May 22, 2015

Q&A: Edisi Calon Maba Arsitektur

Mengingat adik kulo sebentar lagi UN (lulus SMA), dan mulai ada beberapa orang yang bertanya kepada aku mengenai dunia perkuliahan khususnya arsitektur, maka di sini aku akan memaparkan jawaban dari most asked Question (itung-itung membantu orang-orang yang nulis keyword "arsitektur", "apa itu arsitektur", "perkuliahan di arsitektur", atau "arsitektur Universitas Indonesia").

Oh ya, mungkin yang akan aku kasih tahu emang lebih banyak tentang Arsitektur Universitas Indonesia ya. Aku nggak belum sering ikut-ikutan kumpul bareng anak ars lain gitu, tapi kalau lewat line pusing kalau nanya dan jelasin tentang ars di universitas masing-masing. Karena pasti seru. jadi lewat line terlalu sayang!!

Kembali ke topik.

Pertanyaan: Gimana sih cara dapat SNMPTN?
Gak tau ya. Aku gak dapat SNMPTN loh. Aku berpendapat SNMPTN itu memang berasa seperti hadiah. Jadi lebih baik persiapkan saja untuk sesuatu yang lebih pasti.

Pertanyaan: Dulu masuk Arsitektur lewat mana?
Lewat jalur masuk yang sah..
Jalur masuk kan cuma segitu ya.. SNMPTN, SBMPTN, jalur tulis. Nah kulo ikutan itu semua. SNMPTN tidak diterima, jadi daftar SBMPTN dan SIMAK. Alhamdulillah diterima lewat SIMAK (ada bukti printscreennya loh di blog ini haha!).
Anyway, dulu aku pilih Arsitektur Interior loh di SNMPTN. Tapi gak keterima, jadi karena merasa sakit hati dengan UI, aku gak pilih arsitektur interior lagi di SBMPTN terus milihnya univ lain di SBMPTN, tapi tetep aja sih ikut SIMAK. Keluargaku cinta UI. Alhamdulillah keterima. Mungkin cinta keluargaku tak bertepuk sebelah tangan.

Pertanyaan: Arsitektur harus bisa gambar gak?
Tergantung milih mana. Kalau pilih UNPAR, well, kamu kudu bisa gambar. Tapi kalau pilih Arsitektur UI nggak, kok! Kepala departemen kami sendiri yang bilang, Mr. Yandi (biar keren pakai Mr. Anyway kadept kami memang gahul loh..), "UI gak ada tes gambar, karena kami mau orang yang cerdas dalam berpikir." Tapi bisa menggambar itu modal yang oke banget!

Pertanyaan: Tapi bukannya arsitektur itu gambar-gambar?
Ya... Ketika masuk arsitektur terutama di UI, pertama-tama kita bakal dikasih mata kuliah seni rupa, kok! Di sini lama-kelamaan tangan kita terlatih untuk membuat suatu karya, dan akan meningkatkan sense of art kita. Kita akan diarahkan di sini. Tapi ada baiknya kalau kita mencoba dulu, ya!

Pertanyaan: Katanya Arsitektur itu anak-anaknya paling fashionable ya?
(Sebenarnya kulo tak tahu apakah akan ada pertanyaan macam ini, tapi dahulu kala kakak kulo berkata begini, "Hati-hati mati gaya, yah! Anak arsitektur itu yang paling fashionable di Teknik!") Nyatanya...nggak juga. Semua orang nyentrik, kok. Yup. (Padahal fashionable dan nyentrik adalah dua hal yang sangat berbeda) Well, sesungguhnya aku tak tahu fashionable itu apa syaratnya. Dulu zaman maba aku pakai baju dengan baju yang menurut aku oke aja (karena gak ada baju lain), menurut orang warnanya nabrak-nabrak, kemudian ada juga temanku yang berkomentar, "Walaupun baju lo beda-beda warna begini, gara-gara lo pede, gue jadi ngerasa oke aja bajunya, Dur." Intinya aku tidak tahu apa itu fashionable. Yah, bersikap seadanya sajalah, ya.

Pertanyaan: Arsitektur itu belajar apa, sih?
Belajar tentang ruang dan manusia (simpelnya. Bisa saja jawaban ini tidak diterima fasilitator pengantar arsitektur...)

Untuk lebih jelasnya, bakal ada mata kuliah pembuka yang sesuai alurnya, kok! (ga mungkin masuk-masuk langsung disuruh bikin rumah..)
Ok!
Yang jelas, belajar itu seru. Yeay!

April 27, 2015

Hasil Rasa-rasa Goa

Terkadang aku malu tiap ditanya, 
"Anak pecinta alam? Divisi apa? Sudah kemana saja?" 
"Divisi caving (goa), sudah ke goa X, goa  Y.." 
"Woow anak caving. Keren." 
Dan kemudian aku tersenyum, lalu mengalirlah cerita-cerita tentang keindahan goa..

*


Padahal, bagiku goa tidak semenyenangkan yang orang pikirkan, dan yang aku buat orang untuk berpikir seperti itu.

Boro-boro menyenangkan, justru rasanya menyeramkan.
Tapi dibalik segala keseraman dan kemisteriusan sebuah goa, selalu ada pelajaran. Pelajaran yang mungkin kudapat justru akibat akumulasi dari seluruh ketakutanku dalam goa.


1. Diantara semua kegiatan dalam caving, sesungguhnya hal paling mengkhawatirkan adalah melakukan rigging.


Rigging dalam goa macan. Rigging dalam gelap. Yeaha. Terima kasih Thomas Alfa Edison yang sudah membuat lampu!!!

Rigging jelas merupakan salah satu hal utama dan pertama dalam perjalanan goa vertikal. Dimulai dari orientasi medan, mencari tambatan yang tepat dan kuat, sampai ke pemasangan webbing dan segala macamnya. Menentukan sudut dan lalala supaya lebih akurat..Semakin akurat semakin yakin kita untuk masuk ke dalam goa. Kemungkinan selamat semakin besar. Dan di sini timbullah berbagai macam kekhawatiran untuk menjadi sempurna.
Dari proses ini aku sadar betapa pentingnya sebuah persiapan, dan seluruhnya berefek domino dengan bagaimana kita melakukan perjalanan. "The first step", just like what people said, is definitely the most important.


2. Menurutku belum ada perumpamaan sederhana yang lebih cocok untuk mendeskripsikan harmonisasi dari kepasrahan dan usaha seseorang selain ketika dia menggantung pada tali di goa vertikal.


Descending. Saat kaki menyentuh tanah, itulah dasar. Rasanya ketika kaki menapak itu loh.. Alhamdulillah.
Rindu menapak.

Latihan di sekret dengan tali menggantung mungkin tidak semenakutkan itu. Dengan cahaya yang berkecukupan, dengan banyak pasang mata dapat melihat kita dari bawah, sehingga tidak ada rasa kesendirian yang menghantui dan gelap yang menyelubungi, menggantung pada tali memang sekadar "menggantung pada tali".

Tapi ketika aku disodorkan dengan realita dalam goa, ternyata semua itu tidak menjadi "sekadar menggantung pada tali". 


Rasanya, "Hidupku ada pada bagaimana persiapanku kemarin lusa untuk hari ini, bagaimana kekuatanku saat ini, seberapa baik aku mempergunakan alat di tanganku ini, dan seberapa besar keyakinan aku kepada Allah yang menciptakan jiwa raga(aku)  dan orang-orang pintar yang membuat alat-alat ini."

Pengalaman pertama, ketika jarak dari atas ke bawah mungkin memang hanya 15m, dengan tengah tali adalah 7,5m mungkin bukan apa-apa. Lampu senter teman-temanku dari atas daratan maupun dasar goa masih bisa mencapai aku yang menggantung pada tengah tali. Segala kalimat yang mereka lontarkan masih bisa terdengar sayup-sayup di telinga.
Tapi ketika jarak dari atas ke bawah 60 m, bentukan goa vertikal merupakan chamber dengan anchor di dalam goa, dan pertengahan tali dari bagian atas dan bawah adalah 30m? Sungguh aku gak pernah merasa betapa aku sendirian selain saat itu, padahal jarak terjauhku dan teman-teman hanya 30m, (kecuali kalau dalam perjalanan ke goa berikutnya aku lebih jauh masuk ke dalam bumi..). 30meter yang rasanya seperti memisahkan aku dan dunia nyata. 

"Hanya ada aku, seluruh peralatan ini, dan kepercayaanku kepada Tuhan yang Maha Esa." Boleh bilang aku lebay, tapi saat itu memang hanya itu yang kupikirkan.


Tidak ada yang bisa mendengar suaraku, dan tidak ada suara lain yang bisa kudengar. Tidak ada ujung yang bisa kulihat karena bentukan goa chamber dan gelapnya goa sungguh hitam. Sampai-sampai aku tidak berani mematikan lampu senterku, khawatir aku tidak tahu dimana letak senterku yang jelas terpasang di helmku. Tidak kulihat daratan, tidak pula kulihat langit-langit di atas. yang kulihat hanya tubuhku, tali yang menggantungku, dan seluruh peralatan yang menyelamatkanku agar tetap bersandar pada tali ini. Semua bergantung pada usahaku, dan seberapa percaya aku pada Tuhanku.

Dan saat senior divisiku berkata, "Yang paling lama mencapai atas goa vertikal ini adalah Durra, dengan total waktu kurang-lebih 50 menit." padahal seluruh teman-temanku hanya sekitar 30menit, maka saat itu aku cuma bisa berkata,


"....Kak, mental saya turun di tengah-tengah tali. Stamina saya berkurang drastis." Like..DRASTIS

Dan saat itu aku percaya betul bahwa keyakinan memang diperlukan seseorang. To gain some strength, people needs to believe.



3. Kita ini memang benar-benar makhluk sosial. Dan keberadaan orang lain memang bagaikan tetesan hujan di batasnya kemarau (terus nyanyi lagu Hebat-Tangga).



Keberadaan kawan itu sesuatu banget. Anyway, si Digor ini memang agak fotogenik ya.

Hal paling mengharukan yang diberikan Tuhan kepadaku adalah fakta bahwa setelah perjuangan seorang diri itu, kutemukan kembali orang-orang di sisiku *ea.
Saat itu aku yang pertama naik kembali ke atas goa vertikal sedalam 60m, setelah berlama-lama menggantung di tali dan mengeluarkan segala suara yang bisa dikeluarkan kaki, tangan, dan ayat-ayat yang bisa menyelamatkanku dari ketakutan ini, berharap kawan-kawan diatas mendengar rusuhnya gerakanku, suara temanku yang memanggil namaku dari atas goa terasa sangat indah (di situasi biasa, sebenarnya biasa aja) dan menenangkan.

"Durra?"

Rasanya ingin sujud syukur mendengar namaku yang sebenarnya biasa saja dipanggil setelah bermenit-menit tidak mendengar siapapun memanggilku. Tapi gak bisa sujud syukur saat itu, karena aku masih menggantung di atas tali.

"YA! YA! YA! INI DURRAAAA YEAAAY HUHU:'"

Kala itu adalah saat-saat paling menenangkan, paling menyenangkan, dan undescribable. As simple as that, tapi sangat bermakna. Memang. Together we're stronger.(Ya, aku sangat ingat bagaimana kemudian aku jadi semangat kembali mengangkat diriku untuk semakin naik ke permukaan)


4. Hanya dalam goa dengan semua cahaya padam aku tidak tahu apakah aku masih hidup atau sudah mati--jika tidak ada suara dari nafasku dan teman-temanku.
Gelap. Bau tanah. Tekstur tanah. Kelembaban tanah. Semua serba tanah. Bagaimana bisa aku tidak merasa seolah-seolah kita di dalam tanah--terkurung.
Mungkin suatu hari teman-teman harus mencoba untuk duduk diam, lalu matikan senter dalam goa. Maka saat itu, mau mata kita melek ataupun terpejam--gak ada bedanya. Gak ada rasanya. Mau melotot sebesar apapun, tidak ada cahaya masuk. Satu-satunya yang membuatku sadar aku masih di dunia nyata, masih hidup, adalah karena aku dan teman-temanku masih berbicara.
Karena jika tidak ada suara, hanya tetesan air dalam goa, dengan segala bau tanah itu, mungkin lagi-lagi aku merasa sendiri. Dan tiap kali itu terjadi aku bertanya, "Apa aku masih hidup? Apa aku sedang berjalan-jalan di dalam goa, atau sebenarnya, kemarin-kemarin (saat cahaya masih ada), hanya ingatanku akan dunia?"
So scary.



5. Jika teman-temanku cenderung untuk berlama-lama dalam goa, maka aku adalah tipe yang ingin segera keluar dalam goa.

Semenarik apapun ornamen dalam goa, aku tetap ingin keluar.
Di dalam goa membuat aku rindu akan cahaya. 

6. Bagiku goa itu seperti analogi yang orang berikan mengenai dunia. Tempat singgah. Kita masuk ke dalamnya dengan berbagai persiapan, dan membawa pulang sebuah bekal. Dan suatu saat kita akan kembali ke atas. Atas. Kembali ke ATAS.

Like, literally..analogi yang sama (sebenarnya ketika kembali, kita ke tanah sih... tapi kan itu raga kita. Ruh kita?..atas..)
Selalu ada degupan kencang dan semangat yang kuat tiap kali aku akan keluar goa dan melihat cahaya muncul dari balik mulut goa. "Perjalanan ini berakhir, dan aku survive!" 
The best thing in life is knowing that you have passed the storm behind.

*
Jadi, bagi orang yang merasa masuk ke dalam goa itu menyenangkan, tidak masalah. Tidak ada yang salah..memang menyenangkan, kok.
Tapi memang terkadang ada anomali. Buatku. Menyenangkan sih, tapi di sisi lain menakutkan. Goa itu menyeramkan.
Yet I'm still doing it. Why?


Caving touches me. Spiritually.
"Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (Al Kahfi (18):10)
Semoga bisa seperti pemuda-pemuda itu ya :')


P.S: 
-Believe it or not, aku menulis ini dengan tangan gemetar. Dan jantung berdegup kencang (mungkin ini efek dari kopi yang kuminum? atau memang segala pengalaman tentang caving ini memang menyentuh rasa takutku?).
-Foto kuambil dari akun facebook milik KAPA FTUI. Jadi semua foto adalah milik KAPA.
-Terima kasih untuk teman-teman yang sudah tanpa sadar mengarahkanku untuk mencicipi kegelapan dan kedalaman goa. Mungkin kapan-kapan kita bisa sholat berjamaah dalam goa.
-Dengan aku menulis ini bukan berarti aku tidak mau diajak masuk ke dalam goa ataupun jalan-jalan lainnya ya..

February 22, 2015

Sebuah Upaya Mengepresikan Perasaan dalam Hati

Salah satu hal yang saya sesali saat ini adalah..tidak menge-post tulisan ini sesaat setelah saya datang ke pameran seni ini. Seharusnya kalian datang!

Pameran Perdana Mahasiswa Baru
Seperti biasanya, mahasiswa baru departemen Arsitektur Universitas Indonesia, di akhir semester 1 akan mengadakan pameran seni rupa dari mata kuliah seni rupa. Sebuah pameran perdana yang dinanti-nanti seniornya. Well, selain mencari inspirasi, ada pikiran jahat juga untuk membandingkan dengan angkatan sendiri, haha...well maybe it is just me.

Pameran akan ada dua kali, karena departemen Arsitektur terdiridari dua jurusan: Arsitektur dan Arsitektur Interior. Pameran yang akan saya ceritakan di sini adalah pameran milik Arsitektur Interior angkatan 2014 (saya tidak datang pameran Arsitektur..maafkan.)

Seni | Hati | Kreasi
Pameran ini berjudul SENTIRE, Singkatan dari Seni | Hati | Kreasi. Begitu pula dengan hasilnya yang pastinya dari perasaan dan imajinasi mereka. Digelar pada tanggal 6 Desember 2015 s.d. 11 Desember 2015, di lobi Gedung K FTUI. Sebuah lobi yang sangat strategis dan hampir pasti selalu dilewati mahasiswa, menghubungkan jalan menuju gedung-gedung lain.

Berbeda dengan tahun lalu yang sepertinya bertema sangat interior (tahun lalu, setting pameran seperti ruangan-ruangan dalam hotel, sehingga ketika kita masuk ke dalam pameran, seperti masuk ke dalam ruangan-ruangan, sehingga selani bisa melihat hasil dari tiap individu, kita bisa melihat juga bagaimana karya individu itu berpadu dengan karya milik teman kita) tahun ini cenderung memperlihatkan kemampuan individu dari tiap orang.

 Dekorasi selamat datang di langit-langit koridor jalur menuju lobi K. 

A big warm welcome ketika kita masuk dari salah satu jalur masuk yang paling sering dilewati mahasiswa. 

Setelah masuk ke dalam lobi K, kita akan disapa oleh hangatnya temaram akibat lampu lobi k yang dimatikan, dan lampu-lampu tembak yang mengarah ke karya seni. Sehingga fokus kita akan sebagian besar teralihkan ke karya seni. I call this, super modal 2014. (I remember how 2013 was only putting a few lamp, and was not pointed to EVERY artworks we made. Hey, Dur, what a sentence full of envious.) Anyway, setiap lampu yang terarahkan ke karya seni bekerja dengan baik, sehingga pengunjung bisa melihat dengan jelas hasil jerih payah yang sudah mahasiswa Arsitektur Interior 2014 buat.

A Few Shots to The Artworks
Hasrat, karya oleh: Dominic Vincent

"Hasrat" merupakan salah satu karya seni yang cukup mencolok, selain karena bentuknya yang cukup massive dibanding yang lain, karya ini berada di tengah dan mengambil hal yang dirasa paling dicari orang: uang. Seperti yang kita lihat, bagaimana si Dominic Vincent mengutarakan pikirannya mengenai manusia, bagaimana manusia selalu haus akan uang. Mendewakannya?
Di sisi lain kita bisa melihat bayang-bayang dari "sesuatu", yang terlihat jahat.
A lot to say

The devil which hides in the money.

Perangkap, oleh Wilda Maulina
Who doesn't know? buat sebagian orang--terutama perempuan--baju adalah segalanya. Perhiasan, kecantikan, sesuatu yang indah. Semua keindahan itu, saking indahnya, melahap habis kita, tanpa jejak, terperangkap.
Bukan hal aneh bagaimana kita menganggap penampilan luar adalah segalanya. 

Tertekan, oleh Megawati Asellia P.
"Karya ini mepresentasikan tekanan yang saya alami selama ini. Betapa tekanan itu sangat kuat sehingga malaikat pun menangis."
Aku suka ini. Rasanya sedih sekali memang melihatnya...tapi semoga Megawati ini tertekan bukan karena tugas-tugas di perkuliahan ya.

Marah, oleh Ghaisani Nabila G

Minggat, oleh Qamara Agustina R.

Persepsi, oleh Lydia Virsa

Teduh, oleh Defani Herbiana A.



Dan masih ada banyak lagi karya-karya buatan mahasiswa Arsitektur Interior angkatan 2014 ini. Sayangnya ku tidak memotret semuanya.

“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn't supposed to look nice; it was supposed to make you feel something.” ― Rainbow RowellEleanor & Park

Bravo, 2014!

The Owner

My Photo
Already 18 ;) The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'