April 23, 2013

Sembilan Orang Kakak



Lihatlah!
Dulu mereka hanya berjumlah dua orang. Perempuan pula.
Sekarang mereka berjumlah dua puluh satu! Dua puluh satu! Tapi tidak semuanya berada dalam foto.
Bukan dua belas seperti saya dulu.

Mereka adik-adik saya.
Di sekolah.

Dulu mereka amatir. Tidak ahli sama sekali dalam paskib.
Sekarang mereka berhasil memenangkan satu lomba!
Insya Allah baru satu. Insya Allah akan terus bertambah.

Di sinilah tugas saya dan delapan orang kakak lainnya.



April 7, 2013

Sulit

Saya tahu pasti. Kematian datang tiba-tiba. Kematian sangat dekat. Siapa tahu kematian hanya sejengkal jaraknya dari tubuh kita.

Tapi, setan itu banyak sekali akalnya. Mau bergerak tidak jadi. Mau bertindak, malas rasanya. 
Jadilah di sini, hal yang biasa orang bilang, "Mulut besar."

Bicara iya, melakukan tidak.
...Durra ingin sekali bertindak.

Biar saja Durra menjadi kaum minor, tapi Durra ingin bertindak. Kembali memanjat arah yang seharusnya, setelah limbung dan jatuh dari kanan-kirinya.

Teman, dunia itu memang terlihat amat gemerlap. Meskipun hanya di bagian kecil dunia, cobalah buat cahaya yang sesungguhnya. Orang yang memandang rendah, hanya iri karena tidak bisa menghasilkan cahaya yang sama. Yuk, dicoba. Memang sulit, tapi harus diusahakan.

April 6, 2013

Cerita Bung Hatta Ketika TO UN

Kemarin saya TO UN di tempat les saya. TO Bahasa Indonesia. Ketika itu, saya terharu dengan bacaan di sana. Di dalam soal tersebut ada bacaan tentang Bung Hatta.

Bung Hatta dan Sepatu Bally. Kira-kira begini ceritanya: 

Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu itu. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.
Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.
Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Pada hal, jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sangatlah mudah bagi beliau untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.
“Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,”.



Terima kasih Bung Hatta atas segalanya.
Indonesia bisa merdeka berkat Anda juga.
Dan semoga kelak nanti akan segera datang saat dimana Indonesia dapat jaya sepenuhnya. Tanpa mengambil uang yang bukan miliknya, selalu menabung dari uang yang didapat hasil kerja keras sendiri. Hidup sederhana, namun sejahtera.

The Owner

My Photo
15 Years Old, INDONESIAN. The Girl who Tries to be Adorable Enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'