September 13, 2016

Qurban: Sebuah Persembahan untuk Yang Maha Kuasa

sumber: dokumentasi pribadi

Saat itu aku hanya melihatnya (salah satu kambing di taman masjid), berdiri diam, bolak-balik melihat teman-temannya dan orang-orang di sekelilingnya. Makan rumput sambil mengelus-eluskan kepalanya pada tiang.

"Mbe.e.e.k," sapa kakakku padanya, yang hanya dijawab dengan tatapan sesaat. Kemudian kakakku mengelus-elusnya. Mengelus-elus pipinya.


Bukan, bukan karena kami membencimu, tapi justru karena kami mencintai Dia yang menciptakanmu, dan aku yakin kamu pun mencintai-Nya, maka kami persembahkan kamu kepada-Nya.

* * *

Kemarin di kampus, kami memulai beberapa hari kuliah dengan "belajar berqurban". Entah apapun harapan orang-orang saat mereka menaruhkan sebagian hartanya untuk hal ini, aku bersyukur aku sempat belajar sedikit banyak tentang qurban, jadinya.

Aku jadi tahu (karena awalnya aku benar-benar tidak tahu), mulai dari patungan untuk kambing atau sapi yang lebih dari jumlahnya (kalau kambing semestinya dibeli oleh satu orang dan sapi oleh tujuh orang) yang ternyata tidak akan menjadi hewan qurban, melainkan hewan yang memang dibeli dan kalau setelahnya dagingnya dibagikan sebagai sedekah, maka dagingnya adalah sedekah, namun kambing itu sendiri tidaklah dipotong sebagai hewan qurban. (https://konsultasisyariah.com/14519-boleh-urunan-qurban-kambing.html)

Maka mengetahui itu kami memutuskan untuk menghibahkan hasil patungan itu sehingga orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup kami di dunia perkuliahan (meskipun seringnya di balik layar) dapat mendapatkan kesempatan untuk mempersembahkan hewan tersebut untuk Allah SWT.  Semoga saja, domba-domba itu kemudian berhasil dianggap sebagai hewan qurban. Mungkin tidak dianggap sebagai qurbanku, tapi aku senang aku bisa turut merasakan euforia dari berqurban, melebihi tahun-tahun sebelumnya.
It's more than spending money to buy a sheep that you might would not taste it, 
it's about giving the things that belongs to Him, back to Him, with our very own concern.
Aku belajar bahwa memang tidak ada satu pun adalah milikku, either itu uangku, atau bahkan diriku sendiri.

sumber: dokumentasi pribadi

Domba no. 26. Boro-boro dombaku. Itu domba kakakku.

Aku ingat saat pertama kali--kemarin sekali, dia datang sore-sore diantar pick up, lalu kami antarkan dia ke masjid.


Sampai kambing no. 25 dipanggil sudah oleh pemegang mic. Kambing di atas, yang kami elus-elus pipinya itu, mati dengan tenangnya. Disaksikan oleh pemiliknya yang berjanggut panjang dan bercelana isbal. 

Aku melihat domba kakakku yang mulai ditarik tali pengikat lehernya. Domba itu menolak dan berkali-kali mencoba kembali ke tempat sebelumnya. Berontak dengan tubuhnya yang hanya setengah dari berat badanku.

Namun kemudian si penuntun domba itu berhenti menarik dan mengikatkan domba pada tiang masjid. Saat itu aku dan kakakku coba menghampirinya--domba itu.

Dia nampak tak nyaman dengan tali mengikat leher yang dilabuhkan pada sebuah tiang. Aku dan kakakku awalnya hanya memperhatikannya bergerak ke sana kemari demi mengeluarkan lehernya dari kekangan tali. Sampai akhirnya (mungkin) dia menyerah.

Dan kakakku mulai mengelus-elusnya. 

"Mbe.e.ek," sapa kakakku. Dia mulai menjulurkan tangannya untuk mengusap kepala domba. Domba itu hanya diam saja.


Kemudian saat kakakku mulai pergi melihat sapi yang sedang diqurbankan, aku mengusap kepala domba itu. 

"Maaf, ya, aku gak pakai kaos kaki," somehow menjadi kalimat pertamaku kepadanya. Saat itu aku malu. Dia berusaha mempersembahkan hidupnya untuk yang Maha Kuasa, tapi sesepele memakai kaus kaki pun aku tidak bisa? 

Aku elus-elus kepalanya lagi. Sampai qurban sapi telah selesai disembelih, dan domba itu pun dibawa ke tempat eksekusi. Kali ini lebih menurut. Meski terkadang mogok jalan atau duduk di tanah--menyandarkan pantatnya yang empuk secara tiba-tiba. Di tempat penyembelihan, domba itu malah asyik makan rumput. Sebelum akhirnya menurut untuk dituntun. Diangkat. Dan kemudian disandarkan lehernya pada sebuah bilah kayu, tempat dia akan melihat surga untuk pertama kalinya.


Aku belajar dari domba dan hewan-hewan ternak itu,
Bagaimana berjuang untuk Allah.

July 11, 2016

EVEREST: Pesan Penting Sebuah Perjalan

sumber: google.com

   Tanggal 8 Oktober 2015 yang lalu, bersama senior teknik lingkungan, Cindy namanya, dengan random-nya menonton sebuah film di layar bioskop Depok Town Square, judulnya Everest. Melenceng sekali dari tujuan awal: Maze Runner 2. Namun apalah arti sebuah film, kami pun menonton.

SINOPSIS
   Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata di tahun 1996.

   Everest, sebuah gunung paling penuh misteri di dunia. Dengan puncak tertinggi berlapis salju dan tebing curam, butuh keahlian dan mental kuat untuk bisa menyentuh puncak. Rob, adalah salah satu orang yang beruntung sekali bisa menyentuh puncaknya.

   Rob membuat semacam travel untuk trip ke gunung Everest. Bersama rombongannya yang cukup banyak dan teman-teman agen travelnya yang bernama “Adventure Consultant”, Rob pun mendaki puncak Everest.

   Berdasarkan rencana awal, seharusnya mereka sampai di puncak Everest tanggal 10 Mei. Perjalanan ke atas terasa sangat menyenangkan dan smeuanya terkontrol, sampai akhirnya beberapa orang pada tim mulai merasa kelelahan. Akhirnya memang mereka mencapai puncak Everest, namun berbagai macam rintangan semakin banyak menghampiri dalam perjalanan mereka menuruni puncak Everest. Badai tiba, karena kesalahan dalam pengontrolan waktu. Hanya beberapa menit saja mereka telat, namun kerugian besar harus diterima saat perjalanan pulang.

*
   Kemarin, aku dan Cindy berhasil keluar bioskop dengan rasa depresi luar biasa. Semua cerita tentang perjalanan tim itu terasa begitu dekat (mungkin karena kami pecinta alam) sampai-sampai aku merasa pusing.
   Layaknya film barat pada umumnya, plot menjadi hal utama yang patut dibanggakan. Despite segala kedepresian yang aku rasakan, aku bisa mengerti penuh ceritanya dan semuanya sangat sesuai (walaupun aku gak tau itu puncak Everest sungguhan atau bukan) and it feels so real. Everest ini adalah bagian dari kisah nyata yang berhasil diceritakan kembali dengan baik. It has a bad ending, but it was a good film.

Kalau kupaparkan, aku mendapat cukup banyak pesan, ya..
1.       Persiapkan Perjalanan dengan Baik. Jangan sampai kita tidak tahu badai kapan datang, Jangan sampai tidak pikirkan kejadian buruk yang mungkin terjadi. Coba lihat juga kemungkinan berapa banyak orang yang akan mendaki gunung itu selain timmu. Di film Everest, karena banyaknya massa yang mendaki, jadi semacam harus semakin lama mengantre, hal ini yang kemudian ikut mempengaruhi timeline perjalanan mereka dan malah membuat mereka harus bertemu badai. Pastikan juga peralatan kita sesuai dengan medan yang akan kita tempuh. Semisal kita pergi ke gunung ber-es seperti Everest atau misalnya saja ke puncak Jayawijaya, jangan lupa siapkan sarung tangan ekstra ataupun jaket yang lebih tebal, peralatan menghadapi dingin, licin, dan berbahayanya lintasan ber-es, dll. Jangan gunakan peralatan seperti kamu pergi ke gunung Kerinci.

2.       Latihan Fisik sebelum perjalanan, cek kesehatan, jangan memaksakan untuk pergi jika kamu tidak dalam keadaan sehat. Jangan sampai merepotkan orang-orang lain. Memang orang-orang yang suka melakukan perjalanan cenderung memiliki rasa menolong yang besar, tapi kan repot kalau kamu terus-terusan ditolong hanya karena kamu kurang latihan atau ternyata sedang sakit. Orang sakit cenderung butuh banyak bantuan eksternal, bukan cuma tenaga orang lain yang mereka butuhkan, tapi obat-obatan, makanan, minuman, dan lain-lain, dan bagaimana kalau persediaan habis sebelum kamu mencapai puncak? Latihan Fisik ini juga harus dipikirkan dengan baik, loh..sebisa mungkin simulasikan latihan fisik kita mengikuti kemana kita akan pergi. Olahraga berlari yang banyak pada jalanan menanjak, sambil membawa beban, dan mungkin dapat ditambah dengan latihan memanjat.

3.      Pastikan ada orang yang ahli betul dalam timmu. Dalam film Everest, bukannya tidak ada orang yang ahli, tapi rasanya masih kurang banyak. Bayangkan, dalam film itu kalau aku tidak salah ingat—hanya 2 orang yang sibuk bolak-balik membawakan oksigen ataupun menolong mereka yang terluka ataupun kedinginan di tengah perjalanan kembali ke basecamp yang letaknya sebelum puncak. Sangat melelahkan.

4.       Pilih leader, yaitu dia yang paling ahli dalam bidangnya, dan dengarkan komandonya! Pada akhirnya menurutku kesalahan terbesar yang menyebabkan film ini berakhir dengan bad ending karena tiap-tiap orang memperhatikan egonya masing-masing ingin mencapai puncak. Padahal leader-nya sudah memberikan instruksi untuk, "Kita harus turun", dan "Ayo turun sekarang". Lalu jelas-jelas dia (yang bukan leader dalam film itu) sudah merasa sakit, kedinginan, waktu mereka sudah melebihi timeline, dan jelas-jelas sudah datang informasi akan datangnya badai. Mendaki gunung (atau apapun deh yang melibatkan orang lain) bukan cuma tentangmu, tapi tentang orang-orang lain yang ikut mendaki bersamamu. Jangan sampai karena kondisi fisik dan egomu, orang lain tidak dapat kembali ke rumahnya.

   Over all, film Everest layaknya film outdoor activity lainnya—seru, kok. Sampai saat ini aku penasaran bagaimana caranya mendokumentasikan puncak gunung dari jarak jauh—maupun dekat seperti itu (kalau itu bukan green scene) dan sangat tertarik untuk belajar. Menurutku angle-angle kameranya baik, aku mengerti betul mereka sedang ada di puncak, di antara jurang, dll. Just, as expected from western movie. Well written, well served.

June 21, 2015

Who Are You School 2015: Lend A Hand!

Who Are You: School 2015 merupakan sebuah drama korea berjumlah 16 episode. Setting yang diambil merupakan kehidupan persekolahan, menguak sisi gelap persahabatan masa sekolah.



SINOPSIS
  Lee Eun Bi (Kim So Hyun), merupakan seorang perempuan yang bersekolah di Teongyeong, tinggal di sebuah panti. Memiliki rasa keadilan yang besar dan baik hati, sering kali dia mencoba untuk membela temannya yang di-bully oleh Kang So-Young (Jo Soo Hyang). Tidak suka dengan Lee Eun Bi, Kang So-Young dan gengnya pun berbalik mem-bully Lee Eun Bi. Tidak tahan dengan pem-bully-an yang dilakukan Kang So-Young dan kawanannya, Lee Eun Bi pun berusaha mengakhiri nyawanya.

  Di sisi lain, Go Eun Byul (Kim So Hyun), perempuan dengan watak keras yang juga memiliki rasa keadilan besar, bersama dengan teman-temannya pergi ke Teongyeong. Di tengah perjalanan, entah kenapa Go Eun Byul tiba-tiba memilih untuk sendirian—terpisah dari teman-temannya, moodnya berbalik 180 derajat, setelah melihat SMS dari Jung Soo-In. Saat dia pergi ke kamar mandi, dia tidak juga kembali, dan Go Eun Byul dinyatakan hilang.
  
  Beberapa hari kemudian, Go Eun Byul ditemukan di pinggir sungai di Teongyeong. Go Eun Byul kemudian dibawa ke rumah sakit dan tersadar dalam keadaan tidak mengingat apa-apa. Bahkan dia tidak lagi mengingat Ibunya dan Han Yi-an (Nam Joo Hyuk)—sahabatnya semenjak kecil. Bukan hanya itu, sifat dan sikap Go Eun Byul pun berubah lebih lembut dan kata-katanya yang dulu terdengar tajam tidak keluar dari mulutnya. Dia mulai berteman dengan orang-orang yang sebelumnya tidak didekatinya, salah satunya adalah Gong Tae-Kwang (Yook Sung Jae).
  
  Sekang High School adalah sekolah di Seoul yang didatangi oleh Go Eun Byul. Dibalik titel namanya yang keren, ternyata ada berbagai macam kejadian di dalamnya, termasuk di dalamnya cerita mengenai Jung Soo-In, orang misterius yang membuat Go Eun Byul memilih untuk menyendiri saat berlibur ke Teongyeong!

  Bukan Cuma itu, Kang So-Young, yang dikeluarkan dari sekolahnya di Teongyeong, kini pindah ke Sekang High School dan mencoba untuk menguak misteri dibalik Go Eun Byul—yang memiliki wajah sangat serupa dengan Lee Eun Bi! Kang So-Young berusaha untuk menangkis fakta bahwa dirinya membunuh Lee Eun-Bi, dengan mencari tahu apakah Go Eun Byul sebenarnya Lee Eun Bi.
Dan saat ingatan Go Eun Byul kembali, semua cerita di Sekang High School sudah berlanjut di luar kendalinya.

KELEBIHAN
  Menurut saya alur cerita sangat baik. Permasalahan dikemas dengan sangat baik. Selalu ada dinamika di tiap episode, dan episode selalu berakhir di saat-saat yang tepat, sehingga berhasil membuat saya “lanjut menonton episode berikutnya” tiap kali satu episode berakhir. Kehidupan sekolah yang nyata, pertemanan di dalamnya khas anak sekolahan. Meski selalu ada permasalahan, saya bisa merasakan permasalahannya realistis dan bukannya permasalahan cinta-cintaan yang rasanya belum cocok untuk anak sekolahan seperti beberapa drama lainnya. Menurut saya memang yang menyenangkan dari sekolah itu karena pertemanan di dalamnya yang masih ada unsur “bermainnya” dibanding jenjang lebih tinggi. Dan menurut saya juga memang sepantasnya permasalahan cinta-cintaan yang berlebihan macam drama lainnya itu belum perlu dipikirkan anak sekolahan ya, jadi menurut saya porsi romance dalam film ini sesuai lah ya. Berawal dari pertemanan.. bahkan kisah cinta Han Yi-An kepada Go Eun-Byul pun dilandaskan pada persahabatan.

  Selain alur cerita yang menarik, lagu yang dipilih pun menurut saya cukup sesuai. Maknanya sesuai dengan adegannya, maknanya sesuai juga dengan alur besar ceritanya. Menurut saya lagu yang jadi ikon drama ini adalah lagu Tiger JK+Jinshil yang judulnya Reset, berhasil menyesuaikan diri dengan drama. Maknanya saya kira tepat, dan lagunya itu somehow “sangat Go Eun Byul”. Mulai dari artinya, sampai dengan gaya lagunya—yang anak muda banget. Dan bisa dilihat lagu itu banyak muncul di episode yang “banyak Go Eun Byul”nya, maupun saat Lee Eun Bi mulai bisa “melawan” balik Kang So-Young. Somehow you can feel the fighting spirit in that song

  Pemilihan aktor pun menurut saya oke. Meski tidak semuanya saya kenal, saya menikmati peran mereka di dalam drama. Akting tidak lebay, saya rasa cukup natural. Kim So-Hyun is splendidly able to finish both the character. Dengan bantuan make up yang tidak lebay, performa Kim So-Hyun terbantu, bahkan kita bisa lihat apakah Go Eun Byul ataukah Lee Eun Bi yang sedang berperan di dalamnya. Pemilihan aktor yang tidak terpusat pada satu generasi saja, membuat drama menurut saya lebih berwarna. Mungkin para aktor bisa saling belajar dengan yang lainnya. Jo Soo-Hyang memainkan perannya dengan sangat baik, tidak ada orang yang tidak kesal dengan peran Kang So-Youngnya.

  Ending? ENDING! Menurut saya Endingnya oke banget. I love how the director chose to make the same scene in different setting (Lee Eun Bi facing behind, at the camera), but she is now able to proudly say something that considered as happy ending. Karena aku jadi ingat bagaimana di episode awal dia menengok ke belakang (this is what I meant by 'same scene in different setting' in previous sentence), namun mukanya seperti orang yang berkata, “I have tried my best. But this is what I got. . . .No matter how much I need help, no one lend me a hand.”
Pesannya saya rasa sangat oke. It reminds us how a pure friendship is the thing people need..

KEKURANGAN
  Secara teknis saya tidak tahu mau berucap apa mengenai kekurangannya.. Tapi yah, beberapa orang kecewa dengan bagaimana menurut penonton Lee Eun Bi memilih Han Yi-An. Bagaimana dengan Go Eun Byul? Bagaimana dengan Gong Tae-Kwang? Bukankah Gong Tae-Kwang “menemukan” Lee Eun-bi terlebih dahulu? Pun dengan Go Eun-Byul? Tapi kenapa mereka malah yang tidak mendapat pasangannya? Yang saya tahu..penonton ingin semua orang di dalam drama mendapat pasangan. Saya pribadi juga sedih sih, karena Gong Tae-Kwang jelas lebih banyak membela Lee Eun bi di masa lampau. Tapi memang pengorbanan Han Yi-an lebih dahsyat sih. Tapi karena menurut saya purpose dari filmnya bukan romance tapi relationship, saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu (walaupun agak sedih juga sih).

  Hal yang lebih saya bingung adalah watak Lee Eun-Bi yang bukannya terlihat baik, lebih banyak terlihat bingung.. memang mungkin risiko “orang lembut” adalah kalimatnya cenderung ngawang-ngawang karena tidak mau menyakiti siapapun ya. Jadinya terkesan bingung. Ya. Padahal maksudnya ingin memerankan orang yang “lembut dan baik hati”. Memerankan orang berwatak keras mungkin memang lebih mudah.

  Saya juga menyayangkan peran Lee Pil-Mo yang kurang signifikan.. seolah-olah garis hubungan antara film ini dan Lee Pil-Mo hanya pada masa lalunya Go Eun Byul. Padahal Lee Pil-Mo juga sempat bertemu dengan Kang So-Young. Kenapa dia tidak menyelesaikan masalah Kang So-Young dan Lee Eun-Bi juga?

  Terakhir, menurut saya semua ini tidak adil untuk Go Eun Byul. Menurut saya dia seharusnya jadi pahlawan di drama ini. Karena perannya yang selalu berusaha menyelesaikan masalah saudara perempuannya, menyelesaikan masa lalu kelamnya, dan lain-lain. Tapi ternyata kemunculannya hanya sebentar saja dan jadinya seperti pahlawan yang terlupakan di akhir. Padahal cerita Doraemon saja, meski Nobita selalu ditolong Doraemon, ada ending yang adil untuk Nobita dan Doraemon. Doraemon tetap dikenang sebagai 'pahlawan'  yang amat luar biasa.

  
  Tapi secara keseluruhan saya merasa puaaas menonton drama ini! Alur cerita baik, pesan pun baik! Pemilihan tokoh saya rasa baik. Lee Pil-Mo memang sesuatu. Saya ngefans sekali, sir!
Kim So-Hyun juga berkembang sekali. Saya ingat saya pertama kali nonton dia di Ma Boy dan aktingnya masih “apa-banget”, tapi saya rasa dia berkembang.. mungkin ke depannya saya bakal ngefans sama dia! Haha. Dalam satu drama dia berhasil menunjukkan dua watak yang amat berbeda tanpa kita bingung dia sedang memerankan apa, saya rasa perlu diapresiasi!



18 years old is too early to fulfill your dream, but it’s a perfect age for that dream to start. It’s painful when you fall, but it’s a perfect age to fall a hundred times and learn how to stand again. We’re immature, it’s easy to get hurt at that age. At that age, you’ll get hurt and have a hard time. Even so, once the time has passed, at that time, you can say your happiest moment was when someone lent a warm hand after you fell.
No more or no less.
When a friend is crying, you step in to help.
“I.. us.. there is nothing that we can’t beat that comes in our way. It’s okay. You can be hurt...since you’re 18 years old.”(Who Are You: School 2015)


P.S: I’m so happy with the fact that I watched this when I was(or am?) 18 years old. Drama ini cukup jadi refleksi diri.. apakah kita udah jadi “ that friend who step in to help
Dan...bullying is uncool. Ada cara lain kok supaya kita bisa menghilangkan rasa iri kita sama orang lain.

The Owner

My photo
Already 18 ;) The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'