April 25, 2017

[4] Menutupi Aib Hati

"Rumput tetangga selalu lebih hijau".
Pasti sering dengar kalimat seperti itu, kan?

Ya, seperti itulah memang, manusia tidak pernah puas dengan apapun yang dimilikinya. Jadi, kita mesti pintar-pintar, menjaga rumput halaman kita. Meski tidak lebih hijau, setidaknya dia terawat.

Menutupi Aib Hati

Ingatkah saat kita bersama pergi ke resepsi pernikahan saudara kita? Saat itu entah sudah kali keberapa, lagi-lagi tercuri mata semua orang. Karena kehadiranmu.

Dara menatap cermin di depannya. Hm, kurasa sudah cukup rapi, pikirnya. Dirapikannya lagi lipatan-lipatan pada baju dan roknya.
            “Dara! Sudah siap belum?!” teriak Ibunya dari lantai satu.
            Kamar Dara yang letaknya di lantai dua memang membuat keluarganya harus berteriak agar terdengar oleh Dara.
            “Iya, Ibu! Sebentar! Aku belum selesai!”
            Dara kemudian lanjut mencari kerudung yang cocok untuk disandingkan dengan pakaiannya. Harus yang panjang, tebal, syar’i, deh, pokoknya! Hm.. warna biru muda? Ah kayaknya bukan itu. Hm…putih gading?
            “Dara!!!” panggil Ibu lagi.
            “Ya, Ibu???”
            “Sudah lima belas menit dari terakhir kamu katakan ‘sebentar’!”
            Dara melirik jam di dinding kamarnya. Waduh! Mana pula rasa jam berdenting! Dara segera membongkar isi lemarinya, mencari kerudung mana saja yang dirasa panjang. Ya sudahlah, biar saja agak nabrak, yang penting panjang!
            Dara memasang kerudungnya sesimpel mungkin, lalu turun ke lantai satu.
            “Ibu, manggilnya kenapa sering banget, sih… Memangnya kita telat, ya?” tanya Dara, sambil berjalan ke arah Ibunya.
            Ibu masih membetulkan kerudungnya sampai Dara berada di sisinya. “Iya.. kita harus cepat-cepat. Kalau bisa, kan, Ibu mau lihat akadnya..”
            Sesaat kemudian, Ibu selesai memasang kerudungnya, lalu duduk di ruang tamu, bersama Dara.
            “Ibu, kita menunggu apa lagi?”
            “Kakakmu itu.”
            “Kok Kakak gak diteriakin juga kayak aku?”
            “Coba, dong, kamu panggil Kakak supaya segera turun.”
            “KAKAK! Ayo buruan! Ibu mau lihat akad Nikah Mbak Deassy dan Mas Hafiz!” teriakku kepada Kakak yang juga di lantai dua. Seperti biasa, memang Kakak selalu lama dalam bersiap-siap. Apalagi kalau mau ke pernikahan orang lain.
            Lima belas menit lamanya kami menunggu Kakak bersiap-siap. Sebelum akhirnya Kakak menjawab, “Iyaaaa! Ini sebentar lagi, kok! Tunggu sebentaaaar saja, ya!”
            Dengan muka cemberut, kukatakan pada Ibu, “Bu, tahu masih akan nambah lima belas menit lagi, tadi aku mencari kerudung yang lebih oke! Aku boleh ganti kerudung, tidak..?”
            Ibu menggeleng. “Nggak usah.. Udah rapi, kok.. kalau Nita, kan, dandan dulu.. jadinya lebih lama, toh?”
            Terus kalau Dara gak dandan..gak bisa sama lama bersiap-siap?

            Beberapa saat kemudian, Kakak turun dari lantai dua. Dengan make up yang sedemikian rupa dibuat terlihat natural dan lipstick pink merona, rambut yang dibuat ikal, dan dress putih gading simpel yang elegan. Yah, intinya, berbeda lah denganku yang kerudung dan baju agak nabrak. Yaudah lah ya.
            “Ayoo kita berangkat!” ujar Nita sambil tersenyum ke arah Ibu dan aku. Dara hanya tersenyum kecut melihatnya.
            “Hu, harusnya kan, malah gak boleh berdandan,” kata Dara. Nita hanya menyengir. Dia tahu persis fakta itu.

Padahal bukanlah syarat wanita cantik untuk dapat mencuri tatapan semua orang.

            Resepsi pernikahan didatangi oleh banyak orang. Semua nampak bahagia dengan pasangan baru ini. Senyum merekah. Makanan semerbak. Namun Dara hanya diam saja.
            “Dara, kenapa diam saja? Biasanya ambil banyak makanan,” tanya Ibu, sambil memberikan sepiring dimsum kesukaan Dara.
            Tuh, kan, akad berakhir bermenit-menit yang lalu. Telat, kan. “Tidak apa, Bu. Kakak aja yang disuruh makan. Aku mah gampang.” jawabku.
            Sementara Dara hanya duduk diam sembari makan dimsum kesukaannya—yang pada akhirnya diterimanya—yang disodorkan Ibunya, Nita berjalan ke sana kemari, mencoba melihat menu-menu yang ada.
            Selesai makan, Dara pun menghampiri Nita bersama Ibu, mengajak Nita untuk berkeliling dan menyapa orang-orang yang juga hadir dalam resepsi pernikahan, sampai akhirnya mereka bertemu dengan sahabat lama Ibu.
            “Ya Allah, Ratih!!!” serunya, sambil berjalan ke arah kami.  “Apa kabar? Awet muda banget.. ke sini bareng siapa ini? Anakmu?” tanyanya sambil melirik ke arah Dara dan Nita. Utamanya Nita.
            “Oalah Nani… Alhamdulillah aku, mah baik. Iya ini anakku. Yang ini Nita,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Nita. “Yang ini Dara,” katanya sambil memegang pundak Dara. Aku memang selalu dikenalkan kedua. Biasanya karena aku adalah adiknya Kakak.
            “Cantik-cantik banget… Anak ke berapa ini? Sudah besar sekali..”
            “Nita anak kedua, Dara anak keempat, Nan.. Iya, Alhamdulillah.. cantik-cantik..” jawab Ibu.
            Dara hanya diam sambil berusaha untuk masuk ke dalam percakapan antara Ibunya dan Ibu Nani. Mau bagaimana lagi, Dara belum menemukan saudaranya yang lain di sini. Dara kemudian berusaha mencari-cari saudaranya yang lain, mana mungkin di pernikahan saudara, tapi tidak ada yang datang lagi. Kemudian dia melihat Nita sudah mengobrol saja dengan saudara-saudara lainnya. Loh, itu ada, pikir Dara.
            Dara kemudian berusaha menghampiri Nita, dan ikut bergabung dalam obrolan, “Apa kabar, semuanya? Kuliah gimana?”
            “Wah, Dara! Iya baik-baik Alhamdulillah lumayan, lah.. haha,” jawab salah satu saudara.
            Sesaat Dara bisa bergabung dengan obrolan, sebelum akhirnya semua arah percakapan berfokus kepada Nita.

Dengan paras cantik dengan mudahnya Kakak untuk bergaul dengan orang baru, lagi-lagi aku tersenyum kecut melihatnya.
“Memang selamanya dia akan terlihat cantik dan lebih terbuka. Dan aku, sampai saat ini, masih berkutat dengan kata yang tak pernah terucap.”

            Dara kemudian hanya berdiam sambil mendengarkan dalam lingkaran kecil tersebut. Pikirannya melayang kemana-mana.

Selalu saja Kakak. Selalu. Semua orang selalu bertanya soal Kakak. Tentang betapa langsingnya kakak, tentang betapa indahnya rambut Kakak, tentang betapa putihnya kulit Kakak.

            *
            Dara melihat Nita dan Ibu berjalan di depannya.
Kakak memang cantik, ya. Rambutnya bagus. Dan dia bisa memperlihatkannya begitu saja. Dandanannya rapi dan cantik. Semua orang suka dengannya. Semua orang suka dengan dirinya yang cantik.
Dara menunduk dan melihat sepatu dan roknya yang ala kadarnya. Kerudungnya yang menjulur sampai ke dadanya menutupnya dengan sangat rapi.

*
            Hari ini Dara kembali ke lingkungan kampusnya, setelah lama menghabiskan waktu liburannya di Jakarta. Perpisahan dengan keluarganya dirasa amat menyedihkan, utamanya karena kali ini adalah kali pertama Ramadhan dilaksanakannya tanpa keluarganya.
            Ramadhan ini datang, dan Dara berusaha untuk menyelesaikan sebuah misi. Akan penyakit hati yang tak pernah kunjung pergi, tiap kali Dara di Jakarta.

*
            Nita masuk ke dalam kamar setelah melepas kepergian Dara. 
            Besok Ramadhan pertama tanpa Dara yang akan setia menghabiskan sepiring nasi milik Nita saat buka puasa.


“Dara, habiskan makananku, dong.. Kalau aku makan kebanyakan, nanti aku gendut.”
Yheu.. Makan itu harus dihabiskan! Emangnya aku tong sampah..”
“Tapi Dara kan kuruusss, aku nggak.”
“Heh.. nyindir, ya? Aku menggendut, tahu!” kata Dara, namun pada akhirnya tetap saja dihabiskan makanan milik Nita itu. “Daripada dibuang!” katanya.


Memang lucu sekali Dara ini.
            Tawa Nita berhenti saat dilihatnya bungkusan di atas meja belajarnya. Dibukanya lembar di samping bungkusan tersebut.

*
Assalamu’alaykum, Saudara perempuanku.
Kalau seandainya aku boleh berkata jujur, maka mungkin ini pertama kalinya aku berusaha untuk berkata jujur.

Bahwa aku tidak suka dengan diriku karena tak pernah henti iri padamu.
Bahwa aku tidak tahan melawan pikiran negatifku akibat iriku padamu.
Bahwa aku tidak tahan dengan diriku yang tak henti mencari kesalahanmu, karena iriku padamu.

Maka dengan tulisan ini aku berusaha menceritakan padamu, tentang iriku padamu. Aku memang tak suka banyak bicara tentang apa yang kupikirkan, tapi, ya..kurasa menulis bisa jadi jawaban.

Ingatkah saat kita bersama pergi ke resepsi pernikahan saudara kita? Saat itu entah sudah kali keberapa, lagi-lagi tercuri mata semua orang. Karena kehadiranmu. Padahal bukanlah syarat wanita cantik untuk dapat mencuri tatapan semua orang.
Mungkin kamu lupa, tapi tiap saat itu tiba, aku selalu berkata, “Kak, esok hari mungkin bisa diturunin lagi roknya.”

Dan seandainya Kakak tahu, maka itu semua..aku tidak yakin hanya untuk kebaikanmu.

Dengan paras cantik dengan mudahnya Kakak untuk bergaul dengan orang baru, lagi-lagi aku tersenyum kecut melihatnya.
“Memang selamanya dia akan terlihat cantik dan lebih terbuka. Dan aku, sampai saat ini, masih berkutat dengan kata yang tak pernah terucap.”
Bukan, bukan karena aku tidak bisa ngomong. Tapi lebih karena aku menolak untuk bersuara. Kurasa tidak ada yang tertarik untuk mendengar.

Selalu saja Kakak. Selalu. Semua orang selalu bertanya soal Kakak. Tentang betapa langsingnya kakak, tentang betapa indahnya rambut Kakak, tentang betapa putihnya kulit Kakak.

Esok hari adalah Ramadhan, dan entah kenapa aku yakin Kakak pasti akan mengingatku sebagai orang yang selalu menghabiskan makananmu di tiap malam. Tapi kalau Kakak mau percaya, kadar cantik tidak ditentukan dengan seberapa sedikit makanan yang Kakak makan.

Selamanya aku tak kan lupa, awal mula saat kita pergi bersama. Semua tatapan tertuju padamu.
Bukannya kuingin semua mata mengarah padaku, tapi aku merasa semua itu mempengaruhiku.
Aku pikir lebih baik aku tak lagi pergi bersamamu. Jika hal itu membuatku merasa tidak percaya diri akan diriku sendiri. Dan bahkan melahirkan penyakit dalam hati.

Maka dari itu, mungkin besok bukan hari ulang tahunmu, tapi aku punya sedikit hadiah untukmu.
(Meski mungkin, dalam lubuk hati paling dalam, ini adalah hadiah Ramadhan yang kuberikan untuk diriku sendiri)


Maafkan aku Kak, karena aku akan menyembunyikan kecantikanmu.

P.S.: Dipakai, loh, ya!!!

*

Nita menutup surat tersebut, dan membuka bungkusan di sampingnya.
Sebuah kerudung.

No comments:

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'