan 'nuansa warna' untuk video juga baik, warnanya ringan, sehingga kita bisa merasakan, "Dunia kampus yang menyenangkan", despite all the heart-tiring situations.

Metode bercerita dalam drama kurang lebih seperti webtoon-nya yang memiliki judul sama, yaitu dengan alur maju-mundur. Banyak flashback yang ditampilkan dalam drama, utamanya saat berusaha mencari tahu ada apa dibalik kejadian yang ditampilkan di masa kini.

Cheese in The Trap, berbeda dengan drama lain, fokus kepada karakter. Semakin kita sebagai penonton berpikir dan fokus mengenai karakter tokoh, semakin paham kita dengan alur cerita.

Kita bisa melihat ada perbedaan karakter pada tokoh-tokoh dalam drama, yang kemudian karakter ini bertemu dan berinteraksi dengan karakter satu sama lain, menghasilkan kehidupan sosial yang bervariasi. Sebagai contoh, Hong Seol merupakan seorang mahasiswi yang cenderung kaku, serius, sehingga dia begitu serius dengan kuliah dan apapun yang dia kerjakan. Kita bisa juga melihat Hong Seol adalah seorang mahasiswi yang sangat suka berpikir tentang apapun, seringkali Hong Seol menghasilkan judgement atas suatu sikap seseorang, yang sebenarnya mungkin adalah penyebab utama Hong Seol dahulu memiliki jarak dengan Yoo Jung.

Di sisi lain, Yoo Jung adalah seseorang yang sulit ditebak, meski ada kalanya karakternya serupa dengan Hong Seol. Perbedaannya adalah, Yoo Jung merespon perbuatan seseorang lebih ekstrim dibanding Hong Seol, hal ini membuat Yoo Jung sering kali terlihat misterius dan kejam, namun di sisi lain terlihat seperti memiliki pikiran yang pendek dan cenderung tidak berpikir dalam berperilaku. Simpelnya, "You reap what you sow" mungkin jadi motto Yoo Jung dalam berperilaku dengan orang-orang.

Namun kemudian Hong Seol dan Yoo Jung menjalin lebih banyak komunikasi, sehingga kesalah-pahaman bisa teratasi, pada akhirnya Hong Seol dan Yoo Jung sama-sama tahu bagaimana karakter masing-masing dan tahu apa yang mesti diperbaiki.

Cheese in The Trap menurut saya berhasil menunjukkan lapis-lapis keberagaman karakter dalam bersosial di dunia perkuliahan, dengan umur antara remaja dan dewasa muda, Cheese in The Trap berhasil mengeluarkan ekspresi kaum muda yang terkadang terlihat dewasa, namun di sisi lain masih labil, masih mencari identitas, dan masih berusaha dalam benar-benar memahami orang lain.

Kita bisa lihat ada Hong Seol yang sulit bercanda, serius, kaku, namun tanggung jawab. Yoo Jung yang sangat independen dan secretive, namun di sisi lain sangat memperhatikan orang lain. Baek In-Ho(Seo Kang-Joon) yang easy-going, carefree, namun di sisi lain tidak enak jika harus menceritakan kisah-kisah yang membuat depresi. Baek In-Ha (Lee Sung-Kyung) dengan kegilaannya, namun di sisi lain sebenarnya sedang kehilangan hal yang bisa membuatnya tertarik dalam hidup. Eun-Tak (Nam Joo-Hyuk) dan Bo-Ra (Park Min-Ji) dengan selera humor yang baik, riang, dan supportif, yang ketika merasa khawatir dengan Hong Seol, akan berusaha mencari kesenangan untuk menghibur Hong Seol. Kemudian ada tokoh-tokoh lain seperti Oh Young-Gon, Son Min-Soo, dan Sang-Chul, yang memiliki karakter berbeda juga.

Selain dari perbedaan karakter tokoh, akting dari para aktor yang tidak berlebihan menjadikan karakter tokoh lebih terlihat dalam gestur, percakapan, dan lain-lain.

Sehingga Cheese in The Trap kemudian terkesan tidak begitu fokus kepada kisah cinta antara Hong Seol dan Yoo Jung, namun fokus kepada karakter tokoh, kondisi psikologis tokoh, dan penyebab dibalik sikap-sikap yang terjadi dalam drama, yang menurut saya menjadi highlight dan detail yang merupakan nilai plus Cheese in The Trap dibanding drama lainnya.

KEKURANGAN
Meski di awal saya sempat katakan bahwa 'akting tokoh dalam Cheese in The Trap tidak berlebihan', namun harus saya akui saya sempat kebingungan dengan Baek In-Ha yang terlihat memiliki karakter yang aneh. Berkali-kali saya berpikir, apakah Baek In-Ha adalah salah satu bentuk diversitas karakter (dalam artian, drama ingin menunjukkan bahwa, "Di dunia ada, loh, orang yang emang in this kind of state", dalam artian: agak gila, salah satunya akibat harta), atau Lee Sung-Kyung just did it too much. Menurut saya tidak masalah kalau memang yang ingin ditunjukkan adalah diversitas karakter, tapi sayangnya drama tidak berhasil menjelaskan karakter Baek In-Ha sejelas bagaimana drama menjelaskan karakter-karakter lainnya. Padahal menurut saya Baek In-Ha memiliki karakter paling berbeda dan paling ekstrim, she deserves more explanation.

Selain itu, Cheese in The Trap memiliki ending (antara Yoo Jung dan Hong Seol) yang menggantung. "Jadi bagaimana kisah cinta Yoo Jung dan Hong Seol?!" Rasanya gemas karena tidak tahu dengan pasti mereka bagaimana akhirnya. Tapi kalau seandainya teman-teman tidak puas dengan ending antara Yoo Jung dan Hong Seol, kita bisa lebih perhatikan ending untuk tokoh-tokoh lainnya. Everyone seems fine.

Namun kalau kita pikirkan dengan lebih detail, bahwa Cheese in The Trap meng-highlight mengenai usaha untuk mengenal karakter, maka mungkin ending menggantung lebih baik. Dengan ending menggantung, kita bisa berasumsi bahwa Yoo Jung dan Hong Seol masih dalam perjalanan untuk saling mengenal lebih dalam..dan begitu seterusnya.



Cheese in The Trap dengan baik memperlihatkan bahwa tiap manusia memiliki kekayaan, diversitas karakter, yang, karena satu atau lebih kejadian yang dialami selama hidupnya, menjadikan terbentuknya sikap yang jauh jauh jauh lebih bermacam-macam. So be careful in judging other people. Before we decided to take action or put words about/to someone, try to understand and communicate first, ya :)
People may think Yoo Jung is inhuman, but once you try to get to know him, it is surprisingly because of the diverse character.

Cheese in The Trap has left me speechless, sangat baik!

Seperti ucapan akhir Hong Seol dalam drama, tiap orang memiliki rentang waktunya sendiri dalam berusaha memahami dan mengenal karakter orang lain, lalu kemudian berusaha menyesuaikan dengan karakter diri sendiri;

"I wonder if there was ever another time when I worried so much about things, just to get to know a person better.. He may need the same amount of time I needed to know and accept him.
-No. 
He may need even more time than I did." (Cheese in The Trap, Ep. 16)

February 9, 2017

Pameran Eksternal Ekskursi Sabu-Raijua

Layaknya tahun-tahun sebelumnya, Arsitektur UI memiliki sebuah Pameran hasil karya ekskursi. Awalnya, (sebagai mahasiswa baru Arsitektur UI) saya tidak terlalu tahu sebenarnya ekskursi apa, tapi karena (kebetulan) tahun 2016 kemarin saya diikutsertakan sebagai pelaku ekskursi, saya kemudian menjadi lebih paham.

Ekskursi merupakan agenda tahunan Arsitektur Universitas Indonesia, sebuah kepanitiaan (yang biasanya diketuai mahasiswa tingkat akhir) yang bertujuan untuk jalan-jalan, sekaligus belajar dan meneliti mengenai arsitektur pada suatu daerah di Indonesia. Namun karena kami (di daerah tersebut) juga belajar dan meneliti, kemudian dibuatlah keluaran-keluaran yang dapat dikonsumsi masyarakat luar, salah satunya; Pameran Eksternal.

Pameran Eksternal dilakukan di luar Universitas Indonesia (eksternal) setelah sebelumnya dilakukan Pameran Internal (di dalam UI), sehingga harapannya orang umum akan lebih banyak hadir dan mengetahui tentang daerah yang kami pelajari.

Pameran Eksternal Ekskursi Arsitektur UI 2017 di Galeria Fatahillah
Tahun ini Ekskursi mendapatkan kesempatan untuk menggelar Pameran Eksternal di sebuah kawasan budaya kebanggaan Jakarta, Kota Tua. Tepatnya Galeria Fatahillah (Gedung Pos Indonesia lt. 2). Keberadaannya di Galeria Fatahillah dari tanggal 6 Februari 2017 s.d. 12 Februari 2017 diharapkan menjadikan Pameran Eksternal bagian dari wisata masyarakat yang menambah wawasan sembari menikmati sejarah Indonesia.

This is how diverse Indonesia is. Sabu-Raijua is part of Ours.

An Escape from the History of Colonial(ism) into Present Culture (of Sabu-Raijua)

Logo Ekskursi Sabu-Raijua pada dinding menuju 'pintu' masuk Pameran Eksternal.
foto oleh: A. Soerio Tito 

Lorong awal, men-display pakaian sehari-hari mahasiswa saat Ekskursi di Sabu-Raijua.
foto oleh: A. Soerio Tito

Setelah kita melewati tangga menuju lantai dua Gedung Pos, kita akan disambut dinding dengan logo Ekskursi, lalu masuk ke dalam lorong yang memperlihatkan pakaian sehari-hari (yang menjadi identitas) mahasiswa saat Ekskursi di Sabu-Raijua. Lorong ini membuat saya merasa seperti menjadi bagian dari mereka........(lol, emang..).

Kalau di luar gedung pos Indonesia kita disuguhkan dengan banyak warna putih, di dalam, kita akan mulai merasakan nuansa warna cokelat. Di mulai dari lorong di gambar di atas itu, ditambah lighting berwarna kuning, dan maket-maket dengan jumlah cukup banyak yang didominasi warna cokelat.

Penjelasan mengenai lontar, salah satu bagian dari kehidupan masyarakat Sabu-Raijua.
sumber: dokumentasi pribadi


Setelah melewati lorong yang men-display pakaian (sekaligus memperkenalkan sebagian pakaian mahasiswa yang pergi ke Sabu-Raijua), kita akan melihat sekilas cuplikan mengenai ekskursi-ekskursi sebelumnya, beberapa maket yang menjelaskannya, dan sebuah peta Indonesia yang menjelaskan dimana saja posisinya, sebagai perkenalan awal mengenai ekskursi beserta sepak terjangnya.

Kemudian barulah kita masuk ke dalam bagian yang menceritakan Sabu-Raijua, dimulai dengan lontar, sejarah, dan lain-lain sebagai salah satu hal esensial akan terbentuknya Sabu-Raijua, budayanya, dan; arsitekturnya.

 foto oleh: A. Soerio Tito

Maket Ammu Kepue (Rumah Induk), skala 1:5
sumber: dokumentasi pribadi

Kalau kita lanjut ke ruangan berikutnya, kita akan mulai disuguhkan penjelasan mengenai arsitekturnya; cara pembangunan arsitektur (beserta upacara-upacaranya), jenis rumah apa saja yang ada di Sabu-Raijua, dan berakhir dengan mata pencaharian sehari-hari masyarakat Sabu-Raijua.

Selain display dua dimensi pada dinding berupa deskripsi penjelasan, gambar, sketsa, foto, dan gambar denah, tampak, potongan dari tiap arsitektur yang ada di Sabu-Raijua, Pameran Eksternal juga menyajikan delapan buah maket dan instalasi. Masing-masing maket memiliki elemen yang sama dengan arsitektur aslinya, dibuat dengan batang-batang pohon dan daun-daun (sungguhan) sehingga dapat menimbulkan bayangan yang lebih jelas mengenai rumah masyarakat Sabu-Raijua. 

sumber: dokumentasi pribadi

Can you spot there is something flying?
sumber: dokumentasi pribadi

Pada Pameran Eksternal, teman-teman juga bisa melihat Tenun Sabu (dan dapat membelinya!). Tenun Sabu dibawa langsung dari sana, dengan harga yang bisa ditanyakan kepada panitia.


Untuk mengetahui lebih dalam mengenai isi pameran, teman-teman bisa berkunjung ke Gedung Pos lantai 2, karena Pameran Eksternal masih dibuka sampai dengan tanggal 12 Februari 2017, dengan highlight event di hari Sabtu, 11 Februari 2017 dengan agenda: Book Launching dan Screening & Bedah Film Jejak dan Langkah Bumi Sabu-Raijua.

Masih ada banyak hal yang bisa teman-teman dapatkan dari melihat sendiri display-nya dan mendengarkan penjelasan guide (kalau teman-teman minta dijelaskan..), so don't miss it!

Kalau teman-teman ingin mengabadikan pameran ini (dalam perpustakaan rumah masing-masing), teman-teman dapat membeli buku Sabu-Raijua on the spot di hari Sabtu, 11 Februari 2017 nanti.

Referensi:
http://ekskursi.arch.ui.ac.id/

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'