December 30, 2012

Penyumbang Karya Sastra

Siapa? Penulis :)
Mungkin penulis zaman sekarang bahasanya tidak sekaliber Pramoedya Ananta Toer dan sebangsanya, tapi membuat cerita menarik yang beda, menguak isu di masyarakat dengan aluran, dan lain-lain tetap saja hasil sastra, kan? Intinya adalah cerita. Prosa.

Oh, iya, sejujurnya aku juga belum pernah baca Pramoedya Ananta Toer berhubung orang-orang sudah menakutiku dengan berbagai kabar bahwa 'bahasanya sulit' dan lain-lain. Tapi kalau disodorkan, aku ingin kok membacanya. Aku suka melihat buku-bukunya yang terlihat tebal :-|

Pengarang Indonesia. Beberapa pecinta novel terjemahan mungkin menganggap biasa saja, tapi menurutku luar biasa! Kenapa? Karena aku selalu pengen bisa menulis tapi semua berujung..hanya tersimpan di dalam laptop, seperempat, salah, seperenambelas rampung. Hehehe. Kemudian aku bertanya-tanya kenapa aku menulis. Haha. Memang mungkin pengarang Indonesia belum se-"WoooOOOOoooW (sambil koprol boleh)" pengarang luar negeri, tapi, yah, kita harus tetap mengapresiasi, dong!
Sssstt... aku sejujurnya pengen bisa gambar buat cover novel :'| 

Novel-novel dalam negeri biasanya kujadikan sebagai penghilang penatku saat titik kejenuhan berada di puncak tertinggi. Ceritanya yang (biasanya) related-to-life bisa menenangkanku karena dalam sekejap aku sudah berada di dalam cerita.

Dan yang paling kusuka, para pengarang ini sangat amat ramah banget sekali (aku tahu memang tidak efektif kalimatnya, tapi, yaaah..)! Maksudku, memang, sih, mereka bukan artis yang sepertinya sangat sibuk untuk mengobrol dengan fansnya, tapi percaya, deh, sedikit komunikasi dengan penggemarmu bisa membuat penggemarmu itu semakin mengagumimu! Contoh, jika kamu novelis, maka penggemarmu itu bakal beli seri buku-bukumu selanjutnya (apabila bukumu berseri), atau berusaha membeli buku-buku kamu yang lainnya!

Contoh keramahan novelis Indonesia:



  1. Waktu itu aku menulis pendapatku tentang buku Sitta Karina di blog ini, dan kemudian beliau (aku gak enak mau nyebut "dia" :/) komen postku itu! Wiiih rasa senang tak terbayangkan. Saat itu aku masih di SMP dan sesampainya di sekolah, aku menemui temanku yang juga nge-fans sama Kak Sitta Karina dan pas dia tahu kayak gitu, dia langsung rusuh, "Demi apa, Duuurr?!?!?!?!? Enak banget!!!"
  2. Aku waktu itu sangat amat ngefans dengan novel karangan Stephanie Zen dan kemudian aku memberanikan diri untuk mention Kak Stephanie Zen dan dia bales! bodohnya aku malah lupa untuk mem-favorite-kan tweet pertamanya untukku. Tapi, ya, I will definitely do click the favorite button every tweets she gave/will give to me! Ha ha! Dan percaya atau tidak, aku pernah mengirim e-mail ke Kak Stephanie Zen daaaaaaan dibalasss!!! Gils  banget :'D
  3. Aku selesai baca novel Grasshopper karangan Wiwien Wintarto dan aku menuliskan pendapatku di blog daaaan beliau komen postku! Yeay! Super senang! Saat itu juga aku langsung jejingkrakan dan nelepon temanku, Inas, lamaaa sekali yang setelah kusadari itu ternyata hanya membahas seputar "Ituuu loohhh yang buat novel Grasshopper yang kemarin kita baca!! Iyaaa yang itu!!! Dia ngekomen post gueeee omg omg omg omg!!!"
  4. Waktu itu Inas minjemin aku buku Obsesi karya Lexie Xu. Awalnya aku malas-malasan gitu bacanya (karena aku takut sama yang namanya horror). Tapi melihat ini ada konflik psikologis dan bukan horror biasa, aku membacanya. Daaaan, aku mention Kak Lexie Xu dan dia membalas mentionku! Dan aku mention-mention-an ga cuma sekali, yippie!!


Dari Wiwien Wintarto!

Baru itu, sih.. Tapi aku sudah senang banget! Penulis Indonesia dengan sabarnya mau membalas mention ngga jelasku, membalas e-mailku, komen postinganku yang aku gak tahu gimana cara mereka mencapai blogku..yang jelas-jelas terpencil ini :'D


Dari Lexie Xu! 

Aku selalu senang ketika menemukan twitter novelis-novelis Indonesia dan melihat mereka membalas tweet pembaca novel mereka...terasa mengharukan (oke aku emang sedikit lebay tapi gak apa lah ya~)

Menulis post ini, aku jadi ingin berlari ke Gramedia dan membeli novel. Sayangnya aku tidak punya uang. Dan waktu sedang terbatas karena akan menghadapi ujian. Untuk membunuh rasa bosanku, aku.....mendownload beberapa novel karangan Indonesia di e-book. Hiks:'( Maafkan aku. Seharusnya kan aku membeli, ya...bukannya download. Tapi aku gak punya uang-_- Dasar emang Durra, ehehe. Maaf ya para penulis Indonesia yang beken-beken. Aku akan stop mendownload deh. Lagipula aku juga lebih suka baca buku. Non-radiasi, bisa dibawa kemana-mana...tidak bisa meledak dan menimbulkan kebakaran..kecuali kalau kamu baca buku 5cm jaraknya dari api unggun.
Yang paling penting, rasanya memegang buku itu rasanya kayak..jadi orang pintar sedunia! Padahal novel, bukannya buku pengetahuan. :D (Tapi kan novel juga ada amanat  yang gak kalah penting dari buku pengetahuan. Ya, kan? Ya, kan?)

Dan, yap. Aku paling suka novel yang tebal tapi ngga berat (berat timbangannya, ya. Berat beneran._.). Tapi sayang harganya juga jadi ikutan berat :'( Terakhir kali aku ingin membeli novel Tere-liye yang Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Sudah diskon 10%, tetap kurang uang yang kubawa! Rasanya tuh #%$@$(RWF!!
Hih.. yasudahlah. Mungkin lain kali.

Harapanku untuk penulis Indonesia yang peluang untuk membaca post ini mungkin sedikit sekali..
Tetap berkarya! Aku menanti :D Aku menghargai siapa pun yang secara langsung atau pun tak langsung berusaha memajukan Indonesia. (Aku kan anak Paskibra yang baik :D). Kalau ada novel baru kasih tahu aku, ya, hehehehehehehehehe!!
Semoga novel-novelnya bisa penuh dengan amanat (aku suka banget nih yang kayak begini! Apalagi kalau ada motivasi tentang hidupnya. Hihhh, life's not cruel but the people is. Tapi positive thinking aja harusnya, ya. Kan tidak boleh menyalahkan. Eh kok jadi curhat?!).
Semoga novel-novelnya laku seluruh penjuru negeri!! (Jadi Indonesia bisa sangat terpandang. Hehe)

Wish all of the novelists tons of good lucks! I adore you all.
Salam hangat dari penggemar novelis-novelis Indonesia, ihik :'D
Xoxo

November 6, 2012

Masa SMA: Arti Penting Waktu

Aksel + Paskib = Arti Penting Waktu

Semua berawal dari demo ekskul. Pernah gue ceritain kan? Ya, seberapa "wow"-nya mereka di mata gue, yang anehnya menurut teman-teman gue yang lannya adalah hal biasa. Dilanjutkan dengan upacara 17-an, lalu janji kepada diri sendiri ketika mewawancara untuk tugas sosiologi, sampai penjelasan panjang lebar mengenai paskibra yang berujung kepada, "Coba, deh, saya yakin kamu bakal suka sama ekskul ini, karena paskibra itu seru."

Dan ketika beberapa temanku melihatku, mereka bertanya, "Lo anak Paskib." Gak ngerti, tapi mereka berkata begitu. Padahal mereka gak terlalu dekat denganku. Padahal gue gak make badge atau sesuatu yang menunjukkan paskib sewaktu itu. Rasanya, "wow", ketika lo dilihat dan orang langsung tahu lo anak paskib tanpa lo memakai atribut.

"Kalian tuh ngga manfaatin waktu sebaik-baiknya. Kalau tahu waktunya sempit, ya diakalin, lah." - Kak Radit.

Suguhan sehari-hari karena ga beres-beres manajemen waktunya. Yang herannya belum bisa benar-benar didapatkan 'feel'-nya sampai datangnya hari ini.

Di Paskib ini, gue banyak bertarung dengan waktu. Mau gimana? Gue aksel, tapi gue paskib juga. Harus pinter manage waktu. Tapi bahkan sampai saat ini masih dengan begonya ketarik-tarik waktu.

Dulu, gue ga keterima capaska. Harusnya gue bisa aja tuh jadi capaska kalau ikut GC.
Dulu, harusnya gue ikut GC, tapi karena latgabnya baru 4, jadi gak bisa ikut puncak pelatihan+pelantikan GC.
Gak ikut puncak pelatihan = gak bisa jadi capaska 2012.

Sekarang? Gak jadi pengurus.
Gue merasa ini semua kehendak Allah. Buktinya apa? Gue gak bisa ikut puncak pelatihan. Gue sebenarnya udah sampai di kec. Taman Sari, Bogor jam 7 malam, tapi tidak kunjung bertemu. Orang2 yang kami tanya hanya membuat kami berputar-putar di jalan yang sama. Sampai akhirnya, harus mengucapkan selamat tinggal untuk pelatihan puncak.

Tugas? Ga dikerjain. Karena kebingungan tak mendasar.
Dan semua itu memang mungkin benar, karena tidak ada keberanian.

Mungkin ini yang namanya bodoh, jatuh ke lubang yang sama. Kejadian di Paskibra JT atau di Paskibra 81. Bukti konkrit kalau sampai saat ini belum terlalu bisa manage waktu untuk kegiatan lebih dari 1.

Tapi berkat semua ini aku tahu arti penting waktu.
Semua orang butuh waktu. Sebagai patokan.
Dan bagi mereka yang beruntung, juga bisa sebagai teman.
Yang jelas, jangan buat waktu sebagai musuhmu.
Karena ia adalah lawan yang kejam.
Pahami dan berusahalah menyesuaikan dengan dia.
Karena ketika dia sudah menjadi musuhmu dan meninggalkanmu,
Dia adalah satu-satunya hal yang tak akan kembali walaupun kamu memanggilnya sekeras mungkin.
Dan penyesalan tak ada gunanya.

Karena itu, cukup sudah air mata kukeluarkan (ini serius) ketika gak keterima capaska dan ga bisa GC, kali ini cukup setetes dan mendongaklah. Aku bisa jadi pengurus di tempat lain, mungkin. Bismillahirrahmanirrahim.

Btw, besok pelantikan. Akankah ada keajaiban? Hehehe masih ngarep aja. Kayaknya, sih, nggak. Yaudahlahya. Ihik. Selamat malam!

October 18, 2012

16th Firza!

Tanggal 17 Oktober 2012 kemarin, Firza ulang tahun. Selamat ulang tahun yang ke-16 ya, Firza!!!



Apa sih yang spesial dari Firza?
Jadi teman-teman, Firza itu teman sekelas gue. Dia tampangnya biasa aja, kok. Gak seganteng Eunhyuk atau Dong Hyun. Khas Indonesia, lah. Nah, yang lebih pentingnya lagi, dia itu teman SD gue juga! Yeeeeaa!! Reunian, deh, di SMA! Awal mula gue ketemu Firza lagi itu waktu MOS, nyapa doang. Gak tahunya, setelah MOS, kita sekelas di X-6! Wiii!! Dan lagi, Firza dan gue sekelas di akselerasi! Wiiii!! Semoga bisa lulus bareng-bareng dan masuk ke PTN dan jurusan yang diinginkan, ya. Aaamiiin!

Apa sih yang spesial dari sifat Firza?
Dulu, tuh, pas SD gue inget banget, dia tuh selalu bareng Ihsan-Hisyam-Rifki. Buat cerpen bareng, gambar kartun bareng. Bareng bareng bareng. Nah, sekarang, berhubung mereka sudah terpisah satu sama lain sekolahnya, Firza bareng Ilham, deeehh.
Dulu pas SD, Firza sedikit diam. Yaaahh, bukan tipe-tipe anak famous di kelas gitu, yang contohnya Andra, Fikar, Muthia, Malinda, Andina, dll. Tapi, ya, dia bisa unjuk gigi. Wuih.
Awal SMA, Firza lebih diam lagi. Gue sampai harus berpikir ulang tiap kali mau ngomong. Segala kalimat ditelaah. Dan dia irit senyum banget........
Tapi sekarang, Firza asoy banget! Anaknya ternyata bisa bercanda (peace, Za), walaupun bercandaannya terkadang butuh mikir dulu baru ngerti maksudnya.... Bercandaannya jenius. Ha! Dan yang lebih penting lagi, dia enak banget kalau ngajar! Hehe.

Harapan gue untuk Firza?
Sukses selalu, masuk univ&jurusan yang diinginkan(+kelasnya yaaaaa. ACRA!!), lulus bareng-bareng dengan nilai gemilang bersama-sama sekelas, hmmm.. makin alim, pinter, soleh, beriman, hmmmm dan makin  murah hati dalam mengajar. haaa~ Butuh pengajaran neeh!

Yang spesial dari ulangtahun Firza?
Hadiah ulangtahun dari kami sekelas gak muluk-muluk. Diawali dengan lagu Butiran Debu, lagu Happy Birthday to you, Lagu Selamat ulang tahun-nya Jamrud, sampai lagu Coboy Jr yang "Kamu" tp liriknya diubah!


Firza, 16 umurmu
Kok, makin kece kamu?
Tapi, kok, tampangmu
Masih begini :| terus?

Firza, kami persembahkan
Selamat ulang tahun kamu
Ke-16 di hari Rabu
Semoga kamu gak datar melulu!

Yeah, cuma Firza, cuma Firza
Yang bisa buat kita
Nyiptain lagu buat dirinya
Padahal dia selalu jutekin kita

Oh, Firza kami hanya ingin kamu tahu
Kamu kece, kamu sangat keceeee

Sekali lagi, Happy Birthday, yo, Za!

September 2, 2012

Khas Sekolah


3 Hal yang selalu terbayang setiap ada yang berkata, "Sekolah!"


ACRACEOUS (Y)
Definitely is. 2 years together, gitu loh.

Konco-konco Program Pemuda Berprestasi!! ({})
Iyalah, hal kedua yang kutahu setelah kelas, nih :'-)

2012-Paskibra81!!
\(^_^\) Iyalah, the one who taught me lotsa things about life (/^_^)/

Pastikan ada orang yang kamu inginkan bertemu tiap kali kamu pergi ke sekolah, Teman-teman!

July 9, 2012

Durra, The Agent of Change! :D

Hai.

Masih inget School of Volunteers?
Tidak disangka-sangka, aku masuk final. Semua berkat vote kalian! Terima kasih, ya :)
Tapi sayang sekali, Durra belum bisa menjadi juaranya. Tapi tidak masalah, juara atau tidak juara kan hanya masalah dana, ya, nggak? Aku yakin kalau mau diwujudkan sebenarnya bisa saja, tinggal cari sponsor dan sukarelawan (which is not that easy, but...okelah. no problemo~).

Final dari SoV 2012 dilaksanakan di Bandung, tanggal 5 s.d 7 Juli 2012, nama acaranya adalah Volunteering Camp.

Awalnya aku ngerasa gimanaa, gitu. Tanggal 4 Juli kemarin aku berpikir, "Ah, padahal aku mau liburan.... tapi jadi harus menguras pikiran di kala liburan."

Tapi pikiran tersebut SALAH BESAR.

Seneng banget rasanya VolCamp! Ketemu teman-teman super seru nan asyik. Ketemu kakak-kakak senior yang rasanya kayak sebaya, super gaul nan menarik. Yah, pokoknya segalanya super! Super amazing!




Tanggal 5 Juli 2012.



Aku, Sasa, dan Luthfi kumpul di Masjid Al Hidayah, Pondok Bambu. Kurang lebih jam 7 kurang 15 menit, kami sampai di sana. Hebat banget. Berangkat dari rumahku lebih lama dibanding rencana, sampai di lokasi lebih cepat dari rencana.

Di sana aku kenalan sama Maul-Aca-Mika dari Khalifah Crew yang datang beberapa menit setelah timku. Kemudian datang kakak panitia (Kak Caya dan Kak Ellen), dan tim dari Yogya, Zes Zorgen, Tania-Sely (minus David). Beberapa menit setelahnya lagi, datang Izmi-Uyuun-Widy dari SMAN 12 MKS.

Sekitar jam 9 atau 10-an, bis akhirnya datang. Kami naik dan mulai berangkat ke Bandung. Entah kenapa, di jalan, bis mampir ke rest area terus. Awalnya kupikir memang mau ishoma Zuhur. Tapi, kok...jam 13 atau 14-an istirahat lagi? Ternyata bis mogok! Oalah. Mimpi apa aku semalam, kok, hari itu apes..
Saking lamanya mogok dsb dst, aku sama teman-temanku malah ngeramal-ramal jam berapa kira-kira sampai Bandung.

Akhirnya, setelah menunggu berjam-jam, penantian itu berakhir. Bis datang dengan gagahnya. Yes!
Panitia merasa bersalah banget di sini... Aku tahu rasanya pasti gemes-nyebelin-kesel-huah-hiks-hiks di saat bersamaan. Yah, kesalahan teknis apa mau dikata.

Tebak apa? Kami sampai di lokasi: Patuha Resort, kira-kira jam 10 malam!! Woah! Ini ke Bandung apa ke Surabaya.... Yasudahlahya.




Tanggal 6 Juli 2012.
Hari ini fund raising. Hari ini fund Raising. Hari ini fund raising!!!
Deg-degan banget... bakal dapet uang, gak, yah? Moga-moga dapat deh.

Hari ini diawali dengan sarapan, dilanjutkan dengan materi dari Kak Nana. Selesai materi, kami langsung pergi ke panti asuhan dengan bis. Di panti ini, kami harus mengajar anak panti matematika-bahasa inggris-budaya.



Aku sekelompok dengan Tutut dari Sincero. Kami berdua kebagian jatah mengajari Wahyu. Anak panti yang lucu, imut, manis dengan wajah khas asia yang sedikit mirip Minwoo dari Boyfriend tapi sedikit lebih hitam dan tidak bisa dansa. Tapi aku tetap ngefans sama Wahyu. Dia cowok banget! Dia suka main bola dan berharap jadi pemain sepak bola kelak...dan bisa bertemu David Beckham! Kita doakan saja yang terbaik, yah :)

Di panti, aku dan Tutut membuat layang-layang untuk Wahyu. Di akhir acara, ada kuis oleh kakak panitia SoV. Dan bukannya ikutan kuis, Wahyu malah sibuk main layang-layang.-_- Haduh Wahyu....

Had a little shot with Wahyu-Anak ceria lainnya-Tutut :)

Selesai bermain-main dengan Wahyu anak-anak ceria di sana, peserta SoV diberi materi tentang Financial Management oleh Kak Eka. Super penting untuk anak yang suka tiba-tiba bingung kenapa uang di dompet habis, sepertiku!



Dari panti, kami pergi ke Masjid Salman ITB dan memulai Fund Raising di Jalan Dago. Aquavitae beruntung sekali mendapat LO Kak Nissa (maaf ya kak kalau ada salah pada penulisan nama._.), kami dijelaskan ini itu sampai akhirnya, kekhawatiranku selama seharian ini (gak bakal dapat uang pas fund raising) tidak terbukti!!

Selesai fund raising, kami kembali ke Patuha Resort. Eits, tapi tidak langsung tidur. Aquavitae masih terbangun sampai jam setengah 2 dini hari, ngerjain ppt buat presentasi hari esok...walaupun sudah hampir selesai, kami masih merasa belum sempurna. Kami mengerjakan ppt ditemani Sincero :)




Tanggal 7 Juli 2012.
Deg-degan banget! Hari penentuan! Hari terakhir!

Aku bangun superngaret, jam 05:30. Langsung mandi dan entahlah, pemanasan mata melek, mungkin?-_- Sekitar jam 8, peserta SoV makan, lalu jam 09:00 (agak ngaret gitu gara-gara peserta masih tersebar di seluruh penjuru resort), kami mulai presentasi.

Jurinya ganas-ganas, ada Kak Ghea, Kak Iman, sama Kak Putu. Sebenarnya mereka gak ganas, kok, kakak-kakaknya baik-baik! Tapi, ya, namanya juga tuntutan pekerjaan, ada yang tidak jelas, hajar teruuuss!



Selesai presentasi, kami diajak berjalan-jalan ke Kawah Putih, sementara panitia menentukan siapa pemenangnya dan men-setting tempat untuk awarding. Di sini, super seru!!!! Check it out yourself, ya! :)

Aquavitae tanpa 2 orang lagi..

With Bayuuuu~

Peserta SoV2012!

Setelah menikmati perjalanan dan dinginnya Kawah Putih, kami kembali ke Resort untuk Awarding Session. Di sini seru banget! Peserta SoV nampilin performance berupa dansa dadakan+nyanyi dadakan yaitu Laskar Pelangi tapi nggak full, terus panitia menampilkan video yang dibuat mereka, dan itu super kece: video Volcamp Day 1&Day 2, terus ditampilin video profil pertim! Kece banget kece!
Oh iya, Aquavitae dapat penghargaan "The Most Cheerful Yel-yel" dan "The Most Favorite Video", loh! Cieee congrats, yaa.




Sesuai yang kubilang di awal, timku gak menang. Gak apa, karena masih ada banyak kesempatan di luar sana, aku tahu. Pemenang juara 1 adalah Heroes of Humanity dari Bandung. Proyek mereka adalah Cinta Bernutrisi which is so beneficial especially for young man, karena anak-anak muda jaman sekarang paling demen sama yang namanya galau mikirin pacar.
Okay, Congratulation, Heroes of Humanity!

Yang tidak terduga-duga, aku senang bagnet VolCamp! Awalnya kupikir acara yang kayak gini, nih, bakal merampas waktu liburku, acara kayak gini, nih, bakal membuat aku bosan. Tapi ternyata, acara ini membuktikan padaku bahwa, "Pikiran negatif yang lo pikirkan gak bakal terjadi! Optimis, dong!" 
Dibalik musibah ada hikmah. Perjalanan nyaris 12 jam ke Bandung membuat aku makin dekat dengan teman-teman sesama finalis, dan aku mendapat teman baru yang super amazing, the other reason (the first reason is Lee Chong Wei) why the word amazing was made! Dan kakak-kakak panitianya yang super ramah, friendly, humble, membumi, merakyat, men-tanah atau apapun, yang super baik orang-orangnya, membuat aku nyaman banget disini.

Seriously, thanks for making my holiday awesome!

Btw, aku jadi ingat Kak Iman Usman pernah ngomong begini pas awarding session, "Untuk yang belum menjadi juara, kalian harus tetap wujudin proyek kalian, ya! Kalau bisa, buat panitia menyesal karena tidak memilih kalian menjadi juara!" What a..... c'est super!

Senang bertemu dengan kalian, Maul Mika Aca Tania Sely Izmi Uyuun Widy David Bayu Tutut Arif Shinta Azka Manda Marcia Vioni Mahat! And thanks for accompany me in my holiday, Sasa Luthfi! :)

Really wish for another hellos. Sampai bertemu lagi suatu saat, teman-teman!

P.S: Click here to see volunteering camp day1&2's video!
"Don't be dismayed by good-byes. A farewell is necessary before you can meet again. And meeting again, after moments or lifetimes, is certain for those who are friends." -Richard Bach 

source: SoV2012

July 1, 2012

[1] Nasihat Secangkir Teh

Hai. Gue buat cerpen, loh. Percaya, nggak? Tapi nggak seru. Gak mau dibaca gak apa-apa kok. Cuma mau share.
Ini kisah nyata yang ada di sekitaranku, tapi beberapa keadaan ada yang diubah. Apa namanya..based on true story. Just based on bukan kisahnya benar2 begini.
Selamat membaca!

xxx


Nasihat Secangkir Teh
                Durra Zaahira
Dara menikmati angin malam dengan senyuman di bibirnya. Walaupun beberapa keluarga Dara mengatakan angin malam tidak baik untuk tubuh, Dara selalu menyukainya. Malam hari adalah saat-saat dimana polusi tidak sebanyak siang hari, dan udara terasa sejuk saat menyentuh kulit.
                Dara masuk kembali ke dalam rumah. Pintu balkon ditutupnya perlahan-lahan. Dara tidak ingin membangunkan siapa pun hanya karena bantingan pintu.
                Dara turun ke lantai satu rumahnya. Dilihatnya Papanya yang berada di kursi depan televisi. Televisi yang menyala menayangkan sinetron. Tapi Papa tidak melihat ke arah televisi itu. Yang sedang Papa perhatikan adalah koran ditangannya.
“Papa belum tidur?” tanya Dara.
                “Ah, Belum.”
                “Papa tidak lelah?” tanya Dara lagi sambil mengambil cangkir, kantung teh, dan gula dari lemari di dapurnya.
                “Belum. Kamu ingin membuat apa?”
                “Teh, Pa.”
                “Papa minta juga, ya,” pinta Papa.
                “Oke.”
                Dara membuat dua cangkir teh. Satu untuk Papa, dan satu untuk dirinya. Teh hangat memang selalu berhasil membuat perut Dara terasa lebih hangat.
                “Pa, aku ke atas lagi, ya. Aku ngantuk,” pamit Dara.
                “Iya, iya.”
                Dara naik ke lantai dua, dan berjalan ke kamarnya. Kamarnya termasuk yang paling kecil di antara kamar-kamar lain di rumahnya. Kakak Dara, memilih kamar yang besar, sehingga mau tidak mau Dara harus puas dengan kamar yang berukuran 4mx4m.
                Sebelum tidur, Dara menulis sesuatu di dalam bukunya. Selesai menulis, barulah dia berbaring di atas kasur, memikirkan segala sesuatu yang terjadi hari itu, menarik selimut, dan mulai menjelajah alam mimpi.
                Hari esok tiba. Dara bangun dari tidurnya dan dengan segera melakukan rutinitas pagi harinya. Setelah mandi dan merapikan tempat tidurnya, Dara pergi ke ruang makan di lantai bawah. Ditemuinya Mama dan Papanya.
                “Selamat pagi, Ma, Pa,” sapa Dara.
                “Iya, makan dulu, Dar,” kata Mama.
                Tidak lama kemudian, adik Dara keluar dari kamarnya membawa banyak komik yang sedang dan akan dibacanya. Adik Dara kemudian duduk di kursi yang disiapkan Dara untuk didudukinya.
                “Jangan di sini, dong, Fatih!” seru Dara kepada adiknya.
                “Memang kenapa? Suka-suka aku, dong.” Fatih menjawab sambil tetap membaca komiknya.
                “Kursi ini kusiapkan untukku! Bukan untukmu! Jangan duduk di sini!”
                “Siapa cepat, dia yang dapat. Begitulah hukum alam, Mbak.”
                “Iya, tapi, kan, aku duluan!! Jangan ngambil apa yang sudah didapat orang, dong!” Dara tidak mau mengalah pada adik laki-lakinya.
                Mama yang pusing karena pagi yang indah harus dinodai dengan pertengkaran tidak penting, berusaha mengendalikan situasi. “Sudah! Kamu, kan, kakak! Mengalahlah kepada adik sendiri! Lalu, Fatih, jangan makan sambil membaca komik!”
                Dengan berat hati Dara mengalah. Tapi itu seharusnya memang tempat dudukku, pikir Dara kesal. Dara berjalan ke arah dapur dengan menghentakkan kakinya. Diambilnya kantung teh, cangkir, dan gula. Dibuatnya teh di atas meja makan.
                “Papa juga mau, dong, Dar,” pinta Papa.
                “...oke,” jawab Dara agak ketus. Dia masih kesal karena tempat duduk yang sudah dipilihnya diambil adiknya.
                “Dara! Tidak boleh menjawab dengan nada seperti itu!” tegur Mama.
                “Iya, Maaa,” kata Dara ogah-ogahan sambil mengaduk teh untuk Papanya.
                Papa segera menghabiskan teh yang dibuatkan Dara untuknya. “Papa harus ke kantor. Papa pergi dulu, ya, Ma.”
                “Iya, hati-hati, Pa,” kata Mama.
                Bahkan hari Sabtu, yang seharusnya libur, Papa tetap masuk. Posisi pentingnya di kantor memang membuat Papa menjadi orang sibuk yang harus siap sedia apabila dipanggil ke kantor.
                 Malam tiba. Dara tidak berkeinginan untuk menikmati angin malam di balkon kali ini. Dara kemudian memutuskan untuk berdiam di kamarnya dan menulis di bukunya.
                “Dara?” panggil Papa dari lantai bawah.
                “Ya?!” jawab Dara keras. Dia sedang malas sekali beranjak dari meja belajarnya.
                “Tolong, dong, pijit Papa.”
                “Iya, iya.” Dengan malas, Dara berlari-lari kecil ke kamar Papa di lantai bawah.
                Dara lalu memijit Papa. Ini memang hal sehari-hari Dara. Memijit Papa, atau membuatkan teh untuk Papa. Biasanya, Dara memijit Papa sampai Papa tertidur, lalu setelah Dara merasa Papa sudah tidur lelap, Dara akan kembali ke kamarnya di lantai atas.
                Tetapi kali ini ternyata tidak semudah itu. Papa mengajak Dara mengobrol. Akhirnya, Dara baru bisa kembali ke kamarnya satu jam lebih empat puluh lima menit kemudian.
                Padahal aku ingin tidur cepat, walaupun besok adalah hari Minggu, pikir Dara dalam hati. Lagi, dia merasa kesal sekali hari itu.
                Esok hari, Papa meminta Dara untuk membuatkan teh. “Papa mau teh, tolong buatkan, ya,” pinta Papa.
                Dengan ogah-ogahan Dara membuatkan teh untuk Papanya.
                Kali berikutnya, ketika Papa meminta Dara membuatkan teh untuk Papa, Dara mengelak halus.
                “Aku mau ke atas, Pa,” kata Dara. “Mau ngerjain PR.”
                Lagi, suatu hari Papa meminta Dara membuatkan dirinya teh.
                “Aku lagi mencuci piring, Pa,” elak Dara. Setelah selesai mencuci piring, Dara segera kabur ke kamarnya.
                Suatu pagi, Dara dibangunkan oleh suara Papa yang sedang mengaji. Dara melihat jamnya. Pukul 03.00 dini hari. Papa memang rajin sekali. Selalu bangun dini hari, sholat malam dan tilawah Qur’an. Dara selalu bangga punya Papa seperti ini. Tapi.... kadang rasanya malas juga kalau harus terus membuatkan teh dan memijit Papa sampai tertidur.
                Pukul 06.00, Dara ke dapur.
                “Papa boleh minta dibuatkan teh?”
                Dara mencari Papanya yang ternyata sedang membaca koran yang baru dikirim tukang koran pagi itu di ruang tamu. Dara berpikir, apakah dibuatkan saja atau tidak. Karena dia juga sedang tidak ingin minum teh, dan malas membuat teh.
                Pada akhirnya, Dara membuatkan teh untuk Papanya. Aku terlalu sering mengelak, mungkin, pikir Dara. Dara mulai merasa yang dilakukannya kemarin-kemarin itu tidak sopan.
                “Kenapa Papa selalu minta dibuatkan teh?” tanya Dara kepada Papa sambil membawa teh yang akan diberikannya untuk Papa.
                Papa mengambil teh yang diberikan Dara. “Menurut Papa, sesuatu yang dibuatkan orang lain rasanya lebih nikmat dibanding buatan sendiri.”
                Dara memikirkan kata Papa. Benar juga, ya. Tapi Papa juga harus tahu kalau terkadang orang yang dimintai tolong merasa malas sekali membuatnya....
                Dara izin kembali ke kamarnya di lantai atas. Sesampainya di kamar atas, Dara menulis kembali di bukunya, buku hariannya.

            Minggu, 7 Februari 2010
                        Kata Papa, makanan atau minuman yang dibuatkan orang lain terasa lebih enak dibanding buatan sendiri.

                Dara menutup buku hariannya. Buku itu memang terkadang digunakan untuk menulis kejadian-kejadian yang menurutnya patut diingat, tentang perasaan dia, atau tentang kutipan-kutipan yang tidak sengaja dilontarkan dirinya atau orang di sekitarnya.
                Hari Senin tiba. Saatnya masuk sekolah. Dara bangun pagi sekali hari itu, karena hari Senin selalu menjadi hari paling padat dibanding hari-hari lainnya dalam satu minggu. Selesai mempersiapkan buku, dan memakai pakaian dengan rapi, Dara turun ke lantai satu. Supir kantor Papa sudah menunggu di luar rumah, di dalam mobil. Karena searah dengan jalan ke kantor Papa, Dara pergi bersama Papa.
                Sudah pukul 05:45. Papa belum juga siap, padahal sekolah dimulai pukul 06:30. Memang perjalanan dari rumah Dara ke sekolah sekitar 30 menit, masih keburu, tapi kalau ternyata jalanan macet, apa yang dapat dilakukannya?
                “Aduh, aduh, ayo cepat. Sudah jam segini. Nanti telat,” kata Papa.
                Dara segera masuk ke dalam mobil, disusul Papa. Mobil mulai berjalan. Sesampainya di depan kompleks rumah, sesuai prediksi, jalanan sangat padat. “Yah, macet lagi,” keluh Papa
                Dara hanya bisa diam. Aku sudah siap dari pagi sekali, pikir Dara.
                Dara menjadi kesal seharian itu. Tadi pagi Dara telat masuk ke sekolah. Malu sekali rasanya berbaris di barisan anak telat, dan bukan di barisan kelasnya sendiri.
                “Papa mau minta dibuatkan teh, boleh?” tanya Papa malam itu.
                “Tapi aku mau mengerjakan PR, Pa. PR-ku banyak sekali, dan aku belum menyentuhnya..” Dara beralasan agar tidak perlu membuat teh. Bagaimana pun, Dara sudah dibuat telat ke sekolah hari itu.
                Tanpa pikir panjang dan tanpa menunggu kalimat dari mulut Papa, Dara segera naik ke lantai atas.
                Dara terus pergi dan tidak mengerjakan apa yang Papa minta. Padahal membuat teh adalah hal yang mudah. Mungkin tidak sampai lima belas menit untuk mengerjakannya.

                “Aku akan membuatkan Papa teh nanti saja.” Awalnya itu yang aku pikirkan.
***
                Kenapa menjadi seperti ini?
                Beberapa menit yang lalu, tetangga Dara datang dan menggedor-gedor pagar rumah Dara. Mama yang merasa risih, segera keluar dari rumah dan menghampiri mereka. Sesaat setelah mereka mengatakan sesuatu kepada Mama, Mama segera berlari ke arah yang ditunjukkan oleh mereka.
                Dara hanya bisa melihat dari jendela kamarnya. Dia sama sekali tidak punya ide akan apa yang terjadi. Dara melihat jam di ponselnya. 05:00. Masih ada waktu untuk tidur kembali. Dara berbaring kembali di atas kasur dan sedang menutup matanya ketika ada orang yang menggedor-gedor pagarnya lagi.
                Dara mengintip dari jendela kamarnya. “Orang yang tadi,” kata Dara pelan.
                Dara keluar dari kamar dan berjalan ke arah balkon. “Kenapa, Pak?” tanya Dara menunduk melihat bapak-bapak yang berada di depan rumahnya.
                “Disuruh ke masjid sama Ibu, Dik!” jawab bapak-bapak tersebut.
                Dara mengerutkan alisnya. “Memang ada apa, Pak?” tanyanya heran. Mengapa Mama tidak mengatakan apa yang ingin dikatakan nanti saja, setelah pulang dari masjid? pikir Dara.
                “Sudahlah, Dik, Ibumu itu sudah memintamu seperti itu! Lakukan sajalah!” kata Bapak-bapak tersebut dengan nada tinggi.
                Mengapa Bapak yang merasa jengkel? Bukankah harusnya saya? Siapakah Bapak sampai harus memaksa saya? pikir Dara lagi. Dara menaikkan sebelah alisnya. Setelah beberapa saat, Dara menuruti kata bapak itu. “Ya sudah. Saya akan ke masjid. Bapak duluan saja. Nanti saya susul.”
                “Dik, ajak orang rumah. Semuanya, Dik! Termasuk kakak-kakak, adik dan mbakmu di rumah!” seru salah satu bapak yang sepertinya tahu persis jumlah anggota keluarga Dara.
                “Iya, Pak! Nanti saya susul.”
                Dara masuk ke dalam rumah dan menutup pintu balkon. Bersandar ke pintu balkon, Dara berpikir. Hal apakah yang sebenarnya terjadi? Tidak pernah sebelum ini ada bapak-bapak yang menggedor pagar keras-keras hanya untuk menyuruh ke masjid. Pasti ada sesuatu.
                Dara segera memanggil kakak perempuannya yang berada di dalam kamar, “Kak Nita, disuruh ke masjid sama bapak-bapak. Itu, yang tadi menggedor-gedor pagar heboh sekali.”
                Tanpa banyak omong, Nita segera keluar dari kamarnya.
                “Ada apa sebenarnya? Siapa saja yang disuruh ke masjid?” tanya Nita.
                “Semua. Ayo, kita bangunkan Mbak Muri.”
                Kemudian Dara dan Nita membangunkan Mbak Muri dan mengajaknya untuk ikut ke masjid. Mbak Muri menolak. Ingin menjaga rumah, katanya. Padahal Dara yakin sekali Mbak Muri pasti masih merasa mengantuk.
                Nita sudah di depan pintu rumah ketika Dara menahannya, “Sebentar, Kak. Aku disuruh untuk memanggil semua. Fatih dan Kak Bimo tidak tahu apa yang terjadi. Aku akan menelepon mereka untuk segera ke masjid dekat rumah.”
                Dara dengan sigap menekan tombol telepon dan menelepon Fatih yang berada di rumah saudaranya, dan memberi tahu Kak Bimo untuk sejenak meninggalkan pekerjaan mereka dan datang ke masjid atau mungkin ke rumah, jika mereka tak bisa datang pagi.
                “Dar, ayo cepat. Kita pun sebenarnya tidak tahu, kan, apa yang sedang terjadi?” Ucapan Nita menyadarkan Dara. Oh iya. Aku pun tidak tahu apa yang terjadi, pikir Dara kemudian.
                Nita dan Dara segera keluar dari rumah dan berlari-lari kecil ke arah masjid.
                Pasti ada sesuatu. Kalimat itu terus menerus berputar dalam otak kakak-beradik ini.

***
                Minggu, 14 Februari 2012
                        Sungguh, dari awal pun aku tidak pernah menyangka. Aku tidak pernah merasa sesedih ini. Semua terasa hampa. Walau lisannya jarang berbicara. Walau setiap langkahnya pelan terdengar. Tapi segalanya terasa sangat hampa.
                        Senyum hangat yang akan selalu menghiasi meja makan rumah ini menghilang. Begitu pula dengan segala ucapan sayang tersirat dalam setiap perkataan yang jarang diucapkan.
                        Satu hal yang kusadari, aku tak bisa mengulang waktu. Segala yang sudah terjadi, terjadilah. Aku menyesal akan banyak hal, dan aku tak ingin mengulanginya lagi. Tapi rasa bersalah ini akan tetap ada. Aku tahu.
                        Seberapa pun rasa jengkelku padanya, tidak akan mungkin sebesar rasa kagumku padanya. Ketika orang berkoar-koar mengatakan dusta, hanya dia yang selalu terdiam dan melakukan kebaikan. Ketika orang berteriak-teriak menginginkan kesejahteraan, hanya dia yang dengan tenangnya menghasilkan kesejahteraan untuk orang sekitarnya.
                        Aku selalu mengingat bagaimana teh selalu menjadi hal paling hangat di antara aku dan dia saat kanak-kanak dulu. Aku ingat bagaimana dulu aku memberi dia teh dengan garam dan bukan gula.
                        Mungkin kalimat ini tak akan sampai padamu, tapi...
                Dara turun ke lantai satu. Bisa dilihatnya seluruh anggota keluarganya tertunduk dengan muka sembab. Dara hanya bisa tersenyum sedih. Matanya pun tidak menunjukkan hal yang lebih baik.
                Seperti biasa, Dara berjalan ke arah dapur. Mengambil kantung teh, cangkir, gula, dan menuangkan air panas. Berharap akan ada orang yang meminta tolong dibuatkannya teh. Tapi pertanyaan itu tak kunjung datang.
                Dara menghela nafas, “Siapa pun, ada yang ingin dibuatkan teh?”
                               
                        ...semoga engkau tenang di sana, Papa.

June 18, 2012

GELORA: Paskibra81 Rebut Juara 3!

Ini kedua kalinya aku ikut lomba, setelah lomba pertama, yaitu CROPS (aku gak nge-post tentang itu. Waktu itu super males, terus tau-taunya jadi udah lama banget-_-).

Lomba ini diadakan oleh SMA Labschool Jakarta. Nama lombanya adalah GELORA. Kami, Paskibra81 tanding tampil pada hari Minggu, 17 Juni 2012. Apesnya, kami mendapat urutan pertama.

Awal-awalnya, seniorku baru mengatakan bahwa paskibra81 fix ikut lomba satu minggu sebelum lomba dimulai. Gila, bukan? Tapi bukan paskibra namanya kalau tidak siap. Jadilah dalam waktu 6 hari yang masing masingnya mungkin hanya 2-5 jam, kami latihan.

Hari H tiba. Aku jadi pembawa bendera. Deg-degan bukan? Ya, pembawa bendera biasanya cantik super... tapi bukan Durra namanya kalau kecepetan minder. Hadapi dulu lah paling ngga, baru minder.

Yang lebih wow lagi, dengan mendadaknya pengumuman ikut lomba, kami mendapat urutan 1.  Tapi urutan 1 bukan penghalang bagi kami. Malah, urutan 1 adalah keuntungan. Kenapa? Karena kami belum melihat seperti apa sekolah lain. Jadi gak perlu khawatir, grogi, atau merasa bahwa kami akan lebih jelek.

Sedikit arahan dan motivasi dari ketua Paskibra81 angkatan 2011...

Muka Durra, muka siap perang. Ea :)

Keluar dari kandang... Jangan lihat muka gue!! X-(

Aku merasa aku sudah cukup bagus, sampai ternyata aku tahu kalau aku sangat amat kurang senyum banget sekali. Sedihnya :') Senyum tulus, sih, jadinya ngga kelihatan. Kan kalau senyum tulus, ikhlas, ga usah diumbar-umbar, ya gak sih? Kayak kalau kalian ngasih uang buat yang membutuhkan, usahakan tangan kiri tidak melihat. Nah loh. #ngeles.

Dikasih bendera sama temen SMP yang adalah mantan ketua OSIS ArmaZaska!! Wiiii! Inget ArmaZaska, gak, wahai pembaca? Kalau lupa, ayo buka lagi post-postku di tahun 2009/2010!

Ketika pengibar beraksi. Wedeeee :-)

Alhamdulillah yah, latihan 1 minggu berturut-turut membuahkan hasil. Paskibra81 berhasil membawa pulang juara 3. Sayang sekali bukan pembawa bendera terbaik. Ya sudah, sambil menunggu lomba selanjutnya, mungkin aku akan berusaha menghilangkan jerawatku dulu (ga nyambung sangat).

Sekian dari Durra! Sampai jumpa lagi!

Komandan: Aji.
Pembentang: Hari.
Penopang: Isaac.
Pengerek: Luthfi.
Pembawa Bendera: Durra.
Pasukan: Almira, Yosua, Kak Elza, Kak Nadiyah, Edo, Kak Sarah, Kia, Grace.

Proyek AquaVitae

Masih ingat kalau aku ikutan School of Volunteers 2012?

Here comes the time when you will be able to help me and my team!

A Q U A V I T A E

Dan proyeknya...

* READ THE DREAMS *


"Maksud lo dukung gimana, sih, Dur? Masa cuma gue tonton aja udah ngedukung?"
Yap, selain dukung dari hati yang paling dalam dengan bantuan doa, dan lain-lain, teman-teman bisa mendukung timku dengan buka website youtubenya (Klik Di Sini), lalu vote. Cara votenya mudah, tinggal "like" video kami!

Terima kasih! Dukung kami dengan klik vote, untuk menjadi finalis School of Volunteers, 2012! :)

P.S: Jangan lupakan satu hal kawan! Mengutip (dengan sedikit edit) dari salah satu teman paskibraku di Jakarta Timur, yang sepertinya juga adalah salah satu peserta SoV....err... lanjut, "Dukung tim lain kalau memang mereka yang terbaik. Jangan dukung timku kalau memang timku bukan yang terbaik." But just so you remember, di sini, kalian bisa nge-vote lebih dari satu tim! :D Jadi...mohon bantuannya, yaahh ;) Haha

May 17, 2012

My First Super Project!

Kalian tahu SoV?
SoV itu singkatan dari School of Volunteers, acara yang dibuat oleh Indonesian Future Leaders. Dimana SoV ini bertujuan: "Untuk meningkatkan semangat volunteering pada anak-anak SMA dan sederajatnya, dengan membantu mengembangkan tingkat kesadaran mereka terhadap isu-isu sosial dan membantu memberikan pelatihan yang mereka butuhkan untuk melakukan community service." Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai SoV

Pertanyaan kedua, Indonesian Future Leaders itu apa, sih?
Singkat saja, karena gue juga bukan anggota atau staf, hanya orang awam yang baru sekian bulan ini mendengar Indonesian Future Leaders, "Indonesian Future Leaders berdiri sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat yang digerakkan oleh kaum muda pada tahun 2009, oleh sekelompok anak muda usia 17-18 tahun. Dan president-nya Indonesian Future Leaders adalah, Iman Usman.

Segitu saja perkenalan akan SoV-nya, lanjut ke cerita gue :)

Jumat, 11 Mei 2012.
Hari ini gue dan teman-teman gue kerja rodi buat besok, ada roadshow SoV. Jadi, kita harus merencanakan proyek sosial gitu. Karena emang maksud SoV buat melahirkan berbagai ide-ide anak muda yang tidak kesampaian untuk dikabulkan dalam membuat Indonesia lebih baik berdasarkan isu-isu sosial yang ada.

ki-ka: W, Juan, Sasa, Luthfi, May.

Nah, karena kami merasa kalau masih butuh pembaruan atau tambahan-tambahan di dalam proyek ini, jadilah kami berkumpul di McD pangjat (markas di luar sekolah yang muahal).

Sabtu, 12 Mei 2012
Hari ini hari H! Deg-degan? Syukurlah tidak. Gue makin tertarik untuk segera ke lokasi karena kakak gue yang ajaib sekali.

Gue punya kakak, dia kuliah di HI UI. Dan ketika gue bilang gue bakal ikutan SoV hari ini, dia langsung bilang, "Woah?! Nitip salam buat Iman Usman, ya!" Sebagai pelajar SMA dengan pegangan buku pelajaran dan jarang sekali menonton televisi atau mencari berita-berita lainnnya dari dunia elektronik, gue bertanya, "Siapa Iman Usman?"

Kakak gue memasang muka heran. "Dia temen aku." Kali ini gue yang masang muka heran. Dalam pikiran gue, ya terus kenapa? Gimana gue bisa tau Iman Usman yang mana? Kenapa temannya kakak gue bisa ada di sana?

Kemudian munculah penjelasan dari kakak gue. Dan saat itu gue baru tau ternyata.. Iman Usman MAPRES UI. Iman Usman president-nya IFL yang adalah pembuat SoV.

Langsung amazed gitu gue. Gak sabar pengen lihat teman kakak gue yang sangat dibanggakan itu.

Sesampainya di lokasi, gue bawa gitar. Oke, bingung kenapa bawa gitar? begini ceritanya..

Sekian hari sebelum hari H (bukan hari Jumat, ya).
"KITA MAU NAMPILIN APAAA???"
"GAK TAHU! EMANGNYA INI ICE BREAKING KITA YANG NAMPILIN??"
"KALAU NGGAK, KENAPA HARUS DITULIS, 'PILIH SALAH SATU.' DI PANDUANNYA??"
"YA, MANA GUE TAHU!!"
"YAUDAH TERUS MAU NAMPILIN APA??"
"APA AJA BOLEH DAH."
"UDAH, MAIN MUSIK AJA MAIN MUSIK!"
"GITAR AJE GITAR."
Sebenernya, sih, ga gitu percakapannya. Tapi intinya begitu. Dan, harusnya juga gak usah caps, sih. Biar heboh aja gue caps. Xixixi.

Apesnya, gue yang kebagian main gitar. Gitarnya bukan punya gue, tapi. Punya Sasa. 

Ceritanya belum selesai sampai situ. Hari H-sekianmenit, kami masih merasa gundah (._.) dan ingin kepastian, sebenarnya ice breakingnya itu gimana, sih? Kita yang nampilin atau bukan??

Untuk menghilangkan kegalauan dalam diri, akhirnya kami mengutus bos geng ketua kelompok kami untuk menelepon orang-orang SoV.  
Dagdigdug jantung gue..

"Halo?" ucap si ketua. Tidak terdengar jawaban dari orang SoV. Ya iyalah, orang gak di loudspeaker. Hehehe. "Saya mau tanya.." lanjut ketua. "Ice Breakingnya itu harus nampilin apa ya?" 

BAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!
Kalau ada pentungan pengen langsung gue timpuk-_- Bukan itu pertanyaaaaaannyaaaa!!! 

Gue sama Sasa langsung hadap-hadapan dengan muka khawatir+cemas+pikiran gawat-dah-pengen-langsung-gue-ambil-aja-telepon-si-luthfi-biar-gue-yang-ngomong-aja!! (oke yang tentang pikiran itu mungkin cuma gue)

Untunglah di akhir-akhir, Luthfi beneran nanya pertanyaan yang membuat gue cenat-cenut, "Yang nampilin Ice Breakingnya itu siapa?" Dan tebak apa...

ternyata bukan peserta. Ternyata bukan peserta. Ternyata bukan peserta.

YIPPIIIEEE!! Then, gitarnya gimana? Sebelnya, si ketua tetep pengen gue bawa noh gitar. Jebum-_-)---O)X_X) 
Wkwkwk-_- Peace ._.V

Langsung ke acara aja, ya. Jadi di sana kita dikasih materi, dikasih perkenalan dengan isu-isu sosial di Indonesia, yang ternyata banyak banget dan mungkin semua yang sering kita temui bisa dijadikan isu sosial. Mungkin gue yang lebih seneng di depan laptop gue menulis blog atau meng-update twitter daripada membaca buku fisika yang mana gue remed terus kemarin-kemarin, bisa dianggap isu sosial.



Kemudian, sampailah kami dimana harus berkumpul sesuai cluster dan diperkenalkan lebih lanjut mengenai cluster yang kita pilih tersebut.
Kelompok gue, Aqua Vitae, memilih cluster pendidikan bersama satu lagi kelompok yang namanya Ina-One (kalau tidak salah). Kami (kelompok gue dan kelompok mereka) diberikan materi oleh Agus Rachmanto dari Indonesia Mengajar.



Setelah diberikan materi, dll, agenda selanjutnya adalah membuat presentasi mengenai proyek yang ingin dilakukan menggunakan sarana buku gambar, lem, gunting, dan majalah-mejalah bekas.

Selesai membuat presentasi, kami menunggu giliran untuk mempresentasikan rencana proyek kami. Hebatnya, ternyata kami tidak perlu menunggu, karena kami urutan 1!!



"Jadi, nama proyek kami 'Read The Dreams'..........."
Setelah cuap-cuap segala  macam mengenai proyek, datanglah waktu bebas! Di sini May harus pulang karena harus potong rambut untuk capaska.... Sedih sekali jadi berempat doang.

Sekitar pukul 18.00 diberikan pengumuman siapa yang menjadi semifinalis. Dari 9 kelompok (atau 8, ya?) dipilih 4. Termasuk kelompok dengan nama proyek, "R..............ead The Dreams!"

Wiii!!! Senangnya bukan main! Sehari yang tidak sia-sia!!

Bismillah untuk selanjutnyaa^^
Btw, gak ada Iman Usman-nya.. gak bisa nyampein salam deh ._.v

sources: SoV, IFL, TheJakartaPost, SoV_IFL

May 13, 2012

PPB Goes to KOMPAS

Tanggal 8 Mei 2012, PPB (gue-Sasa-Zizi-Luthfi-Juan-Aziz tanpa May) berkelana ke kompas. Ngapain? Rencananya kami akan menulis artikel di KOMPAS MUDA! Wiiiii!

Kami kumpul di jembatan KODAM. Ditemani matahari yang terik, kami bercanda tawa. Awalnya ada May. Kemudian May pulang karena ingin menyiapkan untuk latihan gabungan capaska. Jadilah PPB hanya berenam ke Kompas.

Kami ke lokasi naik 19. Masih bareng May tuh di 19. Ngobrol ngalor ngidul udah kayak gossipers, sampai akhirnya sampai di halte busway cililitan kalau gak salah (karena gue ga tau tempat :P), kami turun dari 19 dan harus bayar 3000 per orang. Di sini kami berpisah dengan Maysari :')

Setelah naik 19, kami naik busway. Awalnya ada sedikit perdebatan. Ya, karena tidak ada yang tahu jalan menuju kompas-nya. Untung ada Zizi, kali ini dia guide busway-nya!

Busway ternyata tidak sesepi yang kita pikirkan. Jauh sekali dari kata sepi. Sangat ramai. Buat napas aja susah. Oke gak lebay, tapi kira-kira begitu.

Entah halte busway yang mana (seperti yang gue bilang tadi, gue ga tau jalan), akhirnya kami turun dari busway sesak itu. Menghirup udara Jakarta yang lebih baik dibanding udara dalam busway, gue bernapas lega. Masalah baru ditemui di sini. Ternyata kami turun di halte yang salah! Harusnya langsung aja tadi!! Antara berterima kasih dan tidak.. Berterima kasih karena akhirnya dibebaskan dari keramaian, dan tidak berterima kasih karena salah halte.

Tapi akhirnya, memang kita harus mensyukuri apa yang ada. Gue dan kawan-kawan naik busway untuk melanjutkan perjalanan yang terpotong, dan busway yang kami naiki sepi! Yah, tetap tidak mendapat tempat duduk sih, tapi yah, it's way way better than before!

Setelah sampai di halte yang tepat, kami turun dan kemudian naik angkot 09 menuju lokasi. Sayangnya, 09 tidak benar2 berhenti di depan lokasi. Kami harus jalan melewati pasar, dll.

Terlihat sedikit menyeramkan..

Setelah berjalan cukup lama yang tidak terasa karena kami ngobrol, akhirnya kami sampai di kompas gramedia! Rasanya menyenangkan sekali setelah panas-panas kami merasakan sejuknya....AC. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 11. Terus kami dapat kartu penanda tamu, yang dipakai Sasa.



Sesampainya di sana, kami menunggu di depan ruangan redaksi. Ruang redaksinya persis seperti yang di film-film! Dan, pintunya hanya bisa terbuka jika alat sensornya disentuh ID card. Kurang keren apa lagi.

Di sana, kami bertemu Mbak Susie, dan mulailah kami membahas mengenai artikel yang akan kami buat. Yah, seperti biasa, kami banyak ngobrol, hehe.



Selesai membuat kerangka untuk artikel, kami diajak Mbak Susie untuk melihat pusat informasi kompas di lantai 4. Keren loh! Dari koran paling lama sampai paling baru dapat ditemukan di sini. Gue ingat bagaimana koran pertama pelan-pelan gue buka, gue bolak-balik halamannya. Kan gawat kalau rusak terus disuruh ganti uangnya=_=

ki-ka: gue, Luthfi, Juan, Sasa, Mbak Susie, Aziz

ki-ka: Juan, Durra, Sasa, Zizi, Aziz, Luthfi
Komputer yang menyimpan artikel-artikel kompas.

Ruangan tempat kompas dikumpulkan. Gak boleh masuk bawa kamera. Fotonya dari luar deh...

Sebelum pulang, kami memutuskan untuk melihat mesin tik super besar untuk terakhir kali, dan foto bersama mesin tik itu.


Dan dalam perjalanan pulang, ada aja yang modus...

(._.)V Peace love and gavl. Durra sayang Sasa-Juan! ^^

May 7, 2012

Tiga Orang Kece: Paskibraka Terpilih

Ok.

Jadi ceritanya, gue gak lolos seleksi paskibraka yang tanggal 5 Mei, yang tahap 2-nya. Sedih? Banget. Tapi untungnya, tahun ini ada peningkatan! Setelah tahun kemarin (tahun 2011) hanya ada 1 orang yang menjadi paskibraka, tahun ini ada 3 orang murid SMA Negeri 81 Jakarta yang akan menjadi paskibraka, 2 putri, 1 putra. 


Kiri-kanan: Kak Radit, May, dan Kak Milka.

Seperti namanya yang menggunakan kata sapaan 'Kak', Kak Radit dan Kak Milka ini sudah kelas 11. Untuk Kak Radit, dia sudah 2 kali mencoba, dan alhamdulillah tahun ini berhasil.. sukses selalu.

Untuk para putri ini, mereka berdua termasuk pembawa bendera terkece se-seantero 81. Muka? oke. Otak? don't challenge them if you're mentally weak. They will easily win. Mereka berdua juga kuat sekali. Terlalu kuat untuk perempuan pada umumnya. Mari namakan kemampuan ini Kemampuan Tamenta.
Kemampuan Tahan Menderita. 
Ya. Mereka ahli sekali memang.

Kenapa May di tengah? Soalnya, May ituuuu temen gue! /sowhat.
Gue jadi inget waktu itu gue teleponan sama dia cuma utk membujuk (kabar buruknya adalah dia di luar Jakarta. Kayaknya jadi mahal sekali itu tagihan. Hope Bunda won't see this)... dan akhirnya, TADAA, you did it, girl!! Gue aja gak masuk /plak-_-

Iri? banget! Gue gak bisa kayak begitu. Tahun depan juga gak bisa. Tapi, ya.. I'm trying not to give up hope. Something that is so hard to do when you know that those who passed....have such beautiful, cool, gorgeous face.

Intinya, gue iri! Hehe.

Oh iya, kabar baiknya lagi, mereka terpilih sebagai salahsatutiga orang-orang yang mengikuti seleksi DKI! Cool, huh!!!

Let's just wish them the best. :)

sources:  Kak Arimbi, May

April 22, 2012

Latihan Terakhir

Inget CROPS? Hari ini gue mau cerita tentang hari terakhir gue dan teman-teman Paskibra 81 latihan untuk CROPS DOZEN.

JUMAT, 20 APRIL 2012

Hari itu hujan turun sebelum sholat Jumat. Untung bendera udah diturunin. Gue dan Almira kemudian memutuskan untuk mengembalikan bendera ke dalam sekre setelah Sholat Jumat selesai.

Sekre yang berada di lantai 2 membuat kami harus melewati tangga. Kemudian gue dengan sok tahunya berkata, "Tangga kalau baki mau mengambil bendera di Istana negara segini, loh, tingginya!" Almira langsung membelokan mata (entah kenapa) dan berkata, "Oh ya??" Gue mengangguk dan tersenyum. Ya... kira-kira lah, pikir gue dalam hati.

Ternyata gue salah ngomong. Karena berikutnya Almira berkata, "Ayo kita naikkin tangganya! Tapi naiknya kayak baki, ya!" Dengan muka heran gue menjawab, "Lo aja, kali! Gue gak mau!" Tapi karena berbagai paksaan dari Tante Almira, akhirnya gue pun ikutan juga...

Ketika ingin kembali ke lantai satu, Almira berkata lagi, "Ayo, Dur!! Sekarang turunnya kayak baki lagi!" Gue melihatnya dengan muka heran lagi, "Gak ah! Malu ya! Gila aje. Kalau ada yang lewat gimana?!" Dan Almira kembali melancarkan jurus paksaannya. Ujung-ujungnya, gue ikutan lagi... pengen nyoba juga sih. Kan penasaran.

Di pertengahan tangga, tiba-tiba ada suara ibu-ibu, "Kalian lagi ngapain?" Dengan wajah panik kami  melihat ke belakang. Oh ternyata Yosua..... Ampun, Yos!T_T Tanpa menghiraukan kembali Yosua (jahat banget ya), kami melanjutkan aksi kami.
Kemudian Yosua mencoba juga! (?!?!?!)
Pengen jadi pembawa bendera tapi gak kesampean. Sabar yak :'

Yosua....

Setelah itu, kami, paskibra 81 latihan terakhir untuk CROPS.



Ketika diberi waktu istirahat, Yosua mau minum. Ketika dia mengambil botolnya, bentuknya sudah abstrak. "Durra, liat nih, bekas pantat lo!!" Aduhai... gue gak sengaja dudukin botolnya Yosua-_-

Yosua dan botol mautnya-_- 


Latihan berakhir pukul 5 sore. Ketika ingin pulang, kami terjebak hujan deras. Sampai maghrib, kami masih di sekolah. Sekolah gelap sekali. Eh, terus si Kia, Luthfi, Hari malah main-mainan lampu. Gah, gue takut banget gelap. Mungkin bukan gelapnya ya, yang gue takutin. Tapi perasaan kalau gak ada orang lain di sekitar gue... Haha iya, gue gak suka sendirian.

Lalu, karena sampai Maghrib hujan belum selesai, akhirnya, sholat di sekolah juga -_-

The Owner

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'