April 25, 2017

Voice (Korean Drama): A Review on Crime Thriller

Voice (Korean Drama) adalah drama keluaran OCN tahun 2017 yang berjumlah 16 episode, menceritakan kisah seorang detektif dan seorang perempuan dari emergency call center yang bekerja sama untuk menangkap pembunuh berantai.

sumber: google


SINOPSIS
Moo Jin-Hyuk (Jang Hyuk) adalah seorang detektif yang sangat berdedikasi pada pekerjaan. Sudah entah berapa kasus diselesaikannya dengan baik. Suatu hari, Jin-Hyuk mendapatkan telepon dari rekan kerjanya, mengatakan bahwa istrinya tewas terbunuh. Mendengar itu, Jin-Hyuk bersumpah untuk menangkap pelaku yang membunuh istrinya.

Ketika persidangan pelaku kejadian terbunuhnya istri Jin-Hyuk digelar, seorang perempuan bernama Kang Kwon-Joo (Lee Ha-Na) dari emergency call center datang menjadi saksi. Kang Kwon-Joo adalah orang yang menerima telepon dari istri Jin-Hyuk ketika sang istri tersebut berusaha menelepon emergency call center. Namun setelah mendengar suara dari pelaku, Kang Kwon-Joo malah berusaha sekuat tenaga mengatakan bahwa orang yang sedang di sidang bukanlah pelaku yang sebenarnya. 

Jin-Hyuk kemudian murka, berkali-kali dia menyumpah pada Kang Kwon-Joo, yang berhasil membebaskan tersangka dari jeratan penjara hanya karena mengaku mendengar dengan jelas suara pelakunya di telepon.

Tiga tahun berlalu, Jin-Hyuk tetap menjadi detektif, sembari diam-diam berusaha mencari pelaku pembunuhan istrinya. Setelah tiga tahun itu, Jin-Hyuk dipertemukan lagi dengan Kang Kwon-Joo yang baru saja belajar tentang voice profiling di US. Kang Kwon-Joo datang kembali ke emergency call center, membawa gagasan tentang: Golden Time.

Kwon-Joo percaya bahwa 20 menit semenjak korban menelepon emergency call center adalah masa kritis, yang menentukan apakah korban akan selamat atau tidak. Untuk menjalankan Golden Time-nya, Kwon-Joo membuat tim yang didalamnya juga berisi Jin-Hyuk, tim ini nantinya akan berkoordinasi dengan emergency call center secara langsung, sehingga pencarian korban dapat dilakukan secara terintegrasi.

Awalnya Jin-Hyuk menolak bekerja sama dengan Kwon-Joo, yang menurut dia sudah menjadikan pelaku pembunuh istrinya terbebas. Namun Kwon-Joo meyakinkan Jin-Hyuk bahwa Kwon-Joo memiliki kemampuan lebih dalam auditorinya; dia dapat mendengar lebih detail dibanding orang-orang lainnya, sekecil apapun suaranya. Kwon-Joo kemudian berjanji dia akan menangkap pelaku pembunuh istri Jin-Hyuk, yang ternyata juga membunuh ayahnya, dengan kemampuan mendengarnya.

Kemudian Jin-Hyuk, Kwon-Joo, dan beberapa orang lainnya, menyelesaikan kasus-kasus dalam masa kritis, yang ternyata semakin lama semakin mendekatkan mereka dengan pelaku pembunuh istri Jin-Hyuk dan ayah Kwon-Joo, yang ternyata semakin hari semakin bertambah list pembunuhannya, menjadikannya pembunuh berantai.


KELEBIHAN
Saya sebenarnya jarang sekali menonton drama dengan genre detective, crime, thriller, namun since there is Jang-Hyuk, dan biasanya dia tidak mengecewakan, saya pun menontonnya.

Karena memang fokusnya kepada detective, crime, dan thriller, memang kita tidak akan banyak bertemu dengan kisah-kisah yang heart-wrecking dan menguras air mata. Namun kita bisa lihat bahwa di tiap kasus dalam Golden Time, drama ini dengan detail menjelaskan bagaimana pembunuhan di setiap kasus dapat ditangkap. Jadi di tiap kasus Golden Time, di situlah kualitas drama ini berada.

Penggunaan sound-effect, ide kasus, dan kualitas gambar juga menurut saya mendukung terbentuknya thriller dalam film ini. Adegannya menegangkan, terutama karena kita dibuat membayangkan bahwa korban harus diselamatkan dalam 20 menit. Penggunaan waktu secara tidak langsung mempersingkat bingkai kasus menjadikan kita waswas mengenai waktu.

Selain itu, saya suka bagaimana pembunuhan ini kemudian dihubungkan dengan relasi kekuasaan antara pengembang-pemerintah-institusi (kepolisian dan kesehatan), karena menurut saya memang dengan adanya ruang, uang, dan peluang (dalam hal ini kuasa), pembunuhan berantai pun dapat ditutupi. Argumennya cukup lengkap.

Oh ya! Dan saya suka bagaimana pelaku terlihat seperti seseorang yang, di satu sisi religius, di sisi lain terlalu kejam (paradoks pada personaliti). Karena dia menggunakan ayat-ayat alkitab dalam pembunuhannya.
Atau  mungkin ayat-ayat itu sebenarnya digunakan untuk menunjukkan seberapa dia meremehkan apapun, sampai-sampai menggunakan ayat-ayat dalam pembunuhannya.
Kalau memang ada paradoks ataupun untuk meremehkan, menurut saya keduanya mendukung argumen yang menunjukkan betapa gila-nya orang ini.


KEKURANGAN
Sayangnya, terlalu banyak lubang-lubang yang terjadi dalam plot. Menurut saya lubang-lubang ini seharusnya diisi/dijelaskan dalam kisah atau kejadian di antara kasus-kasus Golden Time. Tapi nyatanya banyak yang tidak terjelaskan. Itulah, terlalu fokus pada kasus di Golden Time, lalu interval antara kasus tidak ada cerita yang terlalu berarti, tidak ditutupi secara maksimal.

Ada beberapa pertanyaan yang terbentuk dalam benak saya yang tidak terjawab. Di antaranya saya coba jawab sendiri meski sedikit asumtif, namun salah satu di antara pertanyaan yang tidak terjawab adalah darimana pelaku tau Kang Kwon-Joo punya pendengaran baik. Kalau tidak salah berkali-kali pelaku sering sebutkan bahwa "Kang Kwon-Joo masih memiliki pendengaran yang baik seperti 12 tahun lalu", padahal mereka baru bertemu via suara 3 tahun lalu.

Lalu, saya rasa pertandingan antara Kang Kwon-Joo, Jin-Hyuk dan pelaku perlu diperpanjang, they deserves it, karena dari 3 tahun lalu mereka sudah bertemu dalam medan tempur. Semestinya pelaku tidak semudah itu untuk ditangkap. Meski kalau dipikir-pikir, melihat pelaku yang bersumbu pendek, sepertinya dia memang akan memilih mangsa yang lebih menarik, ya, jadi selama ada yang lebih menantang dia akan langsung hadapi. 

Selain itu, menurut saya argumen yang menunjukkan alasan dibalik kegilaan pelaku pembunuhan masih kurang. Melihat bahwa kegilaan ini sebenarnya dimulai dari ayahnya, semestinya ada penjelasan lebih kenapa pelaku bisa jadi separah itu kegilaannya, dibandingkan ayahnya. Dan, harus dijelaskan juga kenapa ayahnya bisa sejahat itu. Kalau memang karena uang, ruang, dan peluang, semestinya lebih di-emphasize, dong bagaimana kesukaan mereka terhadap uang. Semuanya berakhir dengan hanya di-state. "Bapaknya jahat karena alasan x, anaknya jahat karena lihat bapaknya. Sekian."
Yah, tapi memang harus diakui, kan, film ini crime, thriller bukan emotional atau melodrama. Kalau berdasarkan genre-nya, sudah sesuai, sih.

Tapi di antara semuanya, saya sangat kesal dengan ending-nya. Ending-nya membuktikan bahwa kasus pembunuhan akan terus ada, karena bahkan pembunuhan terjadi, dalam institusi kesehatan?? Really?? Rasanya terlalu terburu-buru ingin membuat pelaku mati. This film, I don't think I will consider it as a happy ending. This film is a solved case, with another case.


But overall, kisahnya cukup menegangkan. Ketegangan ini, boleh, lah, dihargai sebagai suatu capaian tersendiri yang overcoming every plotholes. Kasus yang ditayangkan tidak bertele-tele (dalam artian, masih masuk ke dalam rangkaian agenda besar dalam drama), namun selalu ditampilkan dengan menarik. 

Kim Jae-Wook sangat baik dalam memerankan pelaku pembunuhan, membuat facial expression yang priceless. Jin-Hyuk dan Kang Kwon-Joo juga menurut saya sudah diperankan dengan baik. Saya suka bagaimana Kang Kwon-Joo diperankan sebagai wanita kuat--secukupnya, tidak seperti super-woman, dan tidak juga terlalu kemayu.

No comments:

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'