June 21, 2015

Who Are You School 2015: Lend A Hand!

Who Are You: School 2015 merupakan sebuah drama korea berjumlah 16 episode. Setting yang diambil merupakan kehidupan persekolahan, menguak sisi gelap persahabatan masa sekolah.



SINOPSIS
  Lee Eun Bi, merupakan seorang perempuan yang bersekolah di Teongyeong, tinggal di sebuah panti. Memiliki rasa keadilan yang besar dan baik hati, sering kali dia mencoba untuk membela temannya yang di-bully oleh Kang So-Young. Tidak suka dengan Lee Eun Bi, Kang So-Young dan gengnya pun berbalik mem-bully Lee Eun Bi. Tidak tahan dengan pem-bully-an yang dilakukan Kang So-Young dan kawanannya, Lee Eun Bi pun berusaha mengakhiri nyawanya.

  Di sisi lain, Go Eun Byul, perempuan dengan watak keras yang juga memiliki rasa keadilan besar, bersama dengan teman-temannya pergi ke Teongyeong. Di tengah perjalanan, entah kenapa Go Eun Byul tiba-tiba memilih untuk sendirian—terpisah dari teman-temannya, moodnya berbalik 180 derajat, setelah melihat SMS dari Jung Soo-In. Saat dia pergi ke kamar mandi, dia tidak juga kembali, dan Go Eun Byul dinyatakan hilang.
  
  Beberapa hari kemudian, Go Eun Byul ditemukan di pinggir sungai di Teongyeong. Go Eun Byul kemudian dibawa ke rumah sakit dan tersadar dalam keadaan tidak mengingat apa-apa. Bahkan dia tidak lagi mengingat Ibunya dan Han Yi-an—sahabatnya semenjak kecil. Bukan hanya itu, sifat dan sikap Go Eun Byul pun berubah lebih lembut dan kata-katanya yang dulu terdengar tajam tidak keluar dari mulutnya. Dia mulai berteman dengan orang-orang yang sebelumnya tidak didekatinya, salah satunya adalah Gong Tae-Kwang.
  
  Sekang High School adalah sekolah di Seoul yang didatangi oleh Go Eun Byul. Dibalik titel namanya yang keren, ternyata ada berbagai macam kejadian di dalamnya, termasuk di dalamnya cerita mengenai Jung Soo-In, orang misterius yang membuat Go Eun Byul memilih untuk menyendiri saat berlibur ke Teongyeong!

  Bukan Cuma itu, Kang So-Young, yang dikeluarkan dari sekolahnya di Teongyeong, kini pindah ke Sekang High School dan mencoba untuk menguak misteri dibalik Go Eun Byul—yang memiliki wajah sangat serupa dengan Lee Eun Bi! Kang So-Young berusaha untuk menangkis fakta bahwa dirinya membunuh Lee Eun-Bi, dengan mencari tahu apakah Go Eun Byul sebenarnya Lee Eun Bi.
Dan saat ingatan Go Eun Byul kembali, semua cerita di Sekang High School sudah berlanjut di luar kendalinya.

KELEBIHAN
  Menurut saya alur cerita sangat baik. Permasalahan dikemas dengan sangat baik. Selalu ada dinamika di tiap episode, dan episode selalu berakhir di saat-saat yang tepat, sehingga berhasil membuat saya “lanjut menonton episode berikutnya” tiap kali satu episode berakhir. Kehidupan sekolah yang nyata, pertemanan di dalamnya khas anak sekolahan. Meski selalu ada permasalahan, saya bisa merasakan permasalahannya realistis dan bukannya permasalahan cinta-cintaan yang rasanya belum cocok untuk anak sekolahan seperti beberapa drama lainnya. Menurut saya memang yang menyenangkan dari sekolah itu karena pertemanan di dalamnya yang masih ada unsur “bermainnya” dibanding jenjang lebih tinggi. Dan menurut saya juga memang sepantasnya permasalahan cinta-cintaan yang berlebihan macam drama lainnya itu belum perlu dipikirkan anak sekolahan ya, jadi menurut saya porsi romance dalam film ini sesuai lah ya. Berawal dari pertemanan.. bahkan kisah cinta Han Yi-An kepada Go Eun-Byul pun dilandaskan pada persahabatan.

  Selain alur cerita yang menarik, lagu yang dipilih pun menurut saya cukup sesuai. Maknanya sesuai dengan adegannya, maknanya sesuai juga dengan alur besar ceritanya. Menurut saya lagu yang jadi ikon drama ini adalah lagu Tiger JK+Jinshil yang judulnya Reset, berhasil menyesuaikan diri dengan drama. Maknanya saya kira tepat, dan lagunya itu somehow “sangat Go Eun Byul”. Mulai dari artinya, sampai dengan gaya lagunya—yang anak muda banget. Dan bisa dilihat lagu itu banyak muncul di episode yang “banyak Go Eun Byul”nya, maupun saat Lee Eun Bi mulai bisa “melawan” balik Kang So-Young. Somehow you can feel the fighting spirit in that song

  Pemilihan aktor pun menurut saya oke. Meski tidak semuanya saya kenal, saya menikmati peran mereka di dalam drama. Akting tidak lebay, saya rasa cukup natural. Kim So-Hyun is splendidly able to finish both the character. Dengan bantuan make up yang tidak lebay, performa Kim So-Hyun terbantu, bahkan kita bisa lihat apakah Go Eun Byul ataukah Lee Eun Bi yang sedang berperan di dalamnya. Pemilihan aktor yang tidak terpusat pada satu generasi saja, membuat drama menurut saya lebih berwarna. Mungkin para aktor bisa saling belajar dengan yang lainnya. Jo Soo-Hyang memainkan perannya dengan sangat baik, tidak ada orang yang tidak kesal dengan peran Kang So-Youngnya.

  Ending? ENDING! Menurut saya Endingnya oke banget. I love how the director chose to make the same scene in different setting (Lee Eun Bi facing behind, at the camera), but she is now able to proudly say something that considered as happy ending. Aku jadi ingat bagaimana di episode awal dia menengok ke belakang, namun mukanya seperti orang yang berkata, “I have tried my best. But this is what I got. . . .No matter how much I need help, no one lend me a hand.”
Pesannya saya rasa sangat oke. It reminds us how a pure friendship is the thing people need..

KEKURANGAN
  Secara teknis saya tidak tahu mau berucap apa mengenai kekurangannya.. Tapi yah, beberapa orang kecewa dengan bagaimana menurut penonton Lee Eun Bi memilih Han Yi-An. Bagaimana dengan Go Eun Byul? Bagaimana dengan Gong Tae-Kwang? Bukankah Gong Tae-Kwang “menemukan” Lee Eun-bi terlebih dahulu? Pun dengan Go Eun-Byul? Tapi kenapa mereka malah yang tidak mendapat pasangannya? Yang saya tahu..penonton ingin semua orang di dalam drama mendapat pasangan. Saya pribadi juga sedih sih, karena Gong Tae-Kwang jelas lebih banyak membela Lee Eun bi di masa lampau. Tapi memang pengorbanan Han Yi-an lebih dahsyat sih. Tapi karena menurut saya purpose dari filmnya bukan romance tapi relationship, saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu (walaupun agak sedih juga sih).

  Hal yang lebih saya bingung adalah watak Lee Eun-Bi yang bukannya terlihat baik, lebih banyak terlihat bingung.. memang mungkin risiko “orang lembut” adalah kalimatnya cenderung ngawang-ngawang karena tidak mau menyakiti siapapun ya. Jadinya terkesan bingung. Ya. Padahal maksudnya ingin memerankan orang yang “lembut dan baik hati”. Memerankan orang berwatak keras mungkin memang lebih mudah.

  Saya juga menyayangkan peran Lee Pil-Mo yang kurang signifikan.. seolah-olah garis hubungan antara film ini dan Lee Pil-Mo hanya pada masa lalunya Go Eun Byul. Padahal Lee Pil-Mo juga sempat bertemu dengan Kang So-Young. Kenapa dia tidak menyelesaikan masalah Kang So-Young dan Lee Eun-Bi juga?

  Terakhir, menurut saya semua ini tidak adil untuk Go Eun Byul. Menurut saya dia seharusnya jadi pahlawan di drama ini. Karena perannya yang selalu berusaha menyelesaikan masalah saudara perempuannya, menyelesaikan masa lalu kelamnya, dan lain-lain. Tapi ternyata kemunculannya hanya sebentar saja dan jadinya seperti pahlawan yang terlupakan di akhir. Padahal cerita Doraemon saja, meski Nobita selalu ditolong Doraemon, ada ending yang adil untuk Nobita dan Doraemon.

  
  Tapi secara keseluruhan saya merasa puaaas menonton drama ini! Alur cerita baik, pesan pun baik! Pemilihan tokoh saya rasa baik. Lee Pil-Mo memang sesuatu. Saya ngefans sekali, sir!
Kim So-Hyun juga berkembang sekali. Saya ingat saya pertama kali nonton dia di Ma Boy dan aktingnya masih “apa-banget”, tapi saya rasa dia berkembang.. mungkin ke depannya saya bakal ngefans sama dia! Haha. Dalam satu drama dia berhasil menunjukkan dua watak yang amat berbeda tanpa kita bingung dia sedang memerankan apa, saya rasa perlu diapresiasi!



18 years old is too early to fulfill your dream, but it’s a perfect age for that dream to start. It’s painful when you fall, but it’s a perfect age to fall a hundred times and learn how to stand again. We’re immature, it’s easy to get hurt at that age. At that age, you’ll get hurt and have a hard time. Even so, once the time has passed, at that time, you can say your happiest moment was when someone lent a warm hand after you fell.
No more or no less.
When a friend is crying, you step in to help.
“I.. us.. there is nothing that we can’t beat that comes in our way. It’s okay. You can be hurt...since you’re 18 years old.”(Who Are You: School 2015)


P.S: I’m so happy with the fact that I watched this when I was(or am?) 18 years old. Drama ini cukup jadi refleksi diri.. apakah kita udah jadi “ that friend who step in to help
Dan...bullying is uncool. Ada cara lain kok supaya kita bisa menghilangkan rasa iri kita sama orang lain.

May 22, 2015

Q&A: Edisi Calon Maba Arsitektur

Mengingat adik kulo sebentar lagi UN (lulus SMA), dan mulai ada beberapa orang yang bertanya kepada aku mengenai dunia perkuliahan khususnya arsitektur, maka di sini aku akan memaparkan jawaban dari most asked Question (itung-itung membantu orang-orang yang nulis keyword "arsitektur", "apa itu arsitektur", "perkuliahan di arsitektur", atau "arsitektur Universitas Indonesia").

Oh ya, mungkin yang akan aku kasih tahu emang lebih banyak tentang Arsitektur Universitas Indonesia ya. Aku nggak belum sering ikut-ikutan kumpul bareng anak ars lain gitu, tapi kalau lewat line pusing kalau nanya dan jelasin tentang ars di universitas masing-masing. Karena pasti seru. jadi lewat line terlalu sayang!!

Kembali ke topik.

Pertanyaan: Gimana sih cara dapat SNMPTN?
Gak tau ya. Aku gak dapat SNMPTN loh. Aku berpendapat SNMPTN itu memang berasa seperti hadiah. Jadi lebih baik persiapkan saja untuk sesuatu yang lebih pasti.

Pertanyaan: Dulu masuk Arsitektur lewat mana?
Lewat jalur masuk yang sah..
Jalur masuk kan cuma segitu ya.. SNMPTN, SBMPTN, jalur tulis. Nah kulo ikutan itu semua. SNMPTN tidak diterima, jadi daftar SBMPTN dan SIMAK. Alhamdulillah diterima lewat SIMAK (ada bukti printscreennya loh di blog ini haha!).
Anyway, dulu aku pilih Arsitektur Interior loh di SNMPTN. Tapi gak keterima, jadi karena merasa sakit hati dengan UI, aku gak pilih arsitektur interior lagi di SBMPTN terus milihnya univ lain di SBMPTN, tapi tetep aja sih ikut SIMAK. Keluargaku cinta UI. Alhamdulillah keterima. Mungkin cinta keluargaku tak bertepuk sebelah tangan.

Pertanyaan: Arsitektur harus bisa gambar gak?
Tergantung milih mana. Kalau pilih UNPAR, well, kamu kudu bisa gambar. Tapi kalau pilih Arsitektur UI nggak, kok! Kepala departemen kami sendiri yang bilang, Mr. Yandi (biar keren pakai Mr. Anyway kadept kami memang gahul loh..), "UI gak ada tes gambar, karena kami mau orang yang cerdas dalam berpikir." Tapi bisa menggambar itu modal yang oke banget!

Pertanyaan: Tapi bukannya arsitektur itu gambar-gambar?
Ya... Ketika masuk arsitektur terutama di UI, pertama-tama kita bakal dikasih mata kuliah seni rupa, kok! Di sini lama-kelamaan tangan kita terlatih untuk membuat suatu karya, dan akan meningkatkan sense of art kita. Kita akan diarahkan di sini. Tapi ada baiknya kalau kita mencoba dulu, ya!

Pertanyaan: Katanya Arsitektur itu anak-anaknya paling fashionable ya?
(Sebenarnya kulo tak tahu apakah akan ada pertanyaan macam ini, tapi dahulu kala kakak kulo berkata begini, "Hati-hati mati gaya, yah! Anak arsitektur itu yang paling fashionable di Teknik!") Nyatanya...nggak juga. Semua orang nyentrik, kok. Yup. (Padahal fashionable dan nyentrik adalah dua hal yang sangat berbeda) Well, sesungguhnya aku tak tahu fashionable itu apa syaratnya. Dulu zaman maba aku pakai baju dengan baju yang menurut aku oke aja (karena gak ada baju lain), menurut orang warnanya nabrak-nabrak, kemudian ada juga temanku yang berkomentar, "Walaupun baju lo beda-beda warna begini, gara-gara lo pede, gue jadi ngerasa oke aja bajunya, Dur." Intinya aku tidak tahu apa itu fashionable. Yah, bersikap seadanya sajalah, ya.

Pertanyaan: Arsitektur itu belajar apa, sih?
Belajar tentang ruang dan manusia (simpelnya. Bisa saja jawaban ini tidak diterima fasilitator pengantar arsitektur...)

Untuk lebih jelasnya, bakal ada mata kuliah pembuka yang sesuai alurnya, kok! (ga mungkin masuk-masuk langsung disuruh bikin rumah..)
Ok!
Yang jelas, belajar itu seru. Yeay!

April 27, 2015

Hasil Rasa-rasa Goa

Terkadang aku malu tiap ditanya, 
"Anak pecinta alam? Divisi apa? Sudah kemana saja?" 
"Divisi caving (goa), sudah ke goa X, goa  Y.." 
"Woow anak caving. Keren." 
Dan kemudian aku tersenyum, lalu mengalirlah cerita-cerita tentang keindahan goa..

*


Padahal, bagiku goa tidak semenyenangkan yang orang pikirkan, dan yang aku buat orang untuk berpikir seperti itu.

Boro-boro menyenangkan, justru rasanya menyeramkan.
Tapi dibalik segala keseraman dan kemisteriusan sebuah goa, selalu ada pelajaran. Pelajaran yang mungkin kudapat justru akibat akumulasi dari seluruh ketakutanku dalam goa.


1. Diantara semua kegiatan dalam caving, sesungguhnya hal paling mengkhawatirkan adalah melakukan rigging.


Rigging dalam goa macan. Rigging dalam gelap. Yeaha. Terima kasih Thomas Alfa Edison yang sudah membuat lampu!!!

Rigging jelas merupakan salah satu hal utama dan pertama dalam perjalanan goa vertikal. Dimulai dari orientasi medan, mencari tambatan yang tepat dan kuat, sampai ke pemasangan webbing dan segala macamnya. Menentukan sudut dan lalala supaya lebih akurat..Semakin akurat semakin yakin kita untuk masuk ke dalam goa. Kemungkinan selamat semakin besar. Dan di sini timbullah berbagai macam kekhawatiran untuk menjadi sempurna.
Dari proses ini aku sadar betapa pentingnya sebuah persiapan, dan seluruhnya berefek domino dengan bagaimana kita melakukan perjalanan. "The first step", just like what people said, is definitely the most important.


2. Menurutku belum ada perumpamaan sederhana yang lebih cocok untuk mendeskripsikan harmonisasi dari kepasrahan dan usaha seseorang selain ketika dia menggantung pada tali di goa vertikal.


Descending. Saat kaki menyentuh tanah, itulah dasar. Rasanya ketika kaki menapak itu loh.. Alhamdulillah.
Rindu menapak.

Latihan di sekret dengan tali menggantung mungkin tidak semenakutkan itu. Dengan cahaya yang berkecukupan, dengan banyak pasang mata dapat melihat kita dari bawah, sehingga tidak ada rasa kesendirian yang menghantui dan gelap yang menyelubungi, menggantung pada tali memang sekadar "menggantung pada tali".

Tapi ketika aku disodorkan dengan realita dalam goa, ternyata semua itu tidak menjadi "sekadar menggantung pada tali". 


Rasanya, "Hidupku ada pada bagaimana persiapanku kemarin lusa untuk hari ini, bagaimana kekuatanku saat ini, seberapa baik aku mempergunakan alat di tanganku ini, dan seberapa besar keyakinan aku kepada Allah yang menciptakan jiwa raga(aku)  dan orang-orang pintar yang membuat alat-alat ini."

Pengalaman pertama, ketika jarak dari atas ke bawah mungkin memang hanya 15m, dengan tengah tali adalah 7,5m mungkin bukan apa-apa. Lampu senter teman-temanku dari atas daratan maupun dasar goa masih bisa mencapai aku yang menggantung pada tengah tali. Segala kalimat yang mereka lontarkan masih bisa terdengar sayup-sayup di telinga.
Tapi ketika jarak dari atas ke bawah 60 m, bentukan goa vertikal merupakan chamber dengan anchor di dalam goa, dan pertengahan tali dari bagian atas dan bawah adalah 30m? Sungguh aku gak pernah merasa betapa aku sendirian selain saat itu, padahal jarak terjauhku dan teman-teman hanya 30m, (kecuali kalau dalam perjalanan ke goa berikutnya aku lebih jauh masuk ke dalam bumi..). 30meter yang rasanya seperti memisahkan aku dan dunia nyata. 

"Hanya ada aku, seluruh peralatan ini, dan kepercayaanku kepada Tuhan yang Maha Esa." Boleh bilang aku lebay, tapi saat itu memang hanya itu yang kupikirkan.


Tidak ada yang bisa mendengar suaraku, dan tidak ada suara lain yang bisa kudengar. Tidak ada ujung yang bisa kulihat karena bentukan goa chamber dan gelapnya goa sungguh hitam. Sampai-sampai aku tidak berani mematikan lampu senterku, khawatir aku tidak tahu dimana letak senterku yang jelas terpasang di helmku. Tidak kulihat daratan, tidak pula kulihat langit-langit di atas. yang kulihat hanya tubuhku, tali yang menggantungku, dan seluruh peralatan yang menyelamatkanku agar tetap bersandar pada tali ini. Semua bergantung pada usahaku, dan seberapa percaya aku pada Tuhanku.

Dan saat senior divisiku berkata, "Yang paling lama mencapai atas goa vertikal ini adalah Durra, dengan total waktu kurang-lebih 50 menit." padahal seluruh teman-temanku hanya sekitar 30menit, maka saat itu aku cuma bisa berkata,


"....Kak, mental saya turun di tengah-tengah tali. Stamina saya berkurang drastis." Like..DRASTIS

Dan saat itu aku percaya betul bahwa keyakinan memang diperlukan seseorang. To gain some strength, people needs to believe.



3. Kita ini memang benar-benar makhluk sosial. Dan keberadaan orang lain memang bagaikan tetesan hujan di batasnya kemarau (terus nyanyi lagu Hebat-Tangga).



Keberadaan kawan itu sesuatu banget. Anyway, si Digor ini memang agak fotogenik ya.

Hal paling mengharukan yang diberikan Tuhan kepadaku adalah fakta bahwa setelah perjuangan seorang diri itu, kutemukan kembali orang-orang di sisiku *ea.
Saat itu aku yang pertama naik kembali ke atas goa vertikal sedalam 60m, setelah berlama-lama menggantung di tali dan mengeluarkan segala suara yang bisa dikeluarkan kaki, tangan, dan ayat-ayat yang bisa menyelamatkanku dari ketakutan ini, berharap kawan-kawan diatas mendengar rusuhnya gerakanku, suara temanku yang memanggil namaku dari atas goa terasa sangat indah (di situasi biasa, sebenarnya biasa aja) dan menenangkan.

"Durra?"

Rasanya ingin sujud syukur mendengar namaku yang sebenarnya biasa saja dipanggil setelah bermenit-menit tidak mendengar siapapun memanggilku. Tapi gak bisa sujud syukur saat itu, karena aku masih menggantung di atas tali.

"YA! YA! YA! INI DURRAAAA YEAAAY HUHU:'"

Kala itu adalah saat-saat paling menenangkan, paling menyenangkan, dan undescribable. As simple as that, tapi sangat bermakna. Memang. Together we're stronger.(Ya, aku sangat ingat bagaimana kemudian aku jadi semangat kembali mengangkat diriku untuk semakin naik ke permukaan)


4. Hanya dalam goa dengan semua cahaya padam aku tidak tahu apakah aku masih hidup atau sudah mati--jika tidak ada suara dari nafasku dan teman-temanku.
Gelap. Bau tanah. Tekstur tanah. Kelembaban tanah. Semua serba tanah. Bagaimana bisa aku tidak merasa seolah-seolah kita di dalam tanah--terkurung.
Mungkin suatu hari teman-teman harus mencoba untuk duduk diam, lalu matikan senter dalam goa. Maka saat itu, mau mata kita melek ataupun terpejam--gak ada bedanya. Gak ada rasanya. Mau melotot sebesar apapun, tidak ada cahaya masuk. Satu-satunya yang membuatku sadar aku masih di dunia nyata, masih hidup, adalah karena aku dan teman-temanku masih berbicara.
Karena jika tidak ada suara, hanya tetesan air dalam goa, dengan segala bau tanah itu, mungkin lagi-lagi aku merasa sendiri. Dan tiap kali itu terjadi aku bertanya, "Apa aku masih hidup? Apa aku sedang berjalan-jalan di dalam goa, atau sebenarnya, kemarin-kemarin (saat cahaya masih ada), hanya ingatanku akan dunia?"
So scary.



5. Jika teman-temanku cenderung untuk berlama-lama dalam goa, maka aku adalah tipe yang ingin segera keluar dalam goa.

Semenarik apapun ornamen dalam goa, aku tetap ingin keluar.
Di dalam goa membuat aku rindu akan cahaya. 

6. Bagiku goa itu seperti analogi yang orang berikan mengenai dunia. Tempat singgah. Kita masuk ke dalamnya dengan berbagai persiapan, dan membawa pulang sebuah bekal. Dan suatu saat kita akan kembali ke atas. Atas. Kembali ke ATAS.

Like, literally..analogi yang sama (sebenarnya ketika kembali, kita ke tanah sih... tapi kan itu raga kita. Ruh kita?..atas..)
Selalu ada degupan kencang dan semangat yang kuat tiap kali aku akan keluar goa dan melihat cahaya muncul dari balik mulut goa. "Perjalanan ini berakhir, dan aku survive!" 
The best thing in life is knowing that you have passed the storm behind.

*
Jadi, bagi orang yang merasa masuk ke dalam goa itu menyenangkan, tidak masalah. Tidak ada yang salah..memang menyenangkan, kok.
Tapi memang terkadang ada anomali. Buatku. Menyenangkan sih, tapi di sisi lain menakutkan. Goa itu menyeramkan.
Yet I'm still doing it. Why?


Caving touches me. Spiritually.
"Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (Al Kahfi (18):10)
Semoga bisa seperti pemuda-pemuda itu ya :')


P.S: 
-Believe it or not, aku menulis ini dengan tangan gemetar. Dan jantung berdegup kencang (mungkin ini efek dari kopi yang kuminum? atau memang segala pengalaman tentang caving ini memang menyentuh rasa takutku?).
-Foto kuambil dari akun facebook milik KAPA FTUI. Jadi semua foto adalah milik KAPA.
-Terima kasih untuk teman-teman yang sudah tanpa sadar mengarahkanku untuk mencicipi kegelapan dan kedalaman goa. Mungkin kapan-kapan kita bisa sholat berjamaah dalam goa.
-Dengan aku menulis ini bukan berarti aku tidak mau diajak masuk ke dalam goa ataupun jalan-jalan lainnya ya..

The Owner

My Photo
Already 18 ;) The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'