February 9, 2017

Pameran Eksternal Ekskursi Sabu-Raijua

Layaknya tahun-tahun sebelumnya, Arsitektur UI memiliki sebuah Pameran hasil karya ekskursi. Awalnya, (sebagai mahasiswa baru Arsitektur UI) saya tidak terlalu tahu sebenarnya ekskursi apa, tapi karena (kebetulan) tahun 2016 kemarin saya diikutsertakan sebagai pelaku ekskursi, saya kemudian menjadi lebih paham.

Ekskursi merupakan agenda tahunan Arsitektur Universitas Indonesia, sebuah kepanitiaan (yang biasanya diketuai mahasiswa tingkat akhir) yang bertujuan untuk jalan-jalan, sekaligus belajar dan meneliti mengenai arsitektur pada suatu daerah di Indonesia. Namun karena kami (di daerah tersebut) juga belajar dan meneliti, kemudian dibuatlah keluaran-keluaran yang dapat dikonsumsi masyarakat luar, salah satunya; Pameran Eksternal.

Pameran Eksternal dilakukan di luar Universitas Indonesia (eksternal) setelah sebelumnya dilakukan Pameran Internal (di dalam UI), sehingga harapannya orang umum akan lebih banyak hadir dan mengetahui tentang daerah yang kami pelajari.

Pameran Eksternal Ekskursi Arsitektur UI 2017 di Galeria Fatahillah
Tahun ini Ekskursi mendapatkan kesempatan untuk menggelar Pameran Eksternal di sebuah kawasan budaya kebanggaan Jakarta, Kota Tua. Tepatnya Galeria Fatahillah (Gedung Pos Indonesia lt. 2). Keberadaannya di Galeria Fatahillah dari tanggal 6 Februari 2017 s.d. 12 Februari 2017 diharapkan menjadikan Pameran Eksternal bagian dari wisata masyarakat yang menambah wawasan sembari menikmati sejarah Indonesia.

This is how diverse Indonesia is. Sabu-Raijua is part of Ours.

An Escape from the History of Colonial(ism) into Present Culture (of Sabu-Raijua)

Logo Ekskursi Sabu-Raijua pada dinding menuju 'pintu' masuk Pameran Eksternal.
foto oleh: A. Soerio Tito 

Lorong awal, men-display pakaian sehari-hari mahasiswa saat Ekskursi di Sabu-Raijua.
foto oleh: A. Soerio Tito

Setelah kita melewati tangga menuju lantai dua Gedung Pos, kita akan disambut dinding dengan logo Ekskursi, lalu masuk ke dalam lorong yang memperlihatkan pakaian sehari-hari (yang menjadi identitas) mahasiswa saat Ekskursi di Sabu-Raijua. Lorong ini membuat saya merasa seperti menjadi bagian dari mereka........(lol, emang..).

Kalau di luar gedung pos Indonesia kita disuguhkan dengan banyak warna putih, di dalam, kita akan mulai merasakan nuansa warna cokelat. Di mulai dari lorong di gambar di atas itu, ditambah lighting berwarna kuning, dan maket-maket dengan jumlah cukup banyak yang didominasi warna cokelat.

Penjelasan mengenai lontar, salah satu bagian dari kehidupan masyarakat Sabu-Raijua.
sumber: dokumentasi pribadi


Setelah melewati lorong yang men-display pakaian (sekaligus memperkenalkan sebagian pakaian mahasiswa yang pergi ke Sabu-Raijua), kita akan melihat sekilas cuplikan mengenai ekskursi-ekskursi sebelumnya, beberapa maket yang menjelaskannya, dan sebuah peta Indonesia yang menjelaskan dimana saja posisinya, sebagai perkenalan awal mengenai ekskursi beserta sepak terjangnya.

Kemudian barulah kita masuk ke dalam bagian yang menceritakan Sabu-Raijua, dimulai dengan lontar, sejarah, dan lain-lain sebagai salah satu hal esensial akan terbentuknya Sabu-Raijua, budayanya, dan; arsitekturnya.

 foto oleh: A. Soerio Tito

Maket Ammu Kepue (Rumah Induk), skala 1:5
sumber: dokumentasi pribadi

Kalau kita lanjut ke ruangan berikutnya, kita akan mulai disuguhkan penjelasan mengenai arsitekturnya; cara pembangunan arsitektur (beserta upacara-upacaranya), jenis rumah apa saja yang ada di Sabu-Raijua, dan berakhir dengan mata pencaharian sehari-hari masyarakat Sabu-Raijua.

Selain display dua dimensi pada dinding berupa deskripsi penjelasan, gambar, sketsa, foto, dan gambar denah, tampak, potongan dari tiap arsitektur yang ada di Sabu-Raijua, Pameran Eksternal juga menyajikan delapan buah maket dan instalasi. Masing-masing maket memiliki elemen yang sama dengan arsitektur aslinya, dibuat dengan batang-batang pohon dan daun-daun (sungguhan) sehingga dapat menimbulkan bayangan yang lebih jelas mengenai rumah masyarakat Sabu-Raijua. 

sumber: dokumentasi pribadi

Can you spot there is something flying?
sumber: dokumentasi pribadi

Pada Pameran Eksternal, teman-teman juga bisa melihat Tenun Sabu (dan dapat membelinya!). Tenun Sabu dibawa langsung dari sana, dengan harga yang bisa ditanyakan kepada panitia.


Untuk mengetahui lebih dalam mengenai isi pameran, teman-teman bisa berkunjung ke Gedung Pos lantai 2, karena Pameran Eksternal masih dibuka sampai dengan tanggal 12 Februari 2017, dengan highlight event di hari Sabtu, 11 Februari 2017 dengan agenda: Book Launching dan Screening & Bedah Film Jejak dan Langkah Bumi Sabu-Raijua.

Masih ada banyak hal yang bisa teman-teman dapatkan dari melihat sendiri display-nya dan mendengarkan penjelasan guide (kalau teman-teman minta dijelaskan..), so don't miss it!

Kalau teman-teman ingin mengabadikan pameran ini (dalam perpustakaan rumah masing-masing), teman-teman dapat membeli buku Sabu-Raijua on the spot di hari Sabtu, 11 Februari 2017 nanti.

Referensi:
http://ekskursi.arch.ui.ac.id/

October 23, 2016

Berilmu untuk Berbekal Pulang

"Kamu gak mau pulang ke rumah?"
"Nggak, ah. Aku di sini aja. Kalau di rumah, banyak godaannya. Di sini aku bisa terus dapat ilmu," jawab adikku.

Idul Adha 2016

Terkadang kita tidak sadar kita sudah cukup besar, kalau kita tidak melihat sekitar kita.

Adikku yang dulu selalu berantem denganku, sampai Bunda yang harus selalu turun melerai kami.
Adikku yang saat SD kerjaannya kejar-kejaran denganku di aula SD dan mencibir satu sama lain saat bertemu di lorong SD.
Adikku yang nilainya selalu jelek dan selalu berhasil dapat nilai bagus setelah itu karena dibantu kakak-kakaknya.
Adikku yang dulu masih berusaha lulus SMP, yang kuajar matematika saat H-1 Ujian Nasional dan dia tidak kunjung mengerti (sampai aku marah), kemudian lulus SMP, masuk SMA dan tiba-tiba sekarang sudah hampir setahun lulus SMA.

Adikku yang dulu dan yang sekarang, satu orang yang sama, dengan kondisi yang berbeda.

"Wah, adikku sudah besar."
Sekarang bukan hanya dia bisa berdiri sendiri, tapi dia tahu kepada siapa dia harus benar-benar menggantungkan dirinya.

Dan kemudian aku mempertanyakan diriku sendiri, kenapa sampai saat ini aku begini-begini saja?


Lulus SMA. Confusion Time: Kamu Punya Modal Apa?
Lulus SMA mungkin memang salah satu hal paling menyeramkan dan menegangkan. Karena kita harus menentukan sendiri kemana kita mau melangkah. Ke depan, itu adalah hidup kita. Tanpa batasan ruang lingkup dari sekolah dan standar-standar yang ditentukan oleh sebagian orang untuk dapat melewati suatu garis finish (meski sebenarnya tetap ada orang-orang yang berusaha membuat batasan-batasan tersebut, sih). Di saat inilah akan ada begitu banyak orang yang mengulurkan tangan dan menawarkan jawaban atas kebimbangan kita.

Begitu juga dengan adikku.

"Kamu mau jadi apa sih sebenarnya?" adalah pertanyaan yang, mungkin untuk adikku saat itu adalah hal paling menjengkelkan yang pernah ada di dunia ini.

Tapi setidaknya adikku ini punya modal yang menurutku, sebagai seorang muslim, sangat besar, meski nilai-nilai IPA--atau bahasaku, nilai-nilai ala anak SMA biasa--miliknya cenderung biasa saja. Dia hafal 30 juz. Bukan cuma juz 30, namun 30 juz! Dan dia suka belajar bahasa.

Setiap manusia pasti punya modal, setidak-tidaknya satu. Beberapa (re: modal) mungkin terlihat tidak signifikan, tapi yang penting, saat kita menentukan apa modal kita, sebaiknya itu adalah sesuatu yang kita akan merasa senang untuk terus menjalankannya dan mengembangkannya. It's your asset after all.

Yang menarik di sini adalah adanya sebuah kondisi dimana kita terjebak dengan keinginan-keinginan kita sendiri (dan kalau kita tidak cermat, terjebak dalam keinginan-keinginan orang juga). Kita tidak tahu yang manakah yang akan membawa kita kepada masa depan yang cerah. Dan kita tidak akan pernah bisa dengan tepat memproyeksikan, until the future becomes present.
Aku ingat saat itu adikku bilang dia ingin menjadi animator, kemudian ingin menjadi programmer, kemudian bingung, dan begitu terus.

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berpegang pada modalnya itu.


Wadi Mubarak, (Tempat di Antara) Bukit (yang) Penuh Berkah
"Bun, dia mau lanjut kemana akhirnya?" tanyaku

Aku ingat saat itu bunda menceritakan tentang Wadi Mubarak. Sebuah tempat di antara bukit, yang mana, tempat itu, penuh berkah", kata Bunda, artinya.
(Belakangan aku baru tahu bahwa 'Wadi' itu dalam bahasa arab atau istilah merupakan sungai kering yang ketika hujan mengandung air. Namun Bunda katakan sebagai sebuah (tempat di antara) bukit mungkin karena di Indonesia ini diletakkan hampir di puncak. Tapi inti makna yang ingin Bunda paparkan adalah di kata penuh berkah-nya itu. 'Penuh Berkah'nya lah yang membuat tempat itu terasa berbeda.)

Aku tidak mengantar adikku saat dia pindahan ke sana, aku cuma bisa berharap adikku betah. Karena aku dengar dari Bunda, tidak ada angkutan umum ke sana. Aku tahu adikku sangat petakilan. Dia pasti inginnya kemana-mana!
Aku saat itu masih tidak tahu dia sebenarnya ingin menjadi apa, ingin lanjut bagaimana, dan lain-lain. Dan karena adikku tidak memusingkan hal itu, ya sudahlah.

"Untuk sekarang yang jelas aku di Wadi Mubarak."
adalah jawaban yang singkat, jelas, dan padat. Sekarang aku di Wadi Mubarak. Dan aku belajar apapun yang ada di sana.

and then, boof.

Banyak hal berubah dari adikku. Tidak seperti aku yang seringkali excited tidak terkendali, kemudian murung (tidak terkendali), dan mungkin kemudian mengeluh (tidak terkendali juga..), dia terlihat seperti...seseorang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri.

Aku mendengar seberapa dia merasa sangat senang di sana. Seberapa dia senang bolak-balik asrama ke masjid atau kelasnya untuk belajar bahasa arab, dan lain-lain (yang aku lupa detailnya apa, maafkan aku), dan menghafal. Banyak santri-santri asing (dari negara lain), dan yang dari Indonesia pun datang dari seluruh penjuru negeri, sehingga bukan hanya dia belajar pelajaran yang dia pelajari sebagai seorang santri di sana, tapi juga sebagai seorang manusia yang bermasyarakat, dan tinggal di dunia, Instead of only in Indonesia.

Above all, I can feel that he is living. He is living. He is living in this world.
Some people somehow looks like they are in this Dunya, not knowing that "some people" I mentioned before is actually not living. They are only existed. The sad fact is that, probably I am included in "some people" I mentioned...

"Banyak hal yang kupelajari di sini!" katanya suatu hari dengan excited. Sebuah ekspresi senang yang tidak berlebihan, tapi aku bisa melihat bahwa mungkin benar-benar ada banyak hal yang dia pelajari di sana, melihat ekspresinya.

Orang-orang mungkin akan bertanya, "Terus nanti dia akan jadi apa?"
Orang-orang mungkin lupa bahwa ilmu agama juga sebuah ilmu. Bahwa yang disebut menimba ilmu itu bukan hanya yang tentang matematika, biologi, farmasi, arsitektur, programming, atau belajar membuat sesuatu yang baru..


Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu adalah tentang mempelajari apa-apa yang diciptakan Allah. Dan kita insya Allah menuntut ilmu yang baik jika mengetahui hal itu. Bahwa ilmu itu tentang belajar mengenai apa-apa yang diciptakan Allah. Sehingga menuntut ilmu tidak sesempit bangku kuliahan.

Sehingga, aku, yang dulu sanksi dengan fakta bahwa adikku tidak tahu ingin lanjut bagaimana, kemudian dia memutuskan untuk "Lanjut memperbaiki hafalan", spending his 2 years there, tanpa tahu setelahnya mau bagaimana, kini sadar betapa sempitnya pikiranku. Betapa mata kuda-nya hidupku.

"Doakan adikmu ya! Dia bilang, kalau dalam 5 bulan ini dia bisa hafal dengan lancar, Ramadhan depan dia ada kesempatan bisa ke Jepang (untuk menjadi imam di suatu  masjid). Karena katanya dia adalah salah satu yang cukup baik bahasa Inggrisnya juga," terang Bunda kemarin.

Lucu ya, aku. Manusia ini.
Padahal masa depan itu rahasia Allah.
Dan Allah bisa melakukan hal apapun.

*
Terkadang kita tidak sadar kita sudah cukup besar, kalau kita tidak melihat sekitar kita.
Sampai tiba-tiba kita disadarkan bahwa kita sudah cukup tua dan umur perlahan berkurang.

He is ready to face Allah anytime,
Dengan modal itu,
Dengan ilmu itu,
Dan mungkin dengan dirinya yang sekarang.

Aku tua, dan aku rasa aku belum siap dengan ilmuku ini.
Duh.

September 13, 2016

Qurban: Sebuah Persembahan untuk Yang Maha Kuasa

sumber: dokumentasi pribadi

Saat itu aku hanya melihatnya (salah satu kambing di taman masjid), berdiri diam, bolak-balik melihat teman-temannya dan orang-orang di sekelilingnya. Makan rumput sambil mengelus-eluskan kepalanya pada tiang.

"Mbe.e.e.k," sapa kakakku padanya, yang hanya dijawab dengan tatapan sesaat. Kemudian kakakku mengelus-elusnya. Mengelus-elus pipinya.


Bukan, bukan karena kami membencimu, tapi justru karena kami mencintai Dia yang menciptakanmu, dan aku yakin kamu pun mencintai-Nya, maka kami persembahkan kamu kepada-Nya.

* * *

Kemarin di kampus, kami memulai beberapa hari kuliah dengan "belajar berqurban". Entah apapun harapan orang-orang saat mereka menaruhkan sebagian hartanya untuk hal ini, aku bersyukur aku sempat belajar sedikit banyak tentang qurban, jadinya.

Aku jadi tahu (karena awalnya aku benar-benar tidak tahu), mulai dari patungan untuk kambing atau sapi yang lebih dari jumlahnya (kalau kambing semestinya dibeli oleh satu orang dan sapi oleh tujuh orang) yang ternyata tidak akan menjadi hewan qurban, melainkan hewan yang memang dibeli dan kalau setelahnya dagingnya dibagikan sebagai sedekah, maka dagingnya adalah sedekah, namun kambing itu sendiri tidaklah dipotong sebagai hewan qurban. (https://konsultasisyariah.com/14519-boleh-urunan-qurban-kambing.html)

Maka mengetahui itu kami memutuskan untuk menghibahkan hasil patungan itu sehingga orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup kami di dunia perkuliahan (meskipun seringnya di balik layar) dapat mendapatkan kesempatan untuk mempersembahkan hewan tersebut untuk Allah SWT.  Semoga saja, domba-domba itu kemudian berhasil dianggap sebagai hewan qurban. Mungkin tidak dianggap sebagai qurbanku, tapi aku senang aku bisa turut merasakan euforia dari berqurban, melebihi tahun-tahun sebelumnya.
It's more than spending money to buy a sheep that you might would not taste it, 
it's about giving the things that belongs to Him, back to Him, with our very own concern.
Aku belajar bahwa memang tidak ada satu pun adalah milikku, either itu uangku, atau bahkan diriku sendiri.

sumber: dokumentasi pribadi

Domba no. 26. Boro-boro dombaku. Itu domba kakakku.

Aku ingat saat pertama kali--kemarin sekali, dia datang sore-sore diantar pick up, lalu kami antarkan dia ke masjid.


Sampai kambing no. 25 dipanggil sudah oleh pemegang mic. Kambing di atas, yang kami elus-elus pipinya itu, mati dengan tenangnya. Disaksikan oleh pemiliknya yang berjanggut panjang dan bercelana isbal. 

Aku melihat domba kakakku yang mulai ditarik tali pengikat lehernya. Domba itu menolak dan berkali-kali mencoba kembali ke tempat sebelumnya. Berontak dengan tubuhnya yang hanya setengah dari berat badanku.

Namun kemudian si penuntun domba itu berhenti menarik dan mengikatkan domba pada tiang masjid. Saat itu aku dan kakakku coba menghampirinya--domba itu.

Dia nampak tak nyaman dengan tali mengikat leher yang dilabuhkan pada sebuah tiang. Aku dan kakakku awalnya hanya memperhatikannya bergerak ke sana kemari demi mengeluarkan lehernya dari kekangan tali. Sampai akhirnya (mungkin) dia menyerah.

Dan kakakku mulai mengelus-elusnya. 

"Mbe.e.ek," sapa kakakku. Dia mulai menjulurkan tangannya untuk mengusap kepala domba. Domba itu hanya diam saja.


Kemudian saat kakakku mulai pergi melihat sapi yang sedang diqurbankan, aku mengusap kepala domba itu. 

"Maaf, ya, aku gak pakai kaos kaki," somehow menjadi kalimat pertamaku kepadanya. Saat itu aku malu. Dia berusaha mempersembahkan hidupnya untuk yang Maha Kuasa, tapi sesepele memakai kaus kaki pun aku tidak bisa? 

Aku elus-elus kepalanya lagi. Sampai qurban sapi telah selesai disembelih, dan domba itu pun dibawa ke tempat eksekusi. Kali ini lebih menurut. Meski terkadang mogok jalan atau duduk di tanah--menyandarkan pantatnya yang empuk secara tiba-tiba. Di tempat penyembelihan, domba itu malah asyik makan rumput. Sebelum akhirnya menurut untuk dituntun. Diangkat. Dan kemudian disandarkan lehernya pada sebuah bilah kayu, tempat dia akan melihat surga untuk pertama kalinya.


Aku belajar dari domba dan hewan-hewan ternak itu,
Bagaimana berjuang untuk Allah.

The Owner

My photo
Already 19 ;) The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'